Chittorgarh Saksi Bisu Kemegahan Kerajaan Mewar

44

Sudah lebih satu jam saya menahan sampai keringat dingin, dan kereta belum juga sampai tujuan. Pertahanan saya sudah mulai goyang, tetapi saya masih berusaha kuat untuk bertahan. Mulut saya komat-kamit “jangan sampai jebol, jangan sampai jebol”. Tahu kan perasaan kebelet level dewa yang nganunya sudah di ujung tanduk. Toilet dalam kereta sungguh tidak manusiawi, jadi saya memilih untuk menahan buang hajat. Sudah 10 jam kereta melaju dari Delhi, seharusnya sudah sampai di Chittorgarh. Bukan rahasia umum, kalau kereta di India memang hobi banget telat.

Begitu kereta berhenti sempurna di stasiun, saya segera berlari mencari toilet untuk melakukan ritual pagi. Masuk toilet hasrat untuk buang hajat lenyap seketika saat melihat gundukan mengerikan berwarna kuning kehitaman. Ditambah bau pesing yang sangat menyengat hidung. Arrrrggghhhhhh rasa kebelet yang sudah saya empet sejak satu jam lalu secara ajaib musnah sudah. Sudah nggak ada keinginan untuk buang air. Saya cari tempat duduk untuk menenangkan diri. Saya keluarkan tisu basah untuk mengusap wajah yang sudah kusut sejak semalam. Saya bilas wajah dengan air minum, wajah jadi fresh dan saya sudah ganteng lagi. Nggak mandi adalah bumbu dari sebuah perjalanan, rekor terlama saya nggak mandi saat traveling adalah tiga hari hwehehehe.

Masih di tempat duduk yang sama, saya sarapan biskuit sisa kemarin. Aktivitas di stasiun pagi itu cukup lengang. Maklum saja Chittorgarh memang kota kecil. Saya mendekati mas-mas di kursi sebelah dengan niat meminta bantuan untuk tethering wifi. Dia memberikan kata sandi tanpa pertanyaan. Dengan Bahasa Inggris terbata-bata kita mengobrol basa-basi. Dia tidak menyangka kalau saya orang asing. Kata dia, sekilas saya mirip dengan orang lokal. Mungkin kalau saya mulai bernyanyi lagu-lagu Hindi dengan fasih dia bakalan lebih terkejut lagi hwehehehe.

Dia bahkan tidak tahu Indonesia itu di mana. Saya sih maklum, nggak semua orang peduli dengan keadaan dunia luar. Lha wong saya saja punya banyak teman yang tidak tahu banyak sesuatu di luar kota dia tinggal. Mati urip hidupnya di Kabupaten saja. Apalagi bagi saya, Chittorgarh adalah antah berantah yang sebelumnya saya nggak pernah tahu. Saya mungkin nggak bakalan pernah datang ke kota kecil ini jika tidak melihat film Padmavaat.

Film memang salah satu media yang memberikan saya banyak ide tempat-tempat liburan. Sebelum saya sempat pamit dan berucap terima kasih, dia menyodorkan handphonenya dengan teks bertuliskan “Do you wanna have sex with me?” Astaganagaaaaaaah masih pagi ada yang ngajakin ewe. Hanya dengan berbekal cuci muka saja, saya bisa memikat lelaki. Apalagi jika saya tadi wudhu yak. Dengan sopan saya tentu saja menolak dan ngacir keluar mencari bajaj. Gendeeeeeeeeng.

Di luar stasiun saya menyewa bajaj untuk mengantar saya keliling Chittor Fort. Nggak ada apa-apa di kota ini. Hanya karena saya kesengsem sama film Padmavat yang menceritakan Raja Rawal Ratan Singh dari Kerajaan Mewar yang mempertahankan kerajaannya dari pengepungan Alauddin Khilji dari Kesultanan Delhi. Pengepungan dilakukan selama delapan bulan lamanya. Meski sudah mati-matian bertahan, Rawal Ratan Singh akhirnya tewas mengenaskan di tangan sultan yang terkenal bengis. Ratu Padmini beserta wanita-wanita di Mewar melakukan Jauhar atau mengorbankan diri dengan cara membakar diri. Dari pada menjadi tawanan perang, lebih baik mati mempertahankan kehormatan. Kisah Ratu Padmini menjadi simbol keberanian, beliau dianggap tokoh yang inspiratif dan heroik.

