Karapan Sapi: Sebuah Tradisi, Gengsi, atau Hanya Sekedar Eksploitasi?

50

Fast reader silahkan pergi! Dibaca normal hanya butuh 4 menit dari hidupmu.

Dulu sekali ketika kecil saya benar-benar penasaran dengan yang namanya Karapan Sapi lantaran ada rekan ayah yang sering main ke rumah dan beliau banyak bercerita tentang Pulau Madura. Begitu bangganya dan semangatnya setiap beliau bercerita tentang budaya-budaya Madura. Maklum beliau asli tulen orang Madura, tapi entah di mana beliau sekarang berada.

Beruntung tahun 2010 lalu saya berkesempatan menyaksikan langsung acara paling bergengsi bagi orang Madura. Beruntung juga saya bisa nginep di Pendopo Kabupaten Pamekasan bareng temen-temen traveling baik dari CouchSurfing maupun komunitas lain dari berbagai daerah, bahkan yang dari Luar Negeri lumayan banyak. Jadi kita semua bisa nginep gratis, sarapan gratis, disambut lagi sama Bupati Pamekasan, masuk stadion tempat acara Karapan Sapi pun gratis, di tenda VIP lagi. Semua itu berkat salah satu anggota komunitas traveling kita asli Madura yang punya akses dengan orang-orang penting, kalau kita mah sok penting hehehe.

Gebyar Karapan Sapi tidak hanya menampilkan Balapan Sapi saja, sehari sebelumnya ada pagelaran Sapi Sonok yang menampilkan kecantikan dan keluwesan sang sapi. Sapi-sapi didandani secantik mungkin kemudian berlenggak-lenggok di catwalk jalanan layaknya model. Sayang saya tidak sempat menyaksikan pagelaran Sapi Sonok tersebut karena pagelaran dilangsungkan di pagi hingga siang hari padahal saya sampai di Madura pada malam hari. Tapi saya sempat menyaksikan Gelar Pesona Budaya di alun-alun Pamekasan yang menampilkan budaya dan kesenian Madura berupa tarian-tarian rakyat dari tiap Kabupaten di Madura. Menarik, meski Pulau Garam (Pulau Madura) kecil tapi jenis tariannya banyak sekali ragamnya.

Gelar Pesona Budaya Madura

Minggu pagi lautan manusia sudah memadati Stadion R. Soenarto Hadiwidjoyo Pamekasan, tempat berlaga atlet sapi dengan kualitas terbaik, Nggak tanggung-tanggung yang diperebutkan adalah Piala Presiden. Dari tiap Kabupaten di Madura yaitu Bangkalan, Pamekasan, Sampang, dan Sumenep mengirimkan atlet-atlet sapi terbaiknya untuk berlaga di medan perang terakhir, sebelumnya tiap Kabupaten menyelenggarakan pemilihan di tiap-tiap daerah yang kemudian pemenangnya akan diikutkan pada babak akhir untuk memperebutkan Piala Presiden. Lucunya, tidak hanya yang menang saja yang dapat hadiah, tapi golongan yang kalah juga dapat hadiah.

Tidak hanya piala saja, tapi hadiah berupa mobil bak terbuka menjadi hadiah untuk sang juara

Fisik sapi Madura sangat berbeda dengan sapi-sapi di Jawa yang sering saya lihat, kulitnya coklat dan lebih kecil dari sapi Jawa, meskipun kecil tapi tangkas dan gesit dalam berlari. Saya yang bersiap-siap dengan kamera untuk menjepret laju sapi tapi yang saya dapat hanya ekornya saja saking cepatnya. Bisa dibilang saya benar-benar nggak dapat gambar yang bagus huft. Kita para penonton dengan peluh rela berpanas-panasan demi melihat atlet-atlet sapi berlaga.Yang paling bikin kesal adalah persiapan untuk larinya lama banget, tapi ketika start eh tiba-tiba sudah di garis finish. Hampir nggak ada 1 menit. Aksi berikutnya menunggu lagi hampir 1 jam. Tips kalau mau lihat Karapan Sapi bawa pelindung tubuh dari sengatan matahari, topi dan kacamata adalah senjata wajib.

Sang atlet siap berlaga di medan perang

Sejarah pastinya mengenai tradisi Karapan Sapi tidak begitu jelas, menurut cerita rakyat yang berkembang bahwa dulunya di Pulau Sapudi di utara Pulau Madura yang merupakan tempat asal tradisi Karapan Sapi. Tidak heran kalau sapi dari Pulau Sapudi terkenal dengan kualitas tinggi dan mahal.

Konon Pangeran Katandur adalah sosok yang memperkenalkan dan mempopulerkan tradisi balapan sapi. Awalnya Pangeran Katandur mengajarkan cara menggarap lahan sawah di Pulau Sapudi yang gersang dengan menggunakan sapi dan menjadi subur dengan hasil bumi yang melimpah. Kemudian rakyat berlomba-lomba untuk menyelesaikan lahan garapan, lama-kelamaan akhirnya menjadi lomba adu cepat. Dan tanding adu cepat digelar untuk memperingati musim panen pada bulan September hingga Oktober.

Dari tradisi sederhana menjadi pesta rakyat paling bergengsi, karena jika sapinya menang bisa mengangkat harkat dan martabat serta kehormatan dari pemilik sapi. Tidak saja kehormatan yang didapat pemilik, sapi yang menang bisa sangat-sangat mahal harganya.

