24 Jam di Kuala Lumpur

38

Fast reader silahkan pergi! Dibaca normal hanya butuh 4 menit dari hidupmu.

Kuala Lumpur, sudah nggak terhitung berapa kali saya ke sana. Saya lebih sering ke KL daripada ke ibu kota negara sendiri (baca: Jakarta). Entah itu transit atau hanya sekedar weekend gateway yang berangkat Sabtu pagi dan pulang Minggu malam. Cuma numpang pipis doang terus pulang. Kadang cuma nongkrong sendiri memandangi air mancur menari di Petronas saat malam. Atau kangen makan Burger King di KL Sentral, sebab lebih murah daripada di Surabaya. Dan tidak satu pun artikel tentang Kuala Lumpur yang saya terbitkan di blog ini karena terlalu seringnya dan saya menganggap biasa-biasa saja. Lagipula sudah banyak travel log maupun panduan wisata ke KL bertebaran di jagad dunia maya. Terus ngapain saya nulis juga? Ya terserah guweeeeeh dong. Toh ini panduan ke KL dalam waktu super singkat, hanya dalam 24 jam saja. Tentu saja 24 jam masih kurang untuk eksplor tempat lain di KL. Langsung cekibrot!

Ambil penerbangan pertama ke Kuala Lumpur dari Indonesia, Saya biasanya dari Surabaya. Begitu sampai di bandara klia2 naiklah Fast Train atau ERL menuju Putrajaya. Tiba di Stasiun Putrajaya Sentral carilah booth taksi dan ambil paket tur dua jam keliling Putrajaya. Ada juga pilihan yang lebih murah naik tur bus, tapi sehari hanya ada dua kali keberangkatan. Pukul 11:00 dan 15:00. Kalau rame-rame naik taksi lebih murah, paket dua jam hanya 80 ringgit.

Putrajaya
Putrajaya merupakan kota baru yang dibangun untuk memindahkan pusat pemerintahan negara. Karena Kuala Lumpur dirasa sudah terlalu sesak maka pada tahun 1993 proyek besar membangun kota baru dimulai. Dahulu Putrajaya hanyalah perkebunan kelapa sawit, sekarang menjadi pusat pemerintahan dengan gedung-gedung raksasa. Seluruh kantor kementerian berada di Putrajaya.

Daya tarik Putrajaya tentu saja gedung-gedungnya yang megah berukuran raksasa. Uniknya arsitektur kelas dunia, tradisional dan modern berdiri berdampingan. Danau buatan membentang luas dengan jembatan-jembatan bergaya modern sebagai penghubungnya. Beberapa bangunan bergaya Islam-Arab-Melayu seperti Masjid Putra, Kantor Perdana Menteri, dan Istana Kehakiman, membuat pengunjung serasa di Timur Tengah. Semua suguhan di Putrajaya dijamin membuat mata terbelalak dan mulut menganga karena kagum.

Batu Caves
Puas berkeliling di Putrajaya segeralah kembali ke Putrajaya Sentral dan lanjutkan ke KL Sentral naik ERL. Kemudian transfer naik KTM Komuter menuju Batu Caves di daerah Gombak. Kuil Hindu yang paling terkenal seantero Malaysia. Di sini terdapat patung raksasa Dewa Murugan yang merupakan Dewa Perang setinggi 42,7 meter berwarna kuning keemasan. Untuk ke kuil Hindu yang berada di dalam gua, pengunjung harus menapaki anak tangga yang berjumlah 272 di samping patung Dewa Murugan. Hati-hati dengan monyet liar karena mereka bisa menerkam barang bawaan kamu. Jangan lupa untuk mencicipi Nasi Daun Pisang atau Thali Banana Leaf yang merupakan makanan khas India di restoran vegetarian di kawasan Batu Caves. Kalau kamu sobat miskin pesan saja Chapati, roti India dicocol pakai kari, sambar, dan daal.

Kawasan Dataran Merdeka
Dari Batu Caves lanjutkan perjalanan ke Bangunan Abdul Samad di Dataran Merdeka. Naik KTM Komuter dan turun di Stasiun Kuala Lumpur. Stasiun ini termasuk stasiun tua dan bersejarah. Bisa mampir ke Masjid Negara yang merupakan masjid nasional di samping kantor KTM. Atau langsung naik bus Go KL gratis dari halte dekat masjid untuk ke Dataran Merdeka.

Di Dataran Merdeka terdapat bangunan tua bersejarah paling ikonik di Kuala Lumpur. Abdul Samad Building yang bergaya arsitektur Mughal. Berkunjung ke KL Art Gallery dan berfoto dengan I LOVE KL biar afdol. Jalan santai ke jembatan Sungai Nadi dan sampai di halaman depan Masjid Jamek yang sudah seabad lebih berdiri. Pelataran masjid tua ini terdapat payung-payung besar mirip di Masjid Nabawi Madinah. Lanjutkan jalan kaki ke Central Market dan Kasturi Walk untuk belanja souvenir. Saya sih skip belanja. Mending jajan Air Mata Kucing yang segar dan asam gurihnya Asam Laksa di Petaling Street. Di sini surganya barang KW, dari mulai parfum, tas, baju bermerek, kancut Calvin Klein, dan seabreg imitasi lainnya.

