Gagal Menyaksikan Gagahnya Pegunungan Himalaya

61

Fast reader silahkan pergi! Dibaca normal hanya butuh 6 menit dari hidupmu.

Ketika sang pilot mengumumkan bahwa pesawat akan segera mendarat di bandara Netaji Subhas Chandra Bose, Kolkata, tubuh saya semakin gemetar tidak karuan. Tidak henti-hentinya mulut saya mengucap “saya di India, saya di India”. Iya saya di India. Apakah saya sedang bermimpi, kalau mimpi tolong jangan bangunkan saya hehehe. Tapi tampar sayaaaaaah. Tapi ini begitu nyata….

Di bandara saya ketemu dengan tiga traveler dari Indonesia, satu dari Jakarta dan dua dari Batam. Yang dari Batam jadwal perjalanannya sama dengan kita tapi entah kenapa karena kereta yang kita naiki berbeda jam keberangkatan, jadi kita tidak bisa jalan bareng dan terpisah. Justru yang dari Jakarta meski kita berbeda jadwal tapi kita bisa bareng jalan-jalan di Agra dan patungan sewa mobil. Yah karena memang kita janjian hehe.

Begitu keluar dari bandara dan naik taksi saya langsung merasakan India yang selama ini digambarkan, ruwet, macet, debu, panas, dan paling bikin pusing kepala adalah kendaraan bermotor saling bersahutan membunyikan klakson. Teeeet,,, tiiinn,,, tooottt. Lama kelamaan saya semakin terbiasa dengan bunyi-bunyian tersebut, saya cepat beradaptasi kok.

Untuk menghabiskan waktu sebelum bertolak ke kota selanjutnya kami berniat ke Victoria Memorial Hall di pusat kota Kolkata, bangunan unik bergaya Inggris yang didedikasikan untuk Ratu Victoria. Tapi sial ketika kami sampai tempat tersebut sudah tutup dan lampu baru saja dipadamkan. Pfffttttt grrrrr….

Tujuan pertama kami adalah Darjeeling, demi Darjeeling saya merelakan untuk tidak pergi ke Delhi. Dan karena film Barfi! pula saya benar-benar jatuh cinta pada Darjeeling. Sudah tidak sabar ingin melihat dengan mata kepala sendiri betapa gagahnya Jajaran Pegunungan Himalaya. Untuk menuju ke Darjeeling harus naik kereta ke New Jalpaiguri dari Sealdah dulu selama 10 jam, tapi nyatanya kereta telat dua jam datang di New Jalpaiguri, padahal berangkat tepat waktu, jadi total kita menghabiskan waktu selama 12 jam  sampai bego di dalam kereta. Naik kereta di India itu seru loh, nanti saya buat postingan sendiri deh.

Stasiun New Jalpaiguri

Tiba di New Jalpaiguri belum bisa bernapas lega, karena perjalanan harus dilanjutkan naik Tata Sumo atau semacam mobil jeep. Kalau mau berangkat lebih cepat bisa langsung sewa satu mobil penuh. Tahu sendiri kita backpacker kere jadi mau nggak mau ya harus menunggu penumpang sampai penuh. Perjalanan ke Darjeeling dari New Jalpaiguri sekitar dua sampai tiga jam, saya kurang begitu pasti berapa jam karena saya banyak tidur hehe. Dari tempat panas kita menuju dataran tinggi yang dinginnya menusuk tulang. Begitu memasuki dataran tinggi pemandangan yang disajikan selama perjalanan begitu menyihir.

Jeep yang kami naiki

Paling ngeri ketika memasuki area berkabut, saya dalam hati hanya bisa berdoa “Saya masih perjaka, Saya belum mau mati”. Gila nggak sih, jalanan berkabut dan pandangan terbatas tapi supir jeep dengan percaya diri tetap tancap gas. Beberapa ruas jalan di kanan kiri adalah jurang, salah sedikit bisa mati masuk jurang. Sekali lagi pemandangannya begitu menyihir dan karena saya bisa posting tulisan di sini itu berarti saya masih tetap perjaka dan masih ganteng serta saya masih hidup hore hahaha.

Video perjalanan paling mengerikan di tengah kabut

Cuaca di Darjeeling tidak begitu bersahabat ketika kami berkunjung, setelah check in di hotel kami berniat ke Observatory Hill dekat Chowrasta untuk melihat Kanchenjunga dari dekat. Begitu keluar dari hotel sudah mulai gerimis, jalan kaki sampai Observatory Hill bukannya gunung yang kami lihat tapi kabut putih pekat. Oh tidaaaaakkkkk… ah masih ada besok. Nggak mau rugi kami naik ke observatory hill, begitu sampai di atas di kuil yang-tidak-tahu-apa-namanya langsung hujan lebat dengan angin kencang. Kami berteduh di rumah kecil tempat pemujaan Ganpati atau Dewa Ganesha. Lumayan lama kita berteduh didampingi sama Ganesh Ji, ada pendeta yang memanggil saya dan saya datang. Dia sudah mulai berkomat-kamit menerangkan ini itu, dan ketika tangan dia mau memakaikan tika (bubuk merah) di dahi saya, saya langsung bilang “sukriya” sambil ngacir, pasti dipalak buat bayar dia.

