Ada Pawai Ogoh-ogoh di Jombang

74

Fast reader silahkan pergi! Dibaca normal hanya butuh 3 menit dari hidupmu.

Bukanlah sebuah ritual atau tradisi lama yang diturunkan oleh nenek moyang, bukan pula ajaran Hindu, tidak tertulis pula di kitab suci Weda. Ogoh-ogoh menjadi begitu populer ketika tahun 1983 pemerintah Indonesia mengukukuhkan Hari Raya Nyepi sebagai hari libur nasional. Saat itu umat Hindu di Bali mulai membuat semacam perwujudan Bhuta Kala untuk menyambut Nyepi yang dimaksudkan prosesi pengembalian Bhuta Kala ke asalnya. Sekarang Ogoh-ogoh menjadi semacam ritual wajib yang dilaksanakan sehari sebelum Nyepi. Bisa dianggap budaya baru yang disakralkan.

pawai-ogoh-ogoh-jombang-alidabdul.jpg.jpeg

Ogoh-ogoh dibuat besar dan megah dari berbagai bahan dengan wujud menyeramkan. Di Bali sendiri sudah melarang penggunaan gabus atau styrofoam karena tidak ramah lingkungan. Tidak hanya berupa raksasa yang menyeramkan tapi juga ada wujud-wujud penjelmaan dewa, tokoh pewayangan, serta figur yang sedang hits saat ini.

Di Jombang ada sekitar 1000 umat Hindu dan 75% bermukim di Wonosalam, maka tidak ketinggalan mereka juga menyambut Hari Raya Nyepi yang jatuh tepat pada tanggal 9 Maret 2016 dengan pawai ogoh-ogoh keliling desa.

pawai-ogoh-ogoh-jombang-alidabdul-3.jpg.jpeg

pawai-ogoh-ogoh-jombang-alidabdul-4.jpg.jpeg

Ritual mengitari perempatan

Sejak 2 tahun lalu saya sudah mendengar kabar bahwa di Wonosalam, Jombang, rutin diselenggarakan pawai ogoh-ogoh secara meriah. Dan saya sebagai putra daerah yang selalu dielu-elukan merasa gagal karena saya belum pernah sekalipun menyaksikan pawai tersebut. Hiks. Tapi tahun ini saya meluangkan waktu untuk datang dan menyaksikan sendiri pawai ogoh-ogoh di Wonosalam.

pawai-ogoh-ogoh-jombang-alidabdul-11.jpg.jpeg

pawai-ogoh-ogoh-jombang-alidabdul-6.jpg.jpeg

Butuh waktu sekitar 1,5 jam untuk mencapai Wonosalam dari Ploso. Walau masih satu Kabupaten tapi kampung saya ada di utara dan Wonosalam tempat berlangsungnya acara ada di pucuk selatan Jombang. Dari informasi yang saya dapatkan bahwa arak-arakan ogoh-ogoh dimulai pukul 12 siang sampai denngan selesai.

pawai-ogoh-ogoh-jombang-alidabdul-2.jpg.jpeg

pawai-ogoh-ogoh-jombang-alidabdul-15.jpg.jpeg

pawai-ogoh-ogoh-jombang-alidabdul-16.jpg.jpeg

Sebelum ogoh-ogoh diarak, umat Hindu melaksanakan upacara Butha Yadnya di Pura Kayangan Pacaringan di Dusun Ganten, Wonomerto, Wonosalam. Kemudian dilanjutkan dengan Tawur Agung yang bermakna mengharmonisasikan jagad; manusia dengan Tuhan, manusia dengan manusia, serta manusia dengan alam. Semuanya harus seimbang dan segala hal yang buruk harus dihilangkan baik sifat buruk manusia maupun hal buruk di alam. Sifat-sifat buruk tersebut dilambangkan sebagai bhuta atau setan.

pawai-ogoh-ogoh-jombang-alidabdul-18.jpg.jpeg

pawai-ogoh-ogoh-jombang-alidabdul-8.jpg.jpeg

Setelah Tawur Agung dilakukan Pengerupukan dengan menyebar nasi tawur, mengobori serta menyembur dengan mesiu seluruh rumah dan pekarangan, memukul benda apa saja yang bisa digebuk hingga menimbulkan suara gaduh dan ramai. Tujuannya untuk mengusir setan sehingga umat Hindu bisa tenang melaksanakan Catur Brata Penyepian. Ogoh-ogoh sendiri termasuk dalam ritual Tawur Agung yang diarak keliling yang akhirnya dibakar.

pawai-ogoh-ogoh-jombang-alidabdul-9.jpg.jpeg

pawai-ogoh-ogoh-jombang-alidabdul-12.jpg.jpeg

Dari Pura Pacaringan ogoh-ogoh diarak sampai finish di area Perhutani Galengdowo dengan total jarak sekitar 3 km. Walau tidak semegah dan sebesar di Bali tapi sangat meriah untuk sekelas Jombang, meskipun saya sendiri belum pernah menyaksikan yang di Bali. Yang patut diacungi jempol adalah kerukunan antar umat beragama di sana dijunjung tinggi. Hal tersebut saya ketahui dari obrolan singkat dengan mas-mas pengamanan pawai.