Dalam film diceritakan karena kecantikan Ratu Padmini, membuat Alauddin Khilji ingin merebut kekuasaan Kerajaan Mewar. Sampai akhir film, Alauddin Khilji bahkan tidak sempat melihat rupa sang ratu karena keburu membakar diri. Tentu saja dalam film dibumbui dengan adegan-adegan dramatis. Karena adegan dramatis itulah membuat saya tertarik ke Chittorgarh dan menyambangi benteng yang menjadi saksi bisu kebengisan Sultan Alauddin Khilji, toh sejalan dengan tujuan utama saya ke Udaipur. Film Padmavaat dilarang beredar di Malaysia karena menggambarkan tokoh muslim yang bengis. Ya gitu deh.

Pak supir bajaj memacu gas lebih kencang ketika jalan mulai menanjak. Kawasan benteng jadi satu dengan perkampungan dan loket tiket ada di pinggir jalan tanpa palang. Penjaga loket shock ketika saya membeli tiket masuk untuk orang asing, mau menyamar jadi warga India supaya dapat harga lokal juga percuma. Lha wong nggak ada pengunjung sama sekali, hanya saya saja. “Wow from Indonesia? Welcome to India, Enjoy India”. Mungkin penjaga loket jarang-jarang lihat orang asing masuk Chittorgarh sampai-sampai dia berucap manis kepada saya.

Kesalahan saya adalah ke sini tanpa guide, dan supir bajaj yang saya sewa juga tidak tahu banyak lokasi-lokasi di dalam benteng, apalagi sejarahnya. Jadilah berbekal peta offline yang sudah saya bookmark titik-titik destinasi, saya memandu pak supir untuk mengantar ke mana saya ingin. Saya sendiri nggak banyak mengunjungi tempat-tempat yang ingin saya kunjungi dikarenakan supir Bajaj tidak begitu tahu jalan. Dia hanya tahu beberapa tempat-tempat terkenal saja. Ngeselin banget, sumpah salah milih supir. Spot yang saya impikan bisa memotret Benteng Chittor dari kejauhan juga tidak kesampaian. Sialan.

Jangan harap menemukan istana megah di sini, kebanyakan sudah menjadi reruntuhan. Beberapa kuil dalam kondisi baik, entah bangunan baru atau bekas pugaran. Tetapi justru batu-batu tembok reruntuhan tersebut lumayan artistik buat foto-foto. Tetapi saya terkesan dengan Kuil Meera yang didedikasikan untuk Dewa Khrisna, dan Kuil Kumbha Shyam yang lokasinya jadi satu. Keduanya terbuat dari batu dengan gaya arsitekter Indo-Aryan. Tenang, saya belum beranjak pintar sampai-sampai ngerti arsitektur Indo-Aryan itu seperti apa. Semuanya hasil Googling bhuahahaha.

Saya ke Vijay Stambha yang merupakan Menara Kemenangan yang dibangun oleh Raja Rana Kumbha tahun 1448. Sepertinya di sini pusat dari segala keramaian. Menara dengan sembilan lantai menjulang tinggi dengan relief yang berisi silsilah penguasa Chittor. Sayangnya pengunjung tidak diperbolehkan naik ke atas. Selain ada menara, di sini juga ada kuil yang banyak monyetnya. Terus ada juga kolam renang yang dipakai berenang bocah-bocah. Saya mau turun ke kolam renang sudah keder karena banyaknya monyet. Dan di area sini pula konon Jauhar dilaksanakan.

Puas di Vijay Stambha, saya meminta diantar ke Padmini Palace. Saya dicegat penjaga dan diminta menunjukkan surat izin memotret. Saya kebingungan, lha wong saya turis biasa, bukan fotografer profesional atau siapapun yang mau mengambil video untuk keperluan komersil. Dia ngeyel meminta surat izin resmi. Hanya karena saya bawa kamera mirrorless yang gedenya tidak seberapa dibandingkan dengan kamera DSLR, sudah dianggap PROFESIONAL. Rasanya pengen getok petugas jaga, bahkan saya cari tulisan larangan juga nggak nemu.

Akhirnya dia mengizinkan saya masuk dengan catatan tidak boleh mengambil gambar sama sekali dengan kamera yang saya bawa. “You can take picture with your handphone, it’s okay,” lah apa bedanya Bambaaaaaaankkkk. Absurd banget. Kamera handphone sekarang beningnya hampir sama dengan kamera DSLR kok. Lagian nggak ada yang menarik di Istana Padmini, hanya kamar-kamar kosong melompong. Nggak ada indah-indahnya. Nggak sampai 10 menit, saya cabut. Bagi penyuka sejarah, Chittorgarh bisa jadi destinasi yang menarik. Apalagi sepi dari turis, jomplang banget dengan Taj Mahal yang kayak cendol.

