Gereja Paoay: Tua, tetapi Tetap Gagah

22

Fast reader silahkan pergi! Dibaca normal hanya butuh 3 menit dari hidupmu.

Saya singgah di Laoag (baca: Lawak) yang merupakan ibu kota provinsi Ilocos Norte setelah dari Bangui Windmills. Cacing di dalam perut saya semenjak kemarin teriak-teriak minta asupan. Bukan berniat ngirit atau menyiksa diri, tetapi saya nggak menemukan warung satupun di Bangui. Lha wong cuma desa kecil yang sepi. Saya tersiksa kelaparan selama satu jam naik bus umum dari Bangui ke Laoag. Jadi begitu sampai di kota Laoag, saya langsung berburu makan. Pilihan jatuh ke Jollibee yang merupakan restoran cepat saji kebanggaan bangsa Filipina, KFC-nya orang sana gitu. Siapa sangka Jollibee menjadi andalan saya selama seminggu di Filipina. Pagi ke Jollibee, siang ke Jollibee, malam ke Jollibee lagi. Hampir tiap hari ke Jollibee. Selain murah, saya merasa restoran ini paling aman dari campuran babi. Padahal ayamnya paling juga dicekik sebelum digoreng bhuahahaha.

Nggak ada yang menarik di Laoag, tetapi saya menyempatkan diri untuk jalan kaki keliling kota sebentar, dan masuk ke Museum Ilocos Norte yang isinya seupil. Tujuan utama saya adalah ke Paoay. Saya naik Jeepney yang ngetemnya di samping museum. Jeepney adalah semacam angkot dari kendaraan bekas perang dunia ke-2 milik tentara Amerika yang dimodifikasi sedemikian rupa untuk mengangkut penumpang. Saking banyaknya jeep yang ditinggalkan oleh tentara Amerika. Saat perang berakhir, banyak jeep yang terbengkalai. Daripada nganggur, dimanfaatkanlah jeep-jeep tersebut. Sekarang jeepney hampir bisa ditemui di seluruh penjuru Filipina.

Sudut Kota Laoag

Setelah satu jam lebih naik jeepney, saya sampai di Paoay (baca: Pawai). Jeepney berhenti tepat di halaman belakang gereja yang ingin saya datangi. Iglesia de San AgustΓ­n de Paoay dalam Bahasa Inggris San Agustin Church of Paoay. Lebih mudah saya menyebutnya Gereja Paoay. Gereja tua ini masih dipakai untuk ibadah hingga sekarang, per 2018 umur tempat ibadah umat Kristiani ini 308 tahun. Meskipun umurnya renta, tetapi masih gagah berdiri sampai sekarang.

Bangunan besar dengan tembok yang tebal, dari bawah meruncing ke atas membentuk segitiga. Asitekturnya bergaya “Earthquake Baroque”. Saya paham istilah arsitektur Barok, tapi saya nggak paham dengan istilah Barok Gempa Bumi. Gaya bangunan Barok populer di Eropa pada abad ke-17 hingga pertengahan abad ke-18. Ciri paling kentara bangunan Barok adalah besar dan megahnya keterlaluan.

Tembok bagian bawah terbuat dari batu karang besar. Dan bagian atasnya dibuat dari batu bata. Nggak pakai semen untuk perekat, melainkan campuran daun mangga, kulit binatang, dan jerami, yang direbus dengan air perasan tebu. Orang zaman dulu memang sakti ya. Gitu saja udah lengket. Lebih sakti Bandung Bondowoso yang bangun candi nggak perlu sewa kontraktor. Halah. Tampak dari luar tembok gerejanya kusam menghitam bekas lumut yang mengering di sekujur bangunan. Justru semakin kusam temboknya, semakin indah kelihatannya. Tumbuhan perdu berwarna hijau merambat di beberapa bagian menambah kesan antik gereja tua yang masuk daftar UNESCO sebagai situs warisan dunia tahun 1993.

Saya lupa hari apa ketika saya berkunjung ke sana, maklum saja kalau lagi ngetrip saya suka disorientasi dengan hari dan tanggal. Tetapi saat itu gereja sedang dibuka, jadi saya bebas keluar masuk ke dalam. Pengunjung sepi, bisa dihitung dengan jari. Nggak ada tanda-tanda orang selesai beribadah. Atau memang dibuka tiap hari yak? Maklum saja, gereja di sana udah kayak masjid jumlahnya kalau di sini. Banyak dan biasa saja mungkin.

Nggak ada yang bisa saya tanyai di sana. Padahal saya penasaran dengan interior di dalam gereja, apakah masih asli atau sudah banyak perubahan. Dugaan saya sih, semua interior dari mulai lantainya, altarnya, hingga kursi kayunya, masih asli sejak dahulu.

Selain gereja tua yang bersejarah, di Paoay terdapat gurun pasir mirip-mirip dengan Gumuk Pasir di Yogyakarta. Saya nggak tertarik untuk ke sana. Saya lebih tertarik mengunjungi kediaman Presiden Ferdinand Marcos di tepi Danau Paoay. Nggak ada transportasi murah ke sana. Terpaksa saya naik ojek becak yang banyak ngetem di depan gereja.

Rumah berlantai dua di tepi Danau Paoay ini disebut Malacanang of the North. Rumah ini adalah bekas kediaman keluarga Presiden Marcos. Sekarang dirombak jadi museum yang terbuka untuk wisatawan. Yang suka dengan barang-barang vintage mungkin suka dengan tempat ini. Banyak perabotan rumah tangga dari mulai piring hingga ranjang tidur zaman baheula dipajang di sini. Semuanya kepunyaan keluarga Presiden Marcos.

Di bagian belakang rumah, pengunjung bisa menikmati keindahan Danau Paoay yang merupakan danau terbesar di Provinsi Ilocos Norte. Orang kaya mah bebas mau bikin rumah di tepi danau maupun di tepi kawah candradimuka. Kalau saya boro-boro rumah, bangun rumah tangga saja masih kesusahan nyari semen dan pasirnya. Halah.

Sayangnya saya nggak bisa memotret segala pernak-pernik di rumah sederhana, tetapi mewah ini. Bukan karena dilarang memotret. Melainkan baterai kamera dan handphone tewas semua, powerbank juga sudah kehilangan dayanya. Saya sendiri sudah kelelahan, ibarat Ultraman lampu di dada sudah kedip-kedip mau mampus. Mohon maklum, semalaman di bus, lanjut keliling ke Bangui. Muka kucel belum mandi, cuci muka hanya pakai tisu basah, ke mana-mana bawa ransel berat. Intinya saya sejak kemarin di jalanan luntang-lantung sendirian, tetapi bahagia.

Happy traveling!

22 COMMENTS

  1. Yang jelas di sini aku tahu bacaan baru.
    Kalau urusan makanan, kemarin temanku (cewek) katanya kesusahan buat nyari makan halal. Kubilang aja, asal ayam aja makan, urusan halal yang penting sudah berusaha kakakakkakkaka

  2. Nemu aja destinasi gak umum kayak gini. Sekilas mirip benteng apa gitu yang ada di Malaka ya. Tapi bagusan ini dan karena sepi, kamu enak pose ala model hehehe

    • Karena tiap mau ngetrip pasti ngecek peta UNESCO heritage hehehe, jadi selalu diutamakan ke tempat-tempat UNESCO. Asli sepi dan bebas keluar masuk ke gereja om πŸ™‚

Leave a Reply to Nurul Hidayah Cancel reply