Untuk memperoleh kemenangan, sapi yang diperlombakan dipersiapkan dengan sangat matang, mulai dari makanannya, kandangnya, kebersihannya, kesehatannya, dan segala tetek-bengeknya. Asupan gizi seperti telur ayam dan jamu-jamuan juga rutin diberikan setiap hari. Tidak sejuta dua juta yang dikeluarkan untuk mempersiapkan sang atlet, bisa sampai puluhan juta. Joki yang bertugas untuk menunggang pun dipilih yang tubuhnya kecil, atau bahkan anak kecil sekalipun, supaya sapi tidak keberatan dan bisa melaju dengan cepat. Jadi sang atlet benar-benar diharapkan untuk menang, kata orang kalau perlu sewa dukun supaya melesat dengan sempurna.

Meskipun diperlakukan istimewa tapi sapi-sapi tersebut sangat menderita, saya mencoba ke kandang sang atlet dan melihat sendiri bokong/pantat penuh luka digaruk paku oleh joki penunggang sapi supaya berlari cepat, yang lebih ekstrim lagi dubur dan mata sapi diolesi balsem dan cabe super panas. Ngeri dan ngilu membayangkan bagaimana rasanya.

Eksploitasi sapi, tradisi pesta rakyat atau hanya gengsi semata yang jelas Karapan Sapi tetap menarik untuk disaksikan dan menjadi salah satu daya tarik wisatawan baik asing maupun lokal. Bagi yang penasaran untuk menyaksikan Karapan Sapi bisa cek di Dinas Pariwisata terkait untuk jadwalnya, yang jelas antara bulan September dan Oktober.

Tulisan ini disertakan dalam lomba blog untuk memperingati hari jadi dari komunitas blogger Madura atau biasa disebut dengan Plat-M, bekerja sama dengan bloggernusantara.com dan idblognetwork.com

Wonderful Indonesia and Happy Traveling

50 COMMENTS

  1. kenapa ujung-ujungnya jadi berbau lomba gini
    -.-

    tapi informasi yang lu dapet udah mantep lid
    udah kaya orang madura asli

    gue aja yg sehari2 ngomong madura blom pernah nonton beginian
    apalagi kenal sama pangeran kartandur dan sebangsanya
    enak juga ya maen di couchsurfing bisa dpt teman yg mau jadi host

    • ahahahahaha biarin aje yee ikutan lomba hahaha,,, toh tetep temanya traveling getuuu :p yah kebetulan pernah liat secara langsung Karapan Sapi tapi belum sempet nulis. nah kebetulan ada lomba yang mayan hadiahnya hwakkakaka…. sirik looohhh,,, lo aja ikutan lomba DPD masak gue gak boleeeeeeeeh :p

      Gue kan pangeran juga, jadi kenal dong sama pangeran Katandur hwakkaka…

    • untuk sementara blom ada, tapi kalau ada kesempatan lagi pengen ke Slopeng dan tempat-tempat bersejarah di Madura, kangen dengan rasa rujak Madura yang gimana gitu πŸ˜€

  2. Karapan sapi, sebuah tradisi yang kemudian menjadi gengsi bagi masyarakat sekitar. Kita semua mungkin sudah tau, betapa mahalnya harga sapi yang menjadi juara. Disinilah letak gengsi dari karapan sapi itu.

  3. Yang saya tahu karapan sapi merupakan sebuah tradisi yang ada di Madura. Kebanyakan sapi yang diikiutkan lomba, dirias bagaikan raja. πŸ™‚

  4. salah satu budaya yang menarik buat turis2 asing, di indonesia, upacara pemakaman (di toraja) aja bisa jadi wisata yg menarik.
    kemarin di tv liat karapan kerbau, lapangannya di lumpur, itu di mana ya?

    • Ho oh bener banget, Makam serta prosesi pemakaman di Toraja emang salah satu tradisi dari sejak jaman megalitikum (klo gak salah).
      Klo karapan kerbau itu adanya di Padang, tau nggak kata ‘Minangkabau’ itu dari ‘Menang Kabao=Kerbau” dan banyak rumah-rumah adat di sana memakai simbol tanduk kerbau juga.

  5. Saya juga ikut menyaksikan karapan sapi tahun 2010 itu, tidurnya juga di rumah dinas bupati. Kalau mau ngambil foto sebainya jangan dari tribun, langsung di pinggir atau garis finish aja.

  6. Kadang memang butuh pengorbanan utk mendapatkan sesuatu *ceile..
    Tapi wajar sih kalau baru pertama kali lihat karapan sapi dan
    ga ada rencana hunting foto.

  7. iyaa yaa Lid.. saya aja ngeliat delman rasanya sediih banget, apalagi sampe liat karapan sapi gitu.. nggak tega rasanya.. semoga metode yang digunakan untuk lomba bergengsi itu, lebih manusiawi yaa.. tidak harus dicambuk atau dikasih balsem panas segala..

  8. Madura patut bangga punya karapan sapi, oleh karena itu saya punya jargonnya “Karapan Sapi Untuk Madura Untuk Indonesia”

  9. wah kalo aku hanya bisa melihatnya di tv saja Gan, belum punya kesempatan nnton secara langsung. Kayaknya seru abis dan menegangkan

  10. karapan sapi ini hanya diselenggarakan di madura ya mas..
    semoga tradisi ini tetap lestari dan tidak tergerus oleh perkembangan jaman yang mulai maju dan beranjak menjejaki masa modern dan kecanggihan

Leave a Reply