Menara Kembar Petronas
Puas belanja lanjutkan ke Menara Kembar dengan naik LRT dari Stasiun Pasar Seni di dekat Central Market. Turun di Stasiun KLCC, berusahalah untuk keluar dari mall. Meski saya sudah beberapa kali ke sini selalu nyasar di mall ini. Begitu keluar mall, menengadahlah ke atas, kamu akan melihat bangunan kembar tinggi menjulang berdiri kokoh. Ke Kuala Lumpur belum afdol kalau belum berpose di depan Petronas Twin Tower. Waktu terbaik berkunjung ke sini adalah sore hari. Kalau malam di balik mall ada air terjun menari-nari.

Masih ada waktu? Ayo berburu kuliner dan mencoba Nasi Lemak Antarabangsa yang paling legendaris di Kuala Lumpur. Naiklah LRT dari KLCC ke Kampung Baru yang hanya berjarak satu stasiun. Di sepanjang jalan Kampung Baru berderet kedai-kedai makanan. Dari masakan India, Melayu, Cina, hingga Thailand pun ada. Dekat dengan Kampung Baru ada pasar Chow Kit. Di sini surganya masakan Indonesia, mulai dari Soto, Nasi Padang, Sate Maranggi dan lain sebagainya. Atau hanya sekedar ngecek harga Indomie di Malaysia berapa juga boleh haha.

Asam Laksa benar-benar nendang kecutnya

Kuala Lumpur berawal dari desa pertambangan timah yang kecil nan sepi, menjelma menjadi kota metropolis yang modern hanya dalam waktu 150 tahun. Bangunan modern yang menjulang tinggi dan bangunan bersejarah bergaya Mughal bersanding megah. Ragam etnis penduduknya mewariskan budaya yang penuh daya tarik. Masjid, kuil, vihara, dan kelenteng, tersebar di seluruh penjuru. Kekayaan kulinernya siap memanjakan lidah. Dari Nasi Lemak, Asam Laksa, Biryani, hingga Char Kway Teow, semuanya menggoda untuk diicip. Ibu kota negara bekas jajahan Inggris ini menjadi tujuan wisata yang terkenal murah dan menarik karena keragamannya.

Jadi kita jalan-jalan ke mana lagi?

Kaki sudah pegal, hati riang, dan perut sudah kenyang. Saatnya kembali ke bandara untuk mengejar penerbangan kembali ke Indonesia. Duh nggak sampai 24 jam ya? Secara harfiah memang nggak benar-benar di KL dalam 24 jam. Saya biasanya ambil penerbangan pagi ke Kuala Lumpur pukul 6, jadi saya berangkat dari rumah pukul 12 tengah malam. Sampai Juanda paling pukul 3 subuh. Sengaja berangkat jam 12, kalau berangkat jam 2 takut nggak bangun dari tidur dan gagal liburan. Penerbangan pulang dari KL pukul 7 malam dan sampai di Surabaya pukul 9 malam. Naik bus ke Jombang, pas jam 12 malam tiba. Yeah pas 24 jam.

Happy traveling!

38 COMMENTS

  1. Aku belom pernah ke Putrajaya. Eh apa pernah ya, lupa. Yang istana baru itu di Putrajaya bukan sih? Kalo iya berarti pernah. Tapi gak kerasa explore cuma ke sana doang.

    Aku ga pernah naik kereta dari KLIA2. Naik bus mulu penghematan haha. Tapi bolehlah kapan-kapan coba rute yang sama kayak di tulisan ini.

    • Istana yang mana hayooo? Dulu waktu AirAsia turun di LCCT aku sering loh naik fast train. Semenjak di klia2 aku juga mending naik bus aja. Yang boneng harganya naik berlipat-lipat huhu. Klo gak salah inget dulu selisih hanya 5 ringgit naik kereta dengan naik bus.

  2. Akupun lbh srg bolak balik KL drpd tempat2 lain :p. Kebanyakan memang transit, tp sesekali ngabisin wkt utk weekend ama suami :D. Cm aku jrg mau ngoyo kalo udh kesana. Dulu iyaa, kuat deh jalan dari pagi sampe malam. Skr ampuuun mas.. Mnding pelan2 asal kelakon :p. Palingan yg aku lakuin kalo weekend ke KL, kulineran lah 😀

  3. salam kenal! aku gagal fokus liat foto fotonya, ternyata dirimu banyak inovasi gaya berpose ya mas! *kemudian mencatat pose-pose tertentu untuk ditiru tentunya*

    terimakasih sarannya buat sobat miskin (seperti saya), besok kalo ke batu caves mau pesen chapati aja. Sambelnya bawa cocolan sendiri *semakin irit*

Leave a Reply