Jalan-jalan Santai Keliling Saigon

58

Fast reader silahkan pergi! Dibaca normal hanya butuh 4 menit dari hidupmu.

“Kamu ke rumahku dulu yak, nanti kita sarapan Com Tam, baru keliling Saigon,” balas seorang kawan asli orang Vietnam yang saya kenal dari Instagram. Minh namanya, dibaca Meng seperti mengeja “mengapa” sesuai lidah Vietnam. Sudah lama kami saling follow di Instagram. Ketika saya ke negaranya dan mampir ke kotanya saya minta untuk kopdaran dan dia mengiyakan. Bahkan dia bersedia mengajak saya keliling kota Ho Chi Minh naik motor. Hari itu adalah hari terakhir saya di Vietnam dan esok paginya saya harus pulang ke pangkuan ibu pertiwi. Seminggu di Vietnam saya benar-benar sakaw nasi pecel dan rujak cingur.

Saya hanya bisa menelan ludah saja melihat Minh makan dengan lahap sepiring Com Tam dengan lauk daging panggang yang menggoda selera. Glek! Sementara saya hanya puas dengan sebutir telur ceplok. Bisa ditebak kalau daging panggang tersebut adalah daging babi. Kenapa juga tadi saya tanya ke Minh itu daging apa. Coba saja saya nggak usil bertanya, mungkin saya sudah menikmati lezat dan haramnya daging babi haha.

Com Tam atau broken rice adalah kuliner khas Saigon. Kalau di Jawa, beras patah di sebut menir. Itu tuh beras kecil-kecil sisa produksi penggilingan beras. Konon zaman perang dahulu rakyat Saigon hanya bisa beli dan masak beras menir untuk makan.

Dari kiri: Minh, Saya, Hung

Sambil menikmati sarapan, Hung kawan sekolah Minh datang bergabung. Rencananya kami bertiga akan keliling HCMC. Saya di Ho Chi Minh City tidak riset tujuan wisata, jadi saya mengandalkan mereka berdua untuk eksplor kota terbesar pertama di Negeri Paman Ho ini. Lagipula saya ingin jalan santai saja karena sudah capek setelah berhari-hari keliling Vietnam dari utara hingga selatan. Bukankah berwisata tidak melulu tentang tempat wisata. Santai keliling kota pun juga menyenangkan. Bahkan saya sengaja melewatkan kunjungan ke Chu Chi Tunnel.

Gedung Parlemen

Saigon alias Ho Chi Minh City kondisinya mirip dengan kota-kota besar di Indonesia. Panasnya sama, ruwet transportasinya juga sama. Banyak motor di jalanan daripada kendaraan roda empat. Satu rumah bisa memiliki empat kendaraan bermotor atau sesuai jumlah penghuninya. Mirip dengan di negera kita. Apalagi kreditan motor gampang dan murah. Dulu kota ini namanya Saigon tapi diubah menjadi Ho Chi Minh City mengikuti nama pejuang kemerdekaan Paman Ho Chi Minh atau biasa disingkat HCMC. Kira-kira nanti nama saya dijadikan nama kota nggak ya? Lucu kali ya kalau kenek angkot teriak “Alid… Alid… Alid”

Setelah sarapan kami bertiga menuju Reunification Palace atau Independence Palace. Bangunan megah ini dulunya adalah tempat kerja dan kediaman presiden Vietnam Selatan pada masa perang. Bangunan ini juga menjadi tempat berakhirnya Perang Vietnam pada tahun 1975. Perang Vietnam berakhir ditandai dengan digempurnya gerbang bangunan ini oleh pasukan Vietnam Utara. Setahun setelahnya yaitu pada tahun 1976 Vietnam Selatan dan Vietnam Utara bergabung dan bersatu menjadi Vietnam. Baru tahu ya kalau Vietnam pernah terpecah menjadi dua negara berbeda.

Bagi penyuka foto bergenre minimalis dan ootd tempat ini cocok banget buat pemotretan. Sayangnya saya kurang begitu bernafsu untuk foto-foto. Lucunya kedua kawan saya yang sejak kecil tinggal di HCMC ini baru dua kali ke Reunification Palace. Pertama saat sekolah dasar dan yang kedua adalah saat mengantar saya.

