Bersimbah Peluh di Melaka

39

Fast reader silahkan pergi! Dibaca normal hanya butuh 3 menit dari hidupmu.

Yeah Malaysia lagi, Kuala Lumpur lagi, apa lagi yang bisa dilihat? Begitulah komentar beberapa teman ketika tahu saya akan ke Kuala Lumpur lagi. Maklum saja, paspor saya penuh dengan cap imigrasi dari Negeri Jiran tersebut. Iseng menghitung berapa kali saya menginjakkan kaki di Malaysia tersebut ada sekitar 8 kali saya keluar masuk negeri tersebut, termasuk transit keluar imigrasi tapi tidak keluar dari bandara LCCT. Bahkan saya hampir hapal sudut LCCT dari ujung ke ujung kecuali parkiran mobil hehe. di LCCT saya tahu di mana toilet yang okeh banget buat mandi, saya tahu di mana tempat buat ngemper yang paling nyaman, spot wi-fi yang paling stabil juga saya tahu di mana harus mencarinya.

Dari kanan Saya, Jardness, Adit bergaya ala Chibi-Chibi :p

Tapi dari sekian kunjungan saya ke Kuala Lumpur tidak pernah sekalipun saya berkesempatan mengunjungi Melaka. Sudah lama saya memimpikan bisa menjelajah di kota tua tersebut, kota yang sering disebut-sebut dalam buku sejarah dan juga disebut dalam film Saur Sepuh. Eits Saur Sepuh, itu film lama dan kesannya saya tua banget yah hahaha. Oh tidak, saya penyuka film dan sering mendengar bahwa film tahun 80an tersebut sangat terkenal di Jamannya dan salah satu film kolosal terbaik di Indonesia. Jadi tentu saja saya berburu CD-nya karena penasaran. Nah di Saur Sepuh V tersebut diceritakan ada dua Biksu yang mengembara ke Melaka dan bertemu dua Pendekar dari Jawadwipa, ah saya tidak ingin menceritakan filmnya. Jadi untuk menuntaskan mimpi saya ke Melaka saya harus dan wajib ke Melaka apapun yang terjadi.

Christ Church Melaka, Gereja paling bersejarah di Melaka

Kali ini perjalanan saya ditemani @aditkecill dan saya pun sudah janjian untuk keliling Melaka dengan kawan saya yang merupakan blogger paling terkenal seantero Malaysia, Jardness. Lihat postingan Jardness tentang Melaka di sini dan maaf ya foto saya terlalu ganteng di blog dia haha. Begitu mendarat Jardness dengan kawannya Radeep yang asli Nepal sudah menunggu di luar bandara. Sungguh terharu, belum pernah seumur-umur saya dijemput orang di bandara dengan bawa tulisan “MR. ALID GANTENG” huwahahaha oke saya lebay.

Singkat kata singkat cerita kita langsung menuju Melaka, Jardness nyetir mobil seperti orang kesetanan dan saya di belakang hanya bisa pasrah dan berdoa supaya jangan mati sekarang karena saya masih perjaka #gubrak. Di Malaysia jalan tol memang lebar-lebar jadi kecepatan 120km/h katanya sudah biasa. Satu setengah jam kita sampai di Melaka, setelah parkir kita langsung siap-siap dengan senjata masing-masing untuk menjelajah Melaka.

A’Famosa Fort

Kesan pertama begitu tiba di Melaka adalah PANAS membabi buta, mungkin suhu sekitar 30-35 derajat celcius. Nah apa yang ditawarkan Melaka kepada pengunjung adalah banyaknya bangunan-bangunan berarsitektur Portugis dan Belanda yang masih terawat dengan baik. Melaka dinobatkan sebagai Warisan Budaya Dunia oleh UNESCO pada tahun 2008 bersamaan dengan Georgetown di Penang. Menurut sejarah Melaka awalnya hanya kampung nelayan dan didirikan oleh Parameswara Pangeran Hindu dari Jawa. Dan menurut sejarah pula Melaka pernah diserang oleh Majapahit di Jawa.

St. Xavier’s Church

Malacca, Melaka, Malaka, ah apapun itu tapi katanya nama Melaka diambil dari nama tanaman Melaka sejenis buah beri liar tapi beberapa ada yang bilang berasal dari Bahasa Arab “Malakat” yang berarti “Pasar”. Melaka menjadi besar karena letaknya yang begitu strategis karena berada di titik paling sempit di Selat Melaka. Kapal-kapal besar dari berbagai wilayah lalu lalang melakukan perdagangan di sini. Sejarah mencatat Laksamana Islam Cheng Ho juga pernah menginjakkan kaki di Melaka, tak heran jika di Melaka ada museum Cheng Ho. Kenapa jadi bicara sejarah yak? Grrrrr…

Museum Maritim berbentuk kapal, kita terlalu pelit jadi tidak masuk

Menikmati bangunan tua kota Melaka sambil bersimbah peluh itu sesuatu banget, kami sebagai turis Indonesia sempat membuat Jardness menangis berdarah-darah dengan kelakuan kita. Kami dua bocah tengil di Jombang dikenal dengan julukan Arseto alias Arek Seneng Foto hehehe. Jadi begitu kamera nyala kita langsung bergaya bak model terkenal, loncat sana loncat sini, bibir monyong kesana kemari hehehe. Tapi tenang kita nggak ganggu mereka kok, ditemani kawan paling setia saya dalam mengambil gambar, yeah I love my tripod. Intinya kita itu narsis hahaha. Radeep yang dari Nepal begitu ngotot untuk melihat laut karena dia dari negara yang tidak mempunyai laut. Dia juga begitu antusias melihat kapal-kapal boat yang berlabuh. Meskipun harus kecewa karena pantainya tidak seindah yang dibayangkan.

Dari kiri Adit, Radeep, Jardness, dan si Ganteng.

Tidak sampai jam 4 sore kita memutuskan untuk hengkang dari Melaka dan menuju Kuala Lumpur. Sebenarnya saya ingin menikmati suasana malam di Melaka tapi berhubung liburan saya kali ini sangat terbatas waktunya jadi saya harus pandai-pandai menghemat waktu. Happy traveling!

 

39 COMMENTS

  1. Jiaaaah menggantung endingnyaa!
    eh itu gereja di klang juga ada loh model begituan.. yakin itu di melaka? aku kok ga ketemu yaa.. dan aku melewatkan fort itu haiyyaaaaa balada malaka ku kwkwkwk

  2. beuh, cuma segitu aja? next time kamu harus menginap di Melaka. Jalan2 di Jonker Street itu cetarr banget loh. haha. Saya pun minggu lalu ke sana lagi, tunggulah di blog ya 😉

Leave a Reply