Kesialan belum selesai, kami baru menyadari bahwa toko dan restoran di Darjeeling tidak ada yang buka. Kami berjalan menyusuri kota kecil tersebut dan berharap ada rumah makan yang buka tapi nihil. Waktu itu memang hari minggu tapi sangat tidak normal kalau semuanya tutup begini, serasa di kota mati. Begitu ketemu polisi saya langsung tanya kenapa semua toko tutup, katanya hari ini ada hari besar di mana seorang politikus berkampanye bla bla bla tidak begitu jelas dan dimengerti ada apa. Intinya semua toko libur dan besok pagi baru buka semua. Mampus, kami harus makan apa malam ini.

Beruntung ada restoran nakal yang tetap buka meski semuanya libur, walau semua menu tidak tersedia dan hanya demi pesan mie instan saja kami harus menunggu hampir satu jam. Jauh-jauh ke India masak makan mie instan, dan itu mie instan paling nggak di bumi ini tapi habis saya makan karena lapar hehe, masih enakan jagung bakar yang saya beli di emperan. Setengah kenyang dengan makanan mie aneh tersebut kami memutuskan untuk segera tidur karena besok subuh kami harus ke Tiger Hill untuk menyaksikan sunrise.

Kalau di rumah mungkin saya paling susah bangun subuh, tapi kalau lagi nge-trip dan ada jadwal nongkrongin sunrise pasti saya bangunnya gampang hehe. Sebelumnya kami sudah booking untuk shared jeep ke Tiger Hill, tapi dasar hotel sialan, managernya nggak bilang ke karyawannya kalau kami sudah bayar dan karyawannya juga nggak tahu. Jadinya kami terpaksa menyewa satu mobil dengan tambahan beberapa Rupee.

Memang alam belum mengijinkan saya melihat betapa gagah dan misteriusnya Gunung Kanchenjunga, sekali lagi kabut putih tebal pekat. Saya hanya bisa menghibur diri dengan menggumam “there is a reason to comeback.”  

Ini yang harusnya kami lihat (source: shunya.net)

TAPI

Tapi kabut tebal yang kami dapatkan T________T

Darjeeling, kota kecil di propinsi West Bengal, diapit oleh Nepal, Bhutan, dan Cina. Jadi nggak heran kalau di Darjeeling tidak begitu ada sentuhan Indianya. Kalau boleh dibilang orang sana lebih stylish dan bersih. Mata sipit dan hidung sedikit mancung serta pesek, pakai baju rapi, jas, syal, jaket, model rambut juga mengikuti model sekarang. Serasa di Jepang atau Korea tapi dalam kondisi lingkungan yang berbeda.  Karena memang di Darjeeling mayoritasnya adalah orang Sikkim, Bhutan, Nepal, dan Tibet.

Lihat, nggak ada kesan Indianya sama sekali.

Di Darjeeling pula ada kereta yang paling bersejarah, Darjeeling Himalayan Railway yang sekarang masuk dalam daftar UNESCO World Heritage Site. Hanya karena waktu yang terbatas saya tidak jadi mencoba kereta tersebut, lagipula keretanya memang berjalan lambat karena harus menanjak naik jalannya.

Yeah We’re Nepali Family

Beginilah kalau beristri dua haha

Banyak orang yang tahu Sir Edmund Hillary, beliau adalah orang yang pertama kali mencapai puncak Gunung Everest, tapi tidak banyak yang tahu Tenzing Norgay, orang Nepal dan meninggal di Darjeeling, beliau adalah partner Sir Edmund Hillary dalam mendaki Everest. Ada patungnya loh di Darjeeling di Himalayan Mountaineering Institute. Bagi yang gila naik gunung pasti suka ke museum tersebut.

Ghoom Monastry (Kuil Budha Bergaya Tibet)

Selain itu Darjeeling juga terkenal dengan produksi teh kualitas super, saya bukan penyuka teh jadi kurang begitu ngerti teh yang enak dan yang nggak enak itu seperti apa. Kebun-kebun teh di Darjeeling juga banyak, serasa di Bandung loh.

Biksu yang tua itu sudah ke Borobudur dua kali loh.

