Gili Labak: Pesona di Ujung Timur Pulau Garam

74

Fast reader silahkan pergi! Dibaca normal hanya butuh 4 menit dari hidupmu.

Hanya Karapan Sapi, Sakera, Carok, dan Sate Kambing yang ada di benak saya ketika mendengar nama Pulau Madura. Namun tidak hanya itu saja, siapa sangka pulau yang terkenal dengan garamnya tersebut menyimpan pesona di ujung timur sana. Pesona yang baru saja tersibak. Rahasia yang baru saja terungkap beberapa tahun belakangan ini. Di ujung Pulau Madura sana, tepatnya di Kabupaten Sumenep, Kecamatan Talang terdapat sebuah pulau kecil yang indah nan eksotis.

Gili Labak Alid-2

Pagi menyambut di Pelabuhan Kalianget

Gili Labak Alid

Gili Labak sebutannya, namanya mirip dengan sebuah pulau di Flores, Gili Laba tanpa akhiran K. Labak dibaca Lab-bek dengan logat Madura. Dahulu katanya bernama Pulau Tikus karena banyak tikus yang bersarang dan menetap di pulau tersebut. Entah sekarang mereka pindah kemana digusur oleh manusia-manusia rakus (baca: kita).

Gili Labak Alid-4

Selamat Datang di Gili Labak

Bandara terdekat dari Sumenep adalah Bandara Juanda di Surabaya dan hampir semua maskapai di Indonesia mempunyai rute terbang ke Surabaya seperti; Garuda Indonesia, Citilink, Lion Air, dan Sriwijaya Air. Untuk mencapai Gili Labak butuh sedikit perjuangan bagi yang tahan banting seperti saya *sombong*. Tapi dibutuhkan perjuangan ekstra luar biasa bagi yang tidak terbiasa melakukan perjalanan. Pasalnya setelah menempuh perjalanan panjang dari Surabaya menuju Kalianget selama sekitar 4 jam, dilanjutkan dengan naik kapal nelayan menuju Gili Labak selama 2,5 jam.

Gili Labak Alid-3

Kapal nelayan yang saya naiki muat untuk 30 orang. Setiap orang harus berbagi tempat dengan penumpang yang lain dan mencari posisi paling PeWe (posisi weunak) masing-masing di kapal yang terbatas tersebut.

Penumpang sudah lengkap, semua sudah memakai jaket pelampung, semua wajah terlihat bahagia dan bersemangat. Kapal beranjak pelan meninggalkan Pelabuhan Kalianget. Seluruhnya berteriak histeris dalam perasaan senang. Beberapa yang takut dengan lautan pun dalam hati bangga akhirnya mereka bisa mengalahkan ketakutan terbesar mereka.

Gili Labak Alid-9

Tapi semua itu hanya berlangsung 30 menit saja. Ketika pemandangan di sekeliling hanya laut biru membentang luas. Kita semua mati kebosanan di tengah lautan lepas. Dan kami bener-benar setengah mati ketakutan karena gelombang mengaduk-aduk seisi kapal. Semua menjerit ketakutan ketika gelombang menerjang kapal dan air laut menghantam masuk membanjiri kapal. “Apa kita akan tenggalam? Apa kita akan mati?” Salah seorang penumpang teriak panik. Semua tertunduk lemas berdoa masing-masing dalam hati supaya selamat. Belum sampai di pulau tujuan tapi kita semua sudah basah kuyup luar dalam. Tidak terhitung siapa saja yang menang jackpot alias mabuk laut. Bahkan ada seorang penumpang yang dari awal begitu bersemangat dengan yel-yel-nya “yihaaa, horeee, wohooo” ketika gelombang menerjang kapal layaknya roller coaster di taman bermain, tapi dia berakhir pingsan.

Gili Labak Alid-8

Drama mencekam selama 2,5 jam terombang-ambing di atas kapal di tengah lautan akhirnya terbayar dengan pemandangan yang luar biasa menyejukkan mata. Sejauh mata memandang terlihat air laut yang biru kehijauan atau turquoise. Sejuk di mata tapi matahari begitu terik menyengat kulit saya yang sudah eksotis makin eksotis (baca: hitam).

Gili Labak Alid-6

Aktivitas yang umum dilakukan turis di pulau ini memang snorkeling dan berenang. Rasanya baru kali ini saya ke tempat snorkeling yang isinya turis lokal semua tanpa ada bule sama sekali. Ciri turis lokal yang paling kentara adalah semua orang snorkeling memakai pelampung tidak terkecuali saya yang bisa berenang tapi tidak bisa mengambang hahaha. Duh malu sama nenek moyangku yang seorang pelaut.

Snorkeling hanya bisa dilakukan di pinggir pantai dengan pemandangan karang yang sudah rusak karena ulah kita semua. Tidak ada yang berani agak jauh ke tengah lautan karena gelombang yang bikin nyali ciut. Saya yakin sekali kalau di tengah sana pemandangan bawah lautnya luar biasa tapi sayang tidak ada kapal yang mengantar ke tengah. Atau mungkin belum ada yang tahu spot menarik di sana sehingga pengunjung hanya bisa berenang di pinggir pantai.