pawai-ogoh-ogoh-jombang-alidabdul-13.jpg.jpeg

“Warga di sini begitu mas, kalau hari Raya Idul Fitri yang Kristen dan Hindu bantu-bantu. Saat Natal yang Hindu dan Islam juga bergantian membantu. Kalau ada perayaan Hindu semacam ini semua juga turun tangan bahu-membahu bekerja sama demi menyukseskan acara tanpa memandang agama”. Ujar mas-mas pengamanan pawai dengan tegas dan bangga.

pawai-ogoh-ogoh-jombang-alidabdul-14.jpg.jpeg

Pemikul ogoh-ogoh yang terkilir

Ukurannya tidak sebesar di Bali tapi saya yakin pasti berat memanggul ogoh-ogoh. Apalagi bawanya harus diogoh-ogoh yang berarti digoyang-goyangkan. Belum lagi di beberapa titik pemberhentian digoyangnya sambil memutar. Tak ayal sang penandu ada yang jatuh terpelanting bahkan sampai ada yang terkilir. Selain ogoh-ogoh yang diarak oleh orang dewasa ada juga yang diarak oleh anak-anak kecil. Cara bawanya juga sama digoyang dan diputar-putar tapi tidak sekencang orang dewasa jadi aman dari kecelakaan. Musik khas Bali hanya ada di awal barisan pawai, selanjutnya musik-musik rock dangdut yang mendominasi. Duh rusak sudah suasananya gara-gara lagu Goyang 25 dan Sambalado hiks.

pawai-ogoh-ogoh-jombang-alidabdul-19.jpg.jpeg

Akhirnya semua dibakar di sini

Kabupaten Jombang memang majemuk dengan masyarakatnya yang beragam. Julukan sebagai Kota Santri tidak melulu acaranya harus pengajian. Pawai ogoh-ogoh umat Hindu dan Festival Unduh-unduh sejak ratusan tahun oleh umat Katolik menjadikan bukti bahwa Jombang layak menyandang sebagai City of Tolerance. Yuk mari datang ke Jombang dan temukan hal-hal yang menarik. Ketemu artis hits macam saya misalnya bhuahaha.

Wonderful Indonesia

74 COMMENTS

  1. Iya, tapi nanti kalau saya ke Jombang ajak kemari ya Mas, sekalian sembahyang :hihi. Agaknya jauh ya dari kota Jombang? Ramai nggak sih Mas kemarin pawai di sana? Saya lihat di foto kayaknya nggak terlalu ramai :hehe.
    Hey pawai ogoh-ogohnya kayaknya masih dalam bentuk aslinya (ogoh-ogoh dibakar sampai habis), terus sosok yang ditampilkan masih bhuta kala yang seram-seram. Soalnya di Bali dan Lombok sendiri mulai ada pergeseran makna ogoh-ogoh ya, yang ditampilkan malah sosok dewa-dewi. Dan di Jombang unik ya, ada gunungan canang tegeh dibawa terus ada iring-iringan keris juga.
    Toleransi di sana keren banget!

    • Eh ada om Gara, duh nulis ini aku selalu terbayang-bayang om hahaha, takut ada yang salah 😀
      Hayuk sini om, di Wonosalam ada 8 Pura, tinggal pilih yang mana ehehe. Ya memang agak jauh dari kota, hampir sejaman. Eits itu sih pinter-pinter saya yang motret kelihatan sepi dan dapat spot turunan tanjakan, yang tanjankan sepi wakkakka. Warga menyaksikan di sepanjang jalanan dan paling ramai dekat perempatan dan finish. Saya aja pas selesai hampir sejam duduk di motor nunggu sepinya manusia membubarkan diri.

      Dan saya gak paham itu gunungan canang tegeh hihi, yang bawa keris itu memutari perempatan beberapa kali, saya juga gak paham, mungkin om gara lebih paham 🙂

  2. Wah menarik banget nih! Ini umat Hindu di Jombang hanya tersebar di Wonosalam aja kah Mas? Atau juga di beberapa kecamatan lain? Tapi kalau ditelisik, mereka biasanya kalau bermukim di suatu tempat tidak jauh dari gunung. Seperti kampung Hindu di Wagir di kaki gunung Kawi. Tapi salut banget memang kerukunannya. Saling bantu-membantu di setiap acara keagamaan. Santai-santai dan kalem aja, gak ngurusin di luar sana yang sering berembus isu SARA 🙂

    • Kebetulan memang terkonsentrasi di Wonosalam sampai ada sekitar 8 Pura dan emang iya rata-rata mereka hidupnya tidak jauh dari gunung. Wonosalam kan berada di lereng Gunung Anjasmara. Ah yang SARA masih kurang pikenik wekekeke

