Manisnya Kemenangan Di Puncak Seoraksan

39

Fast reader silahkan pergi! Dibaca normal hanya butuh 6 menit dari hidupmu.

Seperti di postingan sebelumnya kami kehabisan tiket bis ke Sokcho di propinsi Gangwon di bagian utara Korea. Ke Gangneung kota terdekat Sokcho pun tiket sudah ludes terjual, mau nggak mau harus merubah rencana perjalanan. Diputuskan langsung ke Seoul dan dari sana bisa lanjut ke Sokcho. Tapi nasib baik selalu menyertai kami, tiba-tiba mbak penjual tiket bilang kalau ada kursi untuk dua orang ke Gangneung. Yes akhirnya bisa langsung ke Sokcho langsung tanpa ke Seoul dulu. Bis berangkat pukul 23:45 dengan harga 39,100 Won atau sekitar 450 ribu rupiah, itu adalah tiket bis termahal yang pernah saya beli hiks. Karena masih lama berangkatnya kami ada waktu untuk sekedar bersih-bersih badan. Sialnya toilet-toilet di Korea nggak ada air, hanya tisu saja. Jadi terpaksa kalau mau boker harus beli air mineral yang lumayan mahal dan jangan buang botolnya untuk sesi berikutnya bisa ambil air di wastafel hahaha.

Bis berangkat tepat pukul 23:45, bis melaju meninggalkan Busan di tengah kegelapan. Selama 5 jam perjalanan saya tertidur pulas dan keringetan karena pemanas yang menyala, maklum di luar sangat dingin. Tadi katanya sih habis kursinya tapi ternyata penumpangnya lumayan sepi, saya bisa tidur selonjoran pakai kursi kosong sebelah saya. Sampai di Gangneung masih gelap dan sudah ada orang yang menawari bis ke Sokcho dengan biaya 7000 won sekitar 80 ribu rupiah untuk 1 jam perjalanan. Nggak sampai satu jam bis sudah sampai di terminal Sokcho, mungkin masih sangat pagi jadi jalanan lancar. Sembari menunggu bis ke Seoraksan saya leyeh-leyeh di ruang tunggu terminal Sokcho.

Pagi di Sokcho

Udara masih segar dan matahari masih malu-malu menampakkan sinarnya, suhu begitu dingin menusuk pagi itu di Sokcho. Bruakakakaka berasa jadi pujangga deh pakai bahasa gituan :p. Dengan menumpang bis kota seharga 1100 won atau sekitar 12 ribu rupiah kami memulai perjalanan ke salah satu Gunung di Korea Selatan. Di tengah jalan naiklah rombongan geng Malaysia dan dua orang Indonesia yang semuanya cewek dan salah satu dari mereka kenal dengan Jard kawan jalan saya yang juga sebangsa dengan mereka, sebenarnya mereka janjian untuk ketemu di Jeju untuk trip di Pulau Udo. Sebuah kebetulan yang ajaib, padahal mereka nggak janjian ketemu di Sokcho tapi tiba-tiba saja bertemu di dalam bis di negara lain. Jadilah kami ramai-ramai jalan-jalan di Seoraksan pagi itu. Deuh berasa paling ganteng sendiri di antara para gadis muahahaha.

Seoraksan adalah gunung tertinggi ketiga di Korea Selatan setelah Hallasan di Jeju dan Jirisan. Seorak berasal dari kata Seol yang berarti salju dan Ak yang berarti besar, sedangkan San tentu saja Gunung, secara harfiah artinya adalah Gunung Salju Besar. Dinamakan begitu karena katanya salju tidak akan pernah meleleh sehingga batuan di gunung jadi putih permanen. Tapi saya nggak lihat satupun salju di sana, maklum saat itu sedang musim gugur yang merupakan musim di mana banyak sekali turis berdatangan. Sebenarnya di Seoraksan banyak sekali puncak dan spot tujuan para turis, berhubung saya dan Jard merencanakan hanya sehari saja di Seoraksan jadi hanya 3 tempat yang bisa kami datangi dan itupun sudah membuat kami menangis. Memasuki wilayah Taman Nasional Gunung Seorak turis diwajibkan bayar tiket masuk sebesar 2500 won atau sekitar 30 ribu rupiah.

Puncak Gwongeumseong

Menuju ke puncak Gwongeumseong adalah yang termudah dan tidak perlu susah payah karena ada cable car. Karena masih pagi antrian tidak begitu banyak, kalau siang duh bisa-bisa ditutup karena cable car kelebihan kuota penumpang sampai sore. Untuk bisa naik cable car harus bayar 9000 won atau sekitar 100 ribu rupiah pulang pergi, hiks mahal.

Sampai di tempat pemberhentian kami berjalan mengikuti jalan yang sudah dibangun sedemikian rupa. Nampak beberapa pohon berubah warna dari hijau menjadi merah karena musim gugur, walau nggak warnanya belum merata tapi lumayan bisa mengobati rasa penasaran perubahan warna daun di musim gugur di Korea, dulu waktu di Jepang juga sedang musim gugur tapi nggak terlihat satupun pohon berdaun merah.