Gili Labak Alid-5

Banyak yang kamping di sekitar bibir pantai Gili Labak

Selain snorkeling, banyak pengunjung yang kamping di sepanjang bibir pantai. Jangan kuatir soal makan karena sudah ada beberapa warung kecil dengan menu sederhana nasi, mie, dan telur goreng. Makanan kecil juga lumayan banyak macamnya yang dijual. Harganya pun tidak mencekik alias masih harga normal, malah cenderung murah. Warga lokal masih belum terkontaminasi dengan hal-hal berbau pariwisata, semoga saja tetap seperti itu. Untuk urusan bersih-bersih fasilitas kamar mandi umum pun juga sudah memadai dan layak. Warung dan ponten umum juga baru saja ada, itu menurut kawan saya yang tahun lalu sempat kamping semalam di Gili Labak.

Jam 1 siang kami semua bersiap-siap pergi meninggalkan Gili Labak. Agak tenang mendengar informasi dari nahkoda kapal; bahwa ombak walaupun tinggi tapi tidak akan mengaduk-aduk seisi kapal karena pulangnya tidak melawan arus. Siapa sangka di Pulau Garam ada pulau kecil dengan pantai eksotis. Indonesia memang indah kawan, pesonanya tidak pernah gagal menyihir saya.

Gili Labak Alid-7

Yuk ke pantai!

Baru pulang liburan saya sudah ngiler dan menyusun rencana kabur lagi, rasanya kaki ini gatel kalau harus berdiam diri di rumah. Target utama saya adalah menyusuri pantai-pantai cantik di Pulau Kupang. Kabarnya pantai-pantai di sana memiliki view sunrise dan sunset yang luar biasa, saya memang pemburu matahari terbit dan tenggelam. Beruntung bahwa Garuda Indonesia memiliki rute penerbangan langsung ke Kupang setelah saya search di website Airpaz. Segera beli tiket pesawat dan packing, mari santai diΒ pantai!

Always travel safe and wonderful Indonesia. Happy Traveling!

*Tulisan ini disertakan dalam lomba blog Airpaz dengan tema Keliling Nusantara Menikmati Keindahan Indonesia

74 COMMENTS

  1. Gili Labak ini memang booming ya akhir-akhir ini. Fasilitasnya sepertinya cukup memadai, cantik sih memang. Tapi ikut khawatir juga jika terumbu karangnya ada yang sudah rusak.

    Nek nang Kupang melu po’o, tapi koyoke saya numpak kapal saja πŸ™

  2. ciyee, sandalnya aja berduaan, yg pake sandal sendirian?

    kok kata saudara ane yg asli sana kok gili labak jelek ya, ah masalah selera saja

  3. Waaah…, ga rugi itu, Mas Alid, bisa rame-rame ke Gili Labak. Semoga suatu saat saya bisa ke sana πŸ™‚

    Ohya, Mas, setelah bertemu langsung di rumah Pakde Cholik, sekarang saya dolan ke blog sampean yang asyik ini, Mas.

  4. Allahu Akbar manis banget pantai dan lautnyaa.. bersiihhhh.. beneran bersih dari sampah, kan, Lid?? seger banget ngeliatnyaaa..
    btw, aku belum pernha senorkeling, loh, Lid.. aku cinta pantai tapi aku takut sama laut, naik banana boat aja megap2, padahal iri banget sm orang2 yg bisa nyebur ke laut.. piye ikii????

    • Sampahnya masih tetep ada hahaha… mulai sekarang latihan di air haha. Kayak aku dulu pertama kali snorkeling malah nggak bisa menikmati tapi ribet benerin pelampung, padahal bule-bule cemplang-cemplung. Sekarang karena mayan sering walau nggak bisa renang tapi tenang ga panikan ketika nyebur di air. Intinya sering-sering bercumbu dengan air deh, entah di kolam apa kapal.

  5. Keren si biru lautnya. Tapi sebagai anak pesisir, saya prefer ke gunung ya hshaha, mungkin karena daerah saya ga ada gunung2 yang tinggi.
    Lgian ke Pantai bikin gosong kulit

  6. Aku gampang bosan nek ning pantai ya. Embuh kenapa. Mungkin karena aku tiap hari merasakan pantai, dia berada di hatiku yang seluas samudra.. #halah

  7. Gili Labak ini lagi ngehits ya. Sering banget diobrolin di grup komunitas backpacker-ku. Memang bagus, jadi wajar kalau booming.

    Eh ngomong-ngomong, tulisanmu sekarang lebih enak dibaca, mas. Ukuran font, tanda baca, gaya bahasa. Bagus bagus, lanjutkan. Maaf, saya pembaca yg lancang kasih masukan πŸ˜€

Leave a Reply