Dari Reunification Palace kami berjalan kaki menyebrang jalan dan taman. Seketika itu saya bengong terkesima melihat gereja megah di seberang jalan. Notre-Dame Cathedral Basilica of Saigon yang didominasi warna merah khas batu bata dan bergaya arsitektur Roma. Gereja ini termasuk gereja tua yang selesai dibangun tahun 1880. Sampai sekarang gerejanya masih dipergunakan untuk ibadah. Niatnya mau masuk tapi kebetulan ada orang kawinan jadi hanya puas menikmati dari luar. Lagipula percuma juga kalau kawinan di gereja biasanya nggak ada makanan gratis haha.

Tepat di samping gereja terdapat Kantor Pos Pusat Saigon yang dibangun tahun 1886-1891. Sama dengan gereja, bangunan ini masih berfungsi dan digunakan hingga sekarang. Nggak heran jika tempat ini menarik banyak wisatawan karena bentuknya yang unik bergaya arsitektur gotik.

Saya manut saja ke mana Minh dan Hung melajukan sepeda motornya. Cukup duduk manis di belakang. Kalau mau foto saya cukup bilang dan mereka akan berhenti. Saya diajak ke A3 Station di mana banyak grafiti dan toko benda seni. Tempat ini dulunya gudang terbengkalai yang sekarang disulap jadi tempat seni dan kreasi. Otomatis banyak anak muda yang menjadika tempat ini tujuan untuk berfoto ria. Yang mau kawin katanya banyak yang ke sini untuk foto pre-wedding. Kebetulan ada yang lagi foto prewed, ngelihatnya saja bikin baper dan pengen bakar mereka bhuahaha.

Mas ini berkebangsaan Prancis dan lagi kerja ngerjain grafitti pesenan. Saya lupa namanya tapi kayaknya dia terkenal

Nggak ada setengah hari keliling Saigon, setelah dari A3 Station Hung pamit karena akan kerja paruh waktu. Sementara saya diantar Minh ke Benh Tanh Market dan berpisah dengannya. Mungkin masih banyak tujuan wisata di sekitar Saigon kalau mau riset. Tapi saya menikmati waktu singkat dengan mereka.

Prewed yang bikin baper

Yang paling kanan adalah penyusup

Sembari membunuh waktu saya keliling Benh Tanh Market yang merupakan pasar paling terkenal di Saigon. Banyak turis yang ke sini untuk belanja oleh-oleh dan berburu kuliner lokal. Karena tidak ada satu barang yang menarik untuk dibeli, saya cabut dari pasar ini. Bukan karena tidak ada barang yang menarik tapi duit saya sudah sangat menipis. Hanya cukup makan siang dan ongkos bus ke bandara, serta makan saat transit di Kuala Lumpur. Makan malam saya minum air banyak-banyak bhuahahaha. Kere banget yak!

Besoknya sebelum pesawat saya lepas landas meninggalkan Saigon, Minh menemui saya di bandara hanya untuk mengucapkan selamat tinggal. Vietnam cảm ơn bạn và hẹn gặp lại sau.

Happy traveling!

58 COMMENTS

  1. Jadi terinspirasi juga, bagaimana kalau nama dijadikan sebagai nama kota ya>
    Ah….rasanya tidak mungkin,karena nama ini sudah terlalu ménstrim.
    *Yowes, jadi nama jalan aja juga nggapapa lah XD

  2. Aku juga punya teman lokal di sana. Malah mereka mengajar bahasa Indonesia hahahahha. Dulu kenal waktu trip mahasiswa internasional 😀

    Kudune koe nyicil foto neng gon prewed kok mas. Asal nggaet cah wedok neng kono 😀

    • Wah baru tahu ada pengajar Bahasa Indonesia di Vietnam. Populer ya bahasa Indonesia di sana? Setahuku yang banyak Ostrali hehe.