Daun yang mulai tampak merah

Sampai di puncak Gwongeumseong saya dibuat takjub dengan pemandangan sekeliling yang hijau dan berbatu coklat muda. Ternyata pinggir jurang yang saya pijak belum puncak sebenarnya, masih ada puncak yang lebih puncak lagi yang untuk ke atas harus sedikit bersusah payah dan berhati-hati. Dengan berpegangan pada seutas tali yang disediakan saya memanjat naik ke atas, angin dingin kencang menerabas tubuh saya yang lemah belum sarapan. Saya berkali-kali bilang ke Jard kalau nggak mau menyesal seumur hidup kamu harus naik walau menakutkan. Sampai atas saya bisa melihat kota Sokcho dari atas ketinggian ditemani kencangnya angin. Puas di atas kita turun untuk melanjutkan ke air terjun legenda.

Penjaga Gunung
 

Air Terjun Biryong

Tidak seperti puncak Gwongeumseong yang tinggal naik cable car dan trekking sebentar sudah sampai di tujuan, kalau ini kami harus jalan kaki ke tengah hutan selama 2 jam pulang pergi. Nggak susah juga sebenarnya ke air terjun yang katanya melegenda tersebut, soalnya jalur trekking sudah tersedia dengan lebar dan tanpa menanjak. Ada beberapa jalur sih yang mengharuskan kita naik turun tapi tidak begitu melelahkan, yang ada kita lemas karena kelaparan hehehe.

Air Terjun Seiprit

Harusnya pepohonan yang kami lihat sudah berubah warna tapi semuanya serba hijau, sampai di air terjun saya hanya mengumam dalam hati “oh ini toh air terjun yang katanya melegenda itu”. Hanya air terjun kecil yang mengalir jatuh ke sungai berbatu, namanya sih keren Biryong atau Naga Terbang tapi kelihatan seperti Cacing Terbang hahahaha. Setidaknya rasa penasaran saya sudah pupus dengan melihat air terjun yang jadi salah satu highlight wisata di Seoraksan. Yang saya suka adalah suasana yang asri dan gemericik sungai di tengah hutan membuat hati menjadi tentram #tsah.

Puncak Ulsanbawi

Inilah puncak yang sepuncak-puncaknya, puncak yang membuat saya kepayahan dan menangis, puncak dari segala puncak penderitaan dan kebahagiaan. Tertulis di buku panduan jarak dari mulai trekking menuju Ulsanbawi hanya 3 kilometer, ah enteng cuma 3 kilo, pulang pergi 6 kilo. Dan dibutuhkan waktu 3 jam pulang pergi. Tapi kami butuh lebih dari 5 jam pulang pergi, kenapa?

Jangan tanya, untuk menuju puncak kami harus mengandalkan tenaga sendiri. Awalnya jalan setapak biasa-biasa saja, lama-lama makin menanjak naik dan naik dan naik, duohhh. Kepayahan dan kelaparan, kami hanya makan maggi (mie instan) yang dibawa Jard dari Malaysia untuk makan siang. Sudah kepalang tanggung nggak mungkin kami kembali ke bawah. Tiba di Heundeulbawi tempat pemberhentian kami beristirahat sebentar sambil berfoto dengan batu besar di atas batu yang bisa digeser-geser tanpa takut jatuh, di situ juga ada kuil yang menawarkan sumber mata air alam untuk bisa diminum.

Heundeulbawi

Kaki cenat-cenut kesakitan karena dari awal sampai di Korea belum istirahat sama sekali dan sudah nekad menghajar naik gunung. Setapak demi setapak, sejengkal demi sejengkal, kami berdua saling memberi support bahwa kita bisa menaklukkan puncak Ulsanbawi. Beberapa orang yang sudah dari atas melihat kami kepayahan juga memberikan semangat “Aja Aja Fighting!!!” kalimat khas penyemangat orang Korea tersebut berkali-kali kami dengar dari orang yang melintasi kami. Air minum bekal sudah semakin tipis dan lama-lama habis, kehausan, keringetan, kedinginan karena angin yang berhembus. Herannya banyak turis yang usianya sudah tidak muda alias tua begitu bersemangat naik gunung, mereka beramai-ramai hiking dengan kelompoknya.

Uwooooh ada panjat tebing ^^

Begitu sampai puncak saya menangis bahagia begitu melihat pemandangan yang disajikan dari atas Ulsanbawi. Pelajaran dalam hidup adalah memang tidak mudah mencapai puncak kesuksesan, kemenangan begitu manis. Jika sudah di puncak jangan pernah jatuh lagi ke bawah, dan saya harus jatuh lagi ke bawah untuk bisa merasakan kepedihan itu, ah ciyee bahasanya keren. Ya masak harus tinggal di atas terus hehehe.

Jalan yang sudah dibuat sedemian rupa untuk memudahkan pengunjung
 

Yang paling saya butuhkan ketika mencapai puncak adalah air, tenggorokan sudah kering dan hanya ada pedagang teh Korea dalam plastik kecil seharga 50 ribu rupiah. Saya yang pelit mana mau beli teh seiprit begitu. Kami sudah hilang kontak dengan rombongan geng Malaysia dan kami yakin juga mereka nggak akan nekad naik ke Ulsanbawi. Total hari itu kita jalan kaki sepanjang 10 kilometer lebih dan energi dari mie instan serta beberapa potong coklat. Pulang dari Seoraksan saya tidur pulas dalam bus menuju Seoul, kaki penuh dengan tