Mampir ke Kota Angin

55

Fast reader silahkan pergi! Dibaca normal hanya butuh 3 menit dari hidupmu.

Jadi ceritanya ini adalah trip yang sudah terjadi berbulan-bulan lalu tapi baru sempat ditulis, iya saya blogger murtad huhuhu. Dan ini adalah cerita di mana saya berhasil mewujudkan cita-cita Cak Ndop mentraktir saya secara maksimal. Memang salah satu resolusi tahun 2015 blogger kondang asal Nganjuk tersebut adalah ingin banyak-banyak bersedekah. Tunggu apalagi segera hubungi beliau untuk dapat santunan ngiahahaha.

Sudah lama sebenarnya ingin sambang ke Kota Angin Nganjuk, toh jaraknya hanya selemparan batu saja dari Jombang. Semalam sebelumnya saya kontak blogger paling ngehits se-Kabupaten Nganjuk Cak Ndop untuk menemani saya jalan-jalan di kota tempat dia bernaung. Karena tidak kuasa menolak kedatangan tamu agung dari Jombang Cak Ndop terpaksa mengabaikan pekerjaannya demi bisa menemani saya. Maklum saya dadakan banget minta tolongnya hehehe.

Ada apa sih di Nganjuk? Ada beberapa air terjun dan peninggalan bersejarah. Saya ditemani Cak Ndop seharian itu hanya sempat mengunjungi air terjun yaitu Air Terjun Sedudo. Dan juga peninggalan bersejarah yaitu Candi Lor.

Ke Nganjuk tidak mengunjungi air terjun paling ikonik dan spektakuler di sana rasanya hidup ini hampa tanpa kamu, halah. Jadilah tujuan utama saya ke Nganjuk adalah ke Air Terjun Sedudo yang lokasinya sekitar 30 kilometer ke selatan Kota Nganjuk.

wpid-nganjuk-8.jpg

Untuk menuju ke sana sangatlah mudah karena transportasi umum dan jalanan sangat memadai. Tapi alangkah baiknya membawa kendaraan sendiri. Soalnya begitu sampai di Terminal Sawahan tidak ada lagi kendaraan umum yang menuju ke lokasi, adanya hanya ojek dan itu MAHAL. Saya sih santai karena dibayari sama Cak Ndop. Tapi kasihan dia mbayari dua tukang ojek sekaligus sebesar 65 ribu masing-masing untuk pulang pergi dari Terminal Sawahan ke Air Terjun Sedudo, tak dongakno tambah sugeh Cak! Sebelumnya Cak Ndop menyarankan untuk bawa motor saja dari Jombang tapi saya menolak dan ingin naik kendaraan umum saja. Agak nyesel juga karena seandainya saya bawa motor mungkin bisa mampir juga ke Air Terjun Singokromo. For your information, Cak Ndop ini walau tercatat sebagai orang kaya se-Nganjuk tapi beliau tidak punya motor dan tidak bisa mengendarai motor.

wpid-nganjuk.jpg

wpid-nganjuk-3.jpg

Air Terjun Sedudo yang berada di Kaki Gunung Wilis dengan ketinggian 105 meter merupakan air terjun tertinggi ketiga di Jawa Timur setelah Madakaripura di Probolinggo dan Jarakan di Magetan. Debit airnya kecil, udaranya sejuk, pepohonannya hijau nan asri, airnya dingin sedingin es. Tidak percaya, coba nyemplung! Saya mencoba bertahan di bawah guyuran air selama lima menit dan langsung melambaikan tangan ke kamera. Nggak kuat dinginnya brrrr…


wpid-nganjuk-6.jpg

Brrrrr

wpid-nganjuk-5.jpg

wpid-nganjuk-7.jpg

Selfie dulu

Konon katanya jika mandi di air terjun ini akan mendapatkan berkah, naik pangkat, disembuhkan dari segala penyakit, dan awet muda. Saya sih hanya ingin tetap awet ganteng dan awet kaya. Boleh percaya boleh tidak, itulah mitos yang beredar di masyarakat. Karena dipercaya demikian maka setiap tanggal satu Bulan Sura dalam kalender Jawa digelar ritual Parna Prahista yaitu upacara memandikan arca. Ritual tahunan yang sudah turun-temurun tersebut sekarang menjadi agenda rutin Pemkab Nganjuk yang menyedot banyak pengunjung. Saran saya kalau ke sana mending pagi-pagi karena siang sedikit akan banyak pengunjung yang berdatangan.

wpid-nganjuk-4.jpg

Setelah merasa ganteng dan awet muda kami kembali ke Nganjuk kota dan mampir ke Candi Lor. Bangunan bersejarah yang hampir ringsek tersebut adalah cikal bakal berdirinya Kabupatan Nganjuk. Adalah Mpu Sindok yang merupakan Raja Mataram pada tahun 937 memerintahkan untuk membangun sebuah bangunan suci sebagai pertanda penetapan sebuah kawasan. Hal tersebut tertulis dalam prasasti Anjuk Ladang yang ditemukan pada reruntuhan Candi Lor. Nama Anjuk Ladang disebutkan dalam isi prasasti tersebut dan dikaitkan dengan asal mula nama kota Nganjuk sekarang ini. Duh iri berat karena Nganjuk saja ada prasasti dan tugu tentang asal muasal kota itu berdiri, Jombang sendiri nggak ada hiks.