Merasa nggak ada yang menarik lagi di Chittor Fort, saya meminta pak supir ke terminal bus. Sampai di terminal, saya naik bus lokal yang peyot. Melewati desa-desa kecil di negara bagian Rajasthan, saya menikmati pemandangan sambil menahan hawa panas. Rajasthan memang terkenal dengan suhu panasnya, ditambah saya ke sana saat musim panas. Sungguh suatu kombinasi yang menyiksa. Chittorgarh ke Udaipur hanya 2,5 jam, masih tidak seberapa, saya pernah naik bus lokal dari Munnar ke Kollam selama delapan jam perjalanan. Sampai di Udaipur saya check in di hotel dan tepar sampai beberapa jam karena kelelahan.

Happy traveling

Kepengen motret kayak begini, tetapi nggak nemu spotnya huvt

44 COMMENTS

  1. Bah! Pagi-pagi sudah memikat seseorang, lanang meneh. 😀

    Btw, rekor saya nggak mandi pas perjalanan itu 9 hari hahaha. Untungnya di iklim sedang dan perpindahan musim gugur dan musim dingin. Jadi baunya nggak seberapa…. menurut saya. 😀

    • Buset 9 hariiiiiiiii, aku pas ke Tiongkok musim gugur yang suhunya -4 saja mandi tiap hari hehe, sebab ada air panas. Klo musim dingin gitu selakangan jadi kering dan gatal bukan main 😀

  2. Aku habis dari Padmini Palace diajak ke salah satu gate sama sopir tuktuk. Tapi sayang banget aku gak ketemu spot yg bisa lihat keseluruhan benteng.

  3. Tau banget rasanya tahan sakit perut mas, karena saya paling nggak bisa tahan panggilan alam tersebut by the way, mas Alid memang selintas mirip orang India, jadi nggak heran kalau dikira orang lokal tapi saya kaget karena mas Alid dikasih pesan demikian, berani juga dia

    By the way, saya juga pernah nggak mandi 3 hari tapi waktu musim dingin dan itupun nggak ke mana-mana terus kalau nggak mandi 3 hari begitu, tetap ganti baju nggak mas?

    For the last, as usual, foto-fotonya mas Alid bagus-bagus sekali, serasa saya lihat dengan mata kepala saya sendiri. Dan satu yang paling saya suka dari hampir semua foto yang mas Alid punya include di post-post lama, yaitu presisinya mantap kadang saya bertanya-tanya, kok bisa fotonya lurus kanan kiri atas bawah

    Ditunggu cerita-cerita berikutnya, mas ~

    • Hwehehehe ganti baju ya cuma tiga potong kaos buat seminggu, dibolak-balik, sampai bau apek hahaha. Klo pas dingin di Tiongkok dulu malah tiap hari mandi sebab ada air panas.

      Ini nggak sekali dua kali sih diajakin orang buat ewe saat ngetrip. Di Filipina juga pernah diajak mbak-mbak wkwkwkw.

      Awww saya juga masih belajar bagaimana cara memotret yang bagus. Foto lurus kanan kiri tidak sebanding dengan lurusnya kehidupan ini wkwkw.

  4. sanitasi menjadi masalah yang benar-benar di India. Jadi ingat film toilet toh mas hahahhaha.
    Membayangkan perjuangan kamu menahan hajat sampe gak jadi itu sungguh menyakitkan.

    Kalau mentok gak pakai pemandu, biasanya cari tulisan di jurnal atau lihat ulasan di google guide hahahahhaha

    • Sama dengan kita sih sanitasinya, so so lah, toilet mall juga kadang bikin bergidik ehehe. Berhubung ini hanya kota kecil dan gak banyak pengunjung, minim banget tulisan di Google Guides.

    • Endingnya antara bikin puas karena Khilji nggak bisa lihat wajah rupawan sang ratu, dan sedih karena ratu harus membakar diri huhu. Makasih yak, masih butuh banyak belajar memotret 😀

  5. Sepertinya masalah mck dan sanitasi di India memang jadi permasalahan tersendiri yaa mas. Bayangin gimana rasanya nahan buang hajat selama itu. wkwkkwk

    Mungkin chittorgarh kurang dipromosikan kayak taj mahal mas. jadi pengunjungnya ga banyak. Padahal memiliki destinasi wisata yang bagus dan mungkin cukup ikonik juga.