      Wong duitku aja cukup buat makan dan naik bus saja kok dikon nggaet cewek. Dilepeh engko

  3. Kok kita sama ya beb, HCMC jadi kota terakhir buat cuz balik ke Indonesia. Eh, aku ke Kualalumpur sih. Main-main manjah dulu sejenak. Dari semuanya memang paling suka sama Reunification Palace ini. Semua ruangannya instagramable. Bioskop mininya mengingatkanku pada salah satu ruangan di Megaria, Jakarta. Sebenarnya kantor pos pusat ini OK banget. Tapi di dalamnya banyak kios-kios kecil yang bukan punya pos. Kesannya jadi kayak pasar aja :'(

    • Aku transitnya juga KL sih, males keluar buat main-main manjah. Lagian udah sering juga ke KL nyamperin mantan wkakaka.

      Aku gak inget masuk ke bioskop mininya, mungkin gak pas jam tayang haha.

      Nah bener, di dalam kantor pos pun aku juga bentaran. Ini kantor pos apa pasar wkwkw.

  4. Akuuuu belum kesampaian nih ke Vietnam… Enaknya ke sana bulan apa Lid? Terus aku salah fokus sma foto prewed itu, mba-mba pengantin nya loncat terus kejelimet gaun gak setelahnya? Hahahahah xD

  5. Sori yo Lid, kudu ngomong yen konco Vietnam-mu luweh ganteng saka awakmu buahahaha. Duhh salah baca ini, jadi penasaran ama Ho Chi Minh, terus menatap nanar tiket Air Asia hangus dua kali rute ke sana…

  6. Kayak Jakarta yak banyak motor, tapi keliatan dari foto2nya lebih rapih tuh.
    Saigon asik juga, tapi tetep aku nyari pantai haha gak jalan2 ke pantai di Vietnam kah Mas?
    Buat vegetarian seperti diriku mungkin agak susah ya, makanannya sih bikin ngiler, tapi ga bisa dimakan ;( sama waktu itu ke Bangkok, susaah

    • Justru aku menghindari pantai kalau di luar negeri. Ke Filipina kemarin malah nggak ke pantai sama sekali. Urusan pantai di Indonesia lebih keren. Pada dasarnya aku ke mana aja oke, gunung, laut, kota, budaya, sejarah. Tak hajar semua bhuahaha.

      Di Indonesia saja susah banget nyari makanan vegetarian. Aku mencoba vegetarian bertahan sebulan doang wkwkw. Klo lagi nongkrong di kafe susah mau mesen apa wkwkw.

      • Oh kalo Filipina aku pengen banget ke boracay, mirip R4 tp katanya lebih murah. Emang soal pantai dan laut Indonesia lebih joss.

        Masih di Pulau Jawa mah gampang, tinggal makan gado2 pecel urap dkk. Ya emang kalo di kafe susyah, paling roti atau nasgor tinggal bilang “gak usah pake daging ya mas” hahaha

  7. wah baru tahu ada A3 station, itulah kelebihan jalan sama warga lokal ada tempat yang nggak begitu banyak turis yang tahu. kalo ke Benh Than market aku belanja pas malam hari yang kaki lima, lebih enak kalo mau nawar sadis, aku belum nulis lagi yang edisi HCMC

  8. Sebel sebel rindu aku ama HCMC :p. Udah hati2 banget, eeehhh masih aja kena scam :p. Pas mau kliling naik becak khas vietnam itu.. Kita pesen 2 becak utk masing2,mana aku sempet2nya kasiaan ama pengayuhnya yg udh tua bangka.. Bisik2 ke suami, “nanti byar kakek2nya dilebihin yaaa”., tau2nya tuh 2 kakek nipu banget.

    Hrg yg udh kita deal di awal, dibilang salah, vnd 300rb. Jd mksd dia, VND 300rb itu utk per orang, perjam pula. Najisss banget.. Mana kita klilingnya 5 jam. Doaku lgs berubah, moga2 tuh 2 penipu matinya susah wkwkwk.. Tp ttp sih, aku msh mau ke vietnam, utk visit sapa, hanoi dan kota2 lainnya 😀

Leave a Reply