Delapan Jam Menyusuri Sungai di Kerala, India

56

Fast reader silahkan pergi! Dibaca normal hanya butuh 6 menit dari hidupmu.

Dahulu kota ini namanya Quilon dan pemerintah India mengubahnya menjadi Kollam. Di India memang banyak nama-nama kota yang diganti, bahkan negara bagian juga pernah ganti namanya. Tercatat ada sembilan negara bagian yang diubah dan lebih dari 100 kota di India namanya diganti. Dulu kita sering mendengar kota Bombay di film Bollywood tapi sekarang nama tersebut sudah tidak terdengar lagi karena berubah jadi Mumbai sejak tahun 1996, mungkin dia lelah dituduh sebagai bumbu masak. Banares jadi Varanasi, Bangalore jadi Bengaluru, Calcutta menjadi Kolkata, Madras berubah jadi Chennai, dan masih banyak lainnya yang kalau ditulis di sini bisa-bisa ngalahin halaman Wikipedia.

Clock Tower yang jadi landmark kota Kollam

Banyak alasan India mengubah nama, salah satunya ingin mengembalikan nama aslinya sesuai bahasa lokal sebelum diganti Inggris yang dulu menjajah India sehingga ejaannya banyak yang keminggris. Selain itu pula asalan klasik yaitu politik dan kekuasaan.

Perubahan nama pun tidak bersamaan dan terjadi pada waktu yang berbeda. Negara bagian Kerala yang dulu namanya Travancore-Cochin diganti namanya pada 1 November 1956. Yang terbaru negara bagian Orissa menjadi Odisha diubah pada 4 November 2011. Ribet ya India? Untung nggak setiap tahun ganti nama, bisa-bisa tukang peta baru kelar ngerjain revisi peta terdahulu eh sudah ganti lagi namanya. Kan kasihan Dora the Explorer kalau tersesat *dikeplak*

Kembali lagi ke Kollam yang merupakan kota pelabuhan besar pada zaman dahulu, bahkan tokoh besar seperti Ibnu Batutah dan Marco Polo pernah singgah di kota ini. Apakah saya termasuk tokoh besar juga karena pernah mampir ke Kollam? Apalah saya yang remahan roti dibandingkan voyager keren macam mereka. Saya mampir ke Kollam pun karena ingin ikutan tur backwater murah meriah.

Kapal yang saya naiki selama delapan jam

Saya tidak bisa menemukan padanan Bahasa Indonesia yang tepat untuk kata “Backwater.” Menurut kamus sih artinya mundur, air yang ditahan, air yang dibendung, air mata yang ditahan-tahan nggak keluar. Oke abaikan makna yang terakhir. Ikut tur Kerala Backwater memang wajib hukumnya kalau mengunjungi Kerala. Memang backwater trip menjadi salah satu wisata andalan di Kerala, sama pentingnya menyaksikan tarian Kathakali secara langsung selama Kerala.

Nah itu yang biru-biru di daratan kayak cacing nggak beraturan adalah backwater

Kenapa Kollam? Sebenarnya di Kerala ada banyak tempat yang menyediakan tur backwater seperti di Kottayam, Kozhikode, Kumarakom. Tapi saya memilih start dari Kollam untuk mendekati Kochi karena pesawat saya untuk kembali ke Indonesia dari Bandara Kochi. Kalau saya start dari Kochi berarti malah menjauhi Kochi dong.

Jadi apa sih Backwater itu? Geografis Kerala yang memanjang seperti pulau Sumatra yang langsung menghadap Laut Arab. Nah ada semacam laguna air payau yang dipisahkan daratan tipis dan panjangnya hampir sepanjang negara bagian Kerala itu sendiri. Atau kalau ditarik garis lurus antara Jakarta dan Banyuwangi panjang laguna tersebut. Daratan tipis itulah yang memisahkan air asin dan air tawar di laguna, sehingga air tawar tidak tercemari oleh asinnya lautan. Itu yang disebut backwater. Ceritanya air tawar dan air asin LDR-an gitu.

Kalau turnya tentu saja kegiatan tamasya sepanjang laguna tersebut. Apa menariknya? Yah kita bisa menikmati pemandangan dan mengamati ekosistem serta kehidupan masyarakat di sepanjang laguna. Itu yang mereka jual.

Satu-satunya kendaraan untuk bertamasya di sepanjang backwater dengan menggunakan kendaraan air seperti houseboats atau kapal feri biasa. Orang Kerala menyebutnya Kettuvalam, sebuah kapal yang panjangnya sekitar 35 meter dan di dalamnya terdapat kamar mewah dan restoran dengan layanan kelas atas. Kettuvalam disewakan secara privat, turis bisa berlayar beberapa hari dan dilayani bak raja dan ratu.