    btw, foto-fotonya bagus mas 😀

    • Dan sampai malam saya bahkan lupa klo kebelet wkwkwkw. Nanggung mungkin kalau dipromosikan, orang lebih tertarik ke Udaipur yang hanya dua jam dari Chittorgarh. Tapi beneran deh, Chittor memiliki keunikan tersendiri 😀

      Makasih sudah mampir 🙂

  6. Hahahahahaha, aku pikir td cewe yg ngajakin, ternyata co :D. Bikin makin seram kalo nemu yg begini :D.

    Sbnrnya aku LBH suka tempat wisata yg ga biasa seperti ini, apalagi sepi dari turis2. Tp kayaknya kalo ksana tanpa guide yg bisa memandu kok ya sayang.. pgn tau banyak ttg sejarah tempatnya, yg bukan dari film :D. Eh tapiiii, gara2 liat fotonya cakep2 malah pgn liat filmnya juga sih mas :D. Sesadis apa itu Sultan Alauddin khilji.

  7. Yaampun lid, intronya sungguh sangat sesuatu, mendadak ku ga jadi makan pas tau ada kisah di toilet wkwkwkwk

    Itu juga pengalaman paling wow banget ketemu yang ngajakin ena ena tapi yagitu deh hahhaha
    Sungguh pengalaman yang ajaib

  8. Cakep deh foto2nya. Bikin pengen ke sana gitu.
    Tapi pas baca di awal, mata langsung membelalak dan alis naik. Gile itu toiletttttt….. tapi katanya MCK India dan juga China pun sama jor-nya. Ku belum pernah sih, tp dengar dari teman aja.
    Gak kebayang udah kebelet trs buka WESE begitu isinya…. *pingsan *modar LOL.

    • Ah dipuji cakep sama mastah fotografi jadi gimana gitu hehehe. Klo di Tiongkok toilet memadai dari segi bangunan, tetapi tetep kadang ada gituan ehehe. Sebab di Tiongkok gak dikasih air cebok, tisu juga gak disediakan. Jadi orang sana klo mau boker ya wajib bawa tisu sendiri buat cebok kwwkk

  9. Hahahaha ternyata kamu bener2 kotooooor ya pemuda kebanggaan Jombang. Gak mandi, tapi teteup wae ditawar buat dipake 😛

    Bolak-balik ketemu sama orang India dan belum kepikiran mau ke India, akhirnya nyadar gara2 ini: orang India yang lagi ada di luar India prejengane lebih bersih ya daripada pas lagi di negaranya. Ntah gak tau kenapa, tapi menurutku begitu

    • Pulang kampung aku mandi junub wkwkwkw. Simple sih menurutku kenapa prejengane orang India lebih bersih. Privilige beb dari pendidikan, fasilitas, duit, dll.

  10. Pagi-pagi diajak jalan-jalan ke India nih Mas.
    Menarik perjalanannya Mas, dan foto-fotonya ciamik.

    Salam kenal Mas dari kunjungan pertama saya ini.

    Salam persahabatan dari saya di Sukabumi.

  11. Baru tau nama kota ini.
    Asyik deh, pagi-pagi jadi ngerasa ikut jalan ke India.

    Oh ya, belum mandi aja udah ditawar tuh mas, gimana kalo udah mandi? Bisa ngantri tuh.

  12. Lama juga ya, Mas gak mandi selama 3 hari. Penting muka segeran lah ya, haha..
    Baru cuci muka aja udah banyak yang nuaksir lho, Mas. Gak kebayang kalau udah mandi, bakal antri tuh.. 😀

  13. Tulisan dan tone fotomu asik banget dinikmati mas. Musim Corona gini kok ngenes ya, perjalanan menjadi hal yang dirindukan. Kalo soal foto terakhir kok kayaknya dari Drone mas imho

  14. Pas baca dibagian kamu diajakin ngewe, ternyata aku dicolek banci itu masih belom ada apa-apanya buahahahaha.

    Nyesel gak bela-belain ke sini 🙁 padahal udah deket banget dari Udaipur. Soal foto yang terakhir itu, pake drone kali ya.

  15. LAWAAAKK! Ner bener Alid nih. Awalnya saya gak ngeh itu kamu nahan pupita! Pake diajak ngeue sama cowok hahahaha. Dan saya punya rekan namanya Chirragh, tampilannya India Arab gitu, jangan jangan dia asalnya dari Chittorgarh.

    Btw kuilnya menurut saya cakep ya. Malah yang kubah panjang itu mirip sama bullet-tower di Nepal, di kuil Swayambhunath. Hanya saja yang di sini gak warna warni dan mimikri sama warna lingkungannya. Terima kasih cerita lucunya ya sultan.

Leave a Reply