    • Siapa yang menyangka ehehehe, Jombang unik kan? Walau dijuluki Kota Santri tapi di dalamnya banyak hidup orang-orang dengan latar belakang dan agama berbeda. Yang penting rukun dan saling hormat menghormati 🙂

  3. wah keren mas Alid jiwa petualang yang all out, mantap mas.
    klo saya kadang lupa foto pas ada kejadian menakjubkan, jadi sering bilang “yah lupa difoto” hehehe

  4. kirain di bali tadi fotonya mas…ternyata di wonosalam…dan lebih mirisnya saya juga baru tahu kalo diwonosalam ada umat budha yang jumlahnya tak sedikit…apalagi informasi pawai ini…rasanya baru dengar dari blog mas alid ini 🙂

  5. Komentator jenenge Alris kui rausah mbok anggep. Dee komen selalu nggateli. Gahahaha.

    Btw, aku pertama delok ogoh ogoh ndik Semarang. Koyoke ndik Kediri yo enek Lid cuman aku gak ndelok. Males hahaha

    • Sebagai seleb aku kudu selow gak nggatekno wong nggateli hahaha…

      Nang Kediri endi? Kota opo deso? Ramean di Medowo, Kandangan, Kediri. Sebab nang kono jek akeh umat Hindu. Karo Jombang luweh cedak, karo Nganjuk yo adoh makane males hahaha

  6. Memang budaya di Indonesia begitu banyak, dan itu di mana-mana.
    Budaya seperti ini jangan sampai hilang dan tetap terus ada, dan semoga umatnya terus rukun dan menjalankan ukhuwah yang tak pernah putus.

    Cinta dunia dan akhirat.
    Ayo kita usaha dan mencari ilmu dunia dan akhirat yang dapat manfaat bagi orang lain.
    Semangat mas ali, artikel serta refensinya bagus2 mas.

    Ini mas aku ada sedang menjalani usaha.
    Boleh dikoreksi nih sama mas ali. “Usaha demi Masa Depan”

  7. Sebagai blogger abal-abal, aku merasa amat tersanjung pernah ke Wonosalam dengan artis dan blogger paling HITS se-Jombang.
    Btw, Ogoh-ogoh ini upacaranya agak-agak mirip dengan Sembahyang Hantu di Bangka. Dewanya digotong ramai-ramai terus dibakar. Itu doang sih kemiripannya. Tapi inti dari upacaranya sendiri jauh berbeda.

  8. ogoh2 ini ingetin aku ama perayaan guy fawkes di Inggris.. Boneka guy fawkes dibakar juga, lengkap ama kembang api yg meriah..

    belum pernah ngeliat ogoh2 secara lgs mas.. aku sih penasaran ama reaksi anakku kalo ngeliat patung ogoh2 serem begitu 😀

  9. Keseruannya udah kayak pawai ogoh-ogoh di Bali aja ya mas haha
    btw ngehits di mana tuh mas? Perasaan ngga terkenal deh… hahaha kabur…

  10. owwhh wong nJombang tho Mas. Salam kenal, kunjungan balik. Ternyata blogger femes seantero nusantara haha *sungkem. Aku dulu sering ke Jombang, soale konco2 kuliah akeh sing teko Jombang, plus pasti lewat Jombang lek arep nang Nganjuk omahe Mbah *lah iki malah mbahas Jombang :)))
    -deny-

  11. ternyata di jombang ada ogoh-ogoh juga ya… saya sebagai orang bali merasa bangga dan terharu… gak kalah sama bali, mantep juga ternyata di sana… itu bisa menjadi daya tarik wisatawan yang ingin berkunjung melihat tradisi dan budaya yang unik dan berbeda.

  12. Wah..di Jombang juga ada toh. Saya pikir cuma di Bali dan Lombok saja. Saya pertama kali lihat pawai ogoh-ogoh ini tahun 2012 di Lombok. Agak kaget sih, soalnya kan sebelum-sebelumnya pas tinggal di Makassar gak pernah tuh lihat ginian 😀

  13. hampir tiap tahun nonton pawai ogoh ogoh di lombok.

    tahun tahun terakhir ini bentuk ogoh ogoh di lombok mengikuti perkembangan jaman, misalkan aja ogoh ogoh lagi pegang tongsis alias selfie, heuheuheu

  14. wah, ternyata di jombang ada budaya yang unik semoga tetap dilestarikan untuk menjaga kekayaan budaya indonesia

  15. Di Jayapura juga kemarin ada pawai ogoh2 yang dipusatkan di pusat kota, deket banget sama kantor.
    Keren sih ritualnya.
    Apalagi gak kebayang buat ogoh2nya ribet banget pasti. Tapi hebatnya hasilnya selalu keren, bahkan kadang suka serem sendiri lihatnya. Hahaha.
    Kamu gak ikutan mangguh ogol2? Lumayan kan diet, wkwkkww

Leave a Reply to DoNurdians Cancel reply