Tapi yang paling bikin saya kepincut sama Darjeeling adalah melihat Gugusan Pegunungan Himalaya. Gunung Kanchenjunga yang merupakan gunung tertinggi nomor tiga tersebut bisa dilihat secara kasat mata di Darjeeling. Kanchenjunga yang berarti “The five treasures of the high snow” berasal dari bahasa Tibet. Oh tapi saya gagal lihat Gunung tersebut. Ah saya pasti kembali lagi. PASTI!!! Dan lanjut ke Nepal dong hehe.

Happy traveling.

 

61 COMMENTS

  1. gw suka photo-photonya… (y)

    bacanya ntar-ntar aja, yg penting tuh lihat photonya, terus comment. hahaa

    happy traveling !!! 🙂

  2. mana ridu? kekekeke..
    remembered how u had to share the front seats with a couple. U fell asleep with ur head awkwardly distorted and mouth gawking wide open! Tea and I laughed so loud from the back! HAHAHAHA!

    gampang gopro gw gabisa pakai. T__T… oh well.. darjeeling wajib pergi lagi!!

  3. Wah sayang sekali ya gara-gara cuaca gagal melihat yg diinginkan.
    Itu di Darjeeling pegunungan es? Keren! mirip pegunungan di Swiss ;).

  4. sayangnya cucaca tidak mendukung dan berkabut tebal, semoga nanti ada kesempatan lagi buat ke sana biar bisa melihat Himalaya secara langsung
    tetap semangat 🙂

  5. Videone sediluk. Kurang suwe. Hahaha…

    Eh kok beda banget ya pemandangan tanpa dan dengan kabut. Akk aku ikut merasakan betapa kecewanya dirimu ga iso ndelok gununge. Hahaha… Sesajenmu kurang berati hahahaha…

  6. wiiiiiihh mantaab..travelers dg biaya minim dan sampai ke india dan masih ingin ke india duh…. **twothumb!

    and finally sampe juga diindia iiyyhh……serus eru..
    tapi fotonya kurang banyaaak, yang di tiang ama diladang bunga belum tuh 😀

  7. beneran punya istri dua mas?
    hehehe
    wahhh keren..
    itu anak-anaknya kok kaya orang indonesia ya?
    lain kali kalo travelling gitu harus selalu sedia makanan di dalam tas ya.
    repot jg kayanya buat saya yang ga tahan lapar. giliran lapar, warungnya pada tutup gtu..
    hha

  8. ** balik lagi hihihi

    itu foto yang dihimalaya malah mirip di tengger ya bromo 😀

    nah yang dibawah kabutnya mirip di dieng 😀

    udah ah itu ajah, dadah..!

  9. Mantap perjalanan nya, ini yg gw impikan bis ake india nepal tibet dll. Mudah2an bisa mengikuti jejak nya 🙂

    btw yakin masih perjaka ??? trus kalo udah ngak perjaka, baru boleh mati yaaa hahahaha #kaburrrrrrr

  10. waah seru ke himalaya, suatu saat pengen deh kesana juga kalo udah kelar kuliahnya..
    salam kenal blogwalking ya 😀

  11. datang untuk kunjungan di blog sobat, saat ini saya akan sedekah di blog sobat, izin klik semua iklannya gan, membalas kebaikan agan. terima kasih. sukses selalu dan mari kita jaga silaturahmi

  12. Nggak masalah gak bisa menyaksikan gagahnya peg. Himalaya, toh intinya sudah menginjakan kaki di India 😀
    Mungkin juga lo disuruh balik kesana lagi kaliii 😀
    Btw, lo kuat nabung ya bro. Gue mah -__________-” :)))))

  13. itu emang beneran serem tempatnya lid.
    kabut tebal dimana-mana dengan jarak pandang terbatas tapi mobil masih terus berjalan.

    pas ngeliat videonya itu tiba2 aja muncul mobil di depan.
    sungguh gabisa ngebut kalo gitu mah

    hehehehe

  14. India memang “menjual”, adat, budaya dengan rohnya Hndu menjadikan Negara ini destinasi pavorit yang yahuud sekaleee..

  15. ohh !
    there’s picture of Nepali family too
    Darjeeling also have little taste of Nepali culture and tradition.
    Nepal has 102 castes and ethnic groups (2001 census) all over Himalayas ,mountain and terai region.

  16. wah best bangat baca kisah kamu mengembara bersama teman blogger yang saya kenali..Jard. Ibu pernah ke bangalore sebab melawat anak yang study di sana..barangan murah bangat.

    tahun depan merancang mau ke new delhi bersama anak dan suami..insyallah

  17. oke, saya enggak terlalu ngefan sama india kecuali makanannya, tapi yang namanya Darjeeling ini sepertinya menarik buat dimasukkan ke bucket list traveling 😀

  18. Keren banget perjalanannya mas! Lagu India itu memang enak banget terdengar di kuping, eksotik gimanaaa gitu 😀

Leave a Reply to Cumi MzToro Cancel reply