Aku nggak kuat bayar naik yang begituan

Saya tentu saja lebih memilih kapal feri murahan yang tiap hari berlayar dari Kollam ke Alappuzha. Padahal saya sudah membayangkan menari-nari ala Shah Rukh Khan dan Preity Zinta seperti di lagu Jiya Jale atau ngarep ngelamar anak orang di atas Kettuvalam seperti adegan di film Tashan. Apa daya cuma bisa naik yang murahan bareng turis lain. Lagian anaknya belum tentu mau dilamar jadi ngapain naik kapal yang mahal.

Jiya Jale dari Dil Se

Tashan

Dinas Pariwisata Kerala memang baik dengan menyediakan kapal feri yang setiap hari berangkat pukul 10:30 dari pelabuhan Kollam yang terletak di Danau Ashtamudi dan berakhir di Alappuzha, atau sebaliknya di jam yang sama dari Alappuzha ke Kollam. Tiketnya hanya 300 Rupee atau sekitar 60 ribu rupiah. Bandingkan kalau harus naik Kettuvalam yang tarifnya yang paling murah 800rb-900rb semalam.

Ada harga ada rupa, lagi-lagi tempat duduknya tidak manusiawi, hanya kursi besi tanpa busa sama sekali. Dan saya harus duduk selama delapan jam. Ke Alappuzha hanya dua jam kalau naik bus umum, demi bisa merasakan tamasya backwater saya belain naik kapal feri yang butuh delapan jam berpesiar.

Tepat pukul 10:30 pagi kapal beranjak pergi meninggalkan Kollam, saya memilih duduk di lantai atas biar bisa memandang bebas. Penumpang waktu saya naik didominasi keluarga lengkap mulai dari emak, bapak, paman, bibi, yang diikuti anak-anak. Mungkin se-RT juga ikutan sebab mereka seperti saling kenal. Turis asing sekitar ada tujuh termasuk saya. Walau kulit nggak bule tapi saya dihitung asing dong hehe. Saya turis paling eksotis sendiri di atas kapal.

Saya duduk manis dan bersiap-siap mendengarkan setiap penjelasan guide, 15 menit berlalu masih belum ada yang ngomong. Oh mungkin agak nanti guide akan memulai penjelasan, 30 menit berlalu masih senyap. Jadi ini hanya kapal penumpang biasa tanpa penjelasan apapun? Jadi selama delapan jam saya hanya bisa bengong memandangi pemandangan yang monoton, kalau memandangi kamu lama aku kuat #dikeplak

Suguhan selama perjalanan hanya genangan air dan pohon kelapa, sesekali saya melihat burung berterbangan berkelompok dan mencari makan. Beberapa kali melewati desa-desa kecil di pinggir, anak-anak kecil melambaikan tangan dan teriak-teriak ke kapal dan kami membalas lambaian mereka sambil tersenyum. Tidak hanya anak kecil, warga kampung juga dadah-dadah ke kami. Serasa jadi tontonan menarik bagi mereka.

Jadi ingat masa kecil dulu kalau ada pesawat lewat kita pasti berlarian dan teriak-teriak “kapal njuk duite,” dan setelah besar dan ngerasain naik pesawat sendiri, nggak mungkin mereka yang di pesawat terbang membuka pintu dan melempar duit ke bawah. Bisa modyar ambyar. Selebihnya kapal feri melaju dengan tenang dan bosan menyusuri sungai, hanya suara mesin yang memecah kesunyian.

Meskipun airnya tidak bening tapi bersih, sampah ada tapi secara kasat mata sungainya seperti benar-benar terjaga. Walau katanya pemerintah India ketar-ketir dengan pencemaran lingkungan yang sudah mulai mencemari backwater ini.

Teman ngobrol saya selama perjalanan adalah Salman, pemuda 14 tahun yang sedang piknik dengan keluarganya. Pamannya baru saja datang dari Arab Saudi dan mengajak seluruh keluarganya tamasya naik kapal feri ke Alappuzha. Sama seperti di Indonesia, orang Kerala banyak yang mengadu nasib ke Arab Saudi. Saya sempat ngobrol dengan pamannya dan beliau bilang kalau banyak kenal orang Indonesia di Arab sana. Lagi-lagi bencana tsunami tahun 2004 menjadi topik obrolan antara saya dan pamannya Salman. Daripada Bali, orang India Selatan mengenal Indonesia dari tsunami yang sama-sama menghantam India pada tahun 2004.