wpid-nganjuk-14.jpg

wpid-nganjuk-10.jpg

Bangunan candi terdiri atas batu bata dan hampir tidak berbentuk karena dimakan zaman. Beruntung ada pohon Kepuh yang telah tumbuh sejak tahun 1866 menopang kokoh sisa bangunan dalam lilitan akarnya. Jadi ingat Ta Phrom Angkor Wat di Kamboja yang bangunannya sama dililit dan ditopang akar pohon besar.

wpid-nganjuk-11.jpg

wpid-nganjuk-13.jpg

Capek belajar sejarah? Yuk makan! Melipir ke tengah kota Cak Ndop mengajak saya ke sebuah warung yang menyajikan kuliner khas Nganjuk. Nasi Becek atau Sego Becek adalah sejenis gulai kambing yang disiramkan ke nasi dan disajikan lengkap dengan sate kambing. Menurut Cak Ndop dari sekian warung Nasi Becek di Nganjuk yang menjadi juara adalah “Warung Pojok”.

wpid-nganjuk-17.jpg

wpid-nganjuk-18.jpg

Warungnya kecil, kalah besar dengan warung sebelahnya yang juga berjualan menu yang sama. Tapi rasanya nendang dan maknyus. Warung Pojok yang berlokasi di Jalan Dr. Soetomo tersebut sudah berdiri selama tiga generasi dan buka setiap hari dari pukul 10 pagi sampai 10 malam.

wpid-nganjuk-16.jpg

 

Selamat Makan

Yang saya suka adalah daging kambingnya yang tidak berbau dan empuk banget, bumbunya meresap ke dalam dan… halah saya nggak cocok menulis review makanan hahahaha. Intinya wuenak tenan, top markotop, wong gratis hihihi. Terima kasih kepada Cak Ndop yang telah sudi menemani dan mentraktir saya, tak dongakno seger kewarasan, tambah sugeh, tambah ganteng, tambah sombong. Amin!

Keep travel safe and wonderful Indonesia!

55 COMMENTS

  1. Dengan akar -akar pohon yang mencengkeram, keberadaan Candi Lor jadi terlindungi ya Mas. Mudah-mudahan pohon dan candinya terus terjaga. Lumayan sebagai heritage generasi mendatang Nganjuk

  2. kita beruntung yo Lid, bisa keliling2 Nganjuk ditemani artis kaporit se-kabupaten Nganjuk, wakakakak 😀

    Tapi aku nggak beruntung, nggak bisa masuk Candi Lor karena masih kekunci…T.T

  3. Haduh, jadi lapar lapar lapar melihat sego beceknya Mas :huhu. Waa, Nganjuk adalah salah satu tempat yang tidak boleh dilewatkan. Air terjun dan candinya keren banget, mudah-mudahan bisa ke sana.
    Tapi candinya dibangun dengan bata merah ya–suatu kebetulan yang menarik dari candi zaman Mpu Sindok–bata merah kan baru terkenal pas zaman Majapahit, ya :hehe.
    Eh Mas tapi Jombang juga bersejarah banget lho kalau menurut saya. Mpu Sindok kan memindahkan ibukota ke daerah sekitar Jombang, kalau saya tidak salah :hehe.

    • Wah klo urusan terkenalnya kurang paham, sebab setahu saya bata merah 3000 SM di Mesopotamia udah dipakai hahaha. Tapi Candi di Trowulan memang mendominasi penggunaan bata merah, beda dengan candi Panataran yg pakai batu andesit.

      Jombang kurang bukti-bukti tertulis sayangnya, bahkan hari jadi jombang saja masih diperdebatkan 😀

  4. Dulu waktu ke Sedudo, sekitar tahun 1996, aku jalan kaki dari Sawahan ke air terjunnya. Waktu turunnya untung dapet tebengan, kalo enggak ya mungkin bakal jalan kaki lagi….
    Tahun 1996 itu jaman aku masih kelas 3 SMP, hehehe… udah lama bingit yaaa….

  5. Air terjunnya keren. Akar yang melingkar di batu-batu candi itu juga keren.
    Sego becek ,namanya khas. Nanti ke Nganjuk minta traktir juga ah sama cak Ndop, hehe…
    salam

  6. aku bolak balik lewwat nganjuk tapi belum pernah nginajkin kakai ke air terjunsedudo,lihat tulisannya ja hehehe. ternyata bagus ya…kalau mudik,semoga bisa jalan2 kesini^^

  7. Sebagai wong sugih dewe sak nganjuk (versi koran Radar Alid) tapi gak nduwe motor kuwi aku merasa semakin sombong saja. Betapa down to earthnya aku ya.

    Wisata Nganjuk wis entek Lid. Guo Margotresno aku gak njamin kowe seneng. Mugo2 suk instameet ndik kono. Tapi tempate apik digawe foto2 sih. Tapi apike standar. Hahahaha..

  8. itu candi lornya fotogenik bingit!

    tau sedudo dari blognya dzofar juga.
    mungkin kalo air terjunnya lebih sepi bisa dapet jepretan keren tuh

  9. Bertambah lagi daftar hal-hal keren dari kota ini, selain lagu Alun Alun Nganjuk yang sering didendangkan petugas parkir depan kantor setiap pagi. Sate kambingnya pakai deodoran yak?

Leave a Reply