Lumayan saya belajar beberapa kata Bahasa Malayalam dari Salman, gantinya dia bisa mengasah Bahasa Inggrisnya. Untuk anak seumur dia termasuk lancar meskipun masih banyak aaa-uuu-aaa-uuu nya karena mikirin kalimat selanjutnya apa yang akan dia ucapkan. Padahal Bahasa Inggrisku juga nggak kalah ancur wekeke.

Saya diajakin Salman ngintip dek kemudi, usut punya usut ternyata supir kapal adalah pamannya juga. Saya nggak paham silsilah mereka tapi saya beruntung bisa masuk bentar dan motret ala-ala sambil memegang kemudi.

Kapal berhenti dua kali, yang pertama ketika makan siang berhenti di sebuah restoran. Nggak ada pilihan lain selain memang harus makan di restoran tersebut karena nggak ada yang lain. Yang kedua berhenti di antah berantah untuk sekedar istirahat sebentar.

Saya benar-benar dilanda kebosanan tingkat tinggi. Begitu mendekati wilayah Aleppuzha saya mulai semangat karena disuguhi pemandangan yang spektakuler. Sunset, matahari mulai redup dan langit berubah menjadi jingga. Amazing! Sekitar pukul tujuh malam kapal sampai di Alappuzha dan saya segera ke Terminal bus untuk melanjutkan perjalanan ke Kochi.

Cukup sekali seumur hidup bagi saya untuk merasakan tamasya backwater di Kerala. Karena tidak ada aktivitas apapun selain bermalas-malasan di atas kapal. Yah gimana lagi saya anaknya hiperaktif sih jadi kurang cocok dengan gaya ngetrip saya. Tapi saya mau lagi menyaksikan momen matahari tenggelam di Alappuzha yang breathtaking. Tips bagi yang akan tamasya backwater di Kerala, siapkan banyak cemilan dan sesuatu untuk menghibur diri seperti buku atau kartu gaple. Terus lawan main gaplenya siapa?

Happy traveling!

 

56 COMMENTS

  1. Untung yang nunggu di dermaga itu nggak teriak, “om telloleeet ooom”. Trus yang lagu Jiya Jale, salah satu adegannya dilangsungkan di Periyar. Sik sik ntar aku tulis kalo lagi rajin

  2. Foto-fotonya bagus Mas, warnanya membuat kesan pedesaan sekaligus alam di India itu dapat banget. Cuma memang lumayan panjang sih ya waktunya kalau sampai delapan jam, di atas air bergoyang-goyang, tanpa pendingin ruangan pula. Kalau terik mungkin saya sudah mabuk laut haha (eh itu kan bukan di laut ya). Tapi saya rasa cocok berlayarnya kalau memang ingin mengambil potret masyarakat pesisir India selatan, bagaimana hidupnya, budayanya, dan alam lingkungannya.

    • Itu dia, delapan jam bikin bengong dan mati kebosanan. Andaikan saja naik dua jam terus bisa turun di mana gitu hehe. Yup memang paling menarik mengambil potret di sepanjang sungai. Sekali lagi kalau delapan jam ya itu-itu aja gambarnya haha.

      • Delapan jam berayun2 dalam ombak yang kadang ada kadang tidak… mungkin kalau saya terlalu bosan, saya bisa tidur, haha. Tapi dari tulisan ini dirimu bisa memanfaatkan delapan jam itu dengan baik Mas, hehe.

    • Kok bisa menyimpulkan begitu bro? Nggak ada satupun bagian di India yang mirip Bali kok. Ya klo yang itu kan kompetisi blog bro, kalau aku ke sana kan modal sendiri bukan gratisan bhuahaha.

  3. Aliid kwkwkwk .. itu ponakan ganteng2 banget yak.. se eksotis dirimu, sing cilik lebih manis dan sedep hihi.. btw iku asal kapal njuk duite mungkin dari efek kapal perang yang menjatuhkan kertas saat perang kemerdekaan kali ya *nglindur

  4. ah kereeen
    jadi inget temen FB dari Ottapalam yg stalking bgt hehe
    aku pengen bgt ke India tp ke daerah koridor Siliguri, darjeeling, dkk (siapa nanya???)
    sekali lagi keren mas, salam kenal

  5. sampe hapal adegan film dan nama filmnya,kamu emang jempolan soal bollywood kak.
    aku film2 yg agak lama mana apal dia syutingnya dimana sampe jadi lokasi wisata sekarang.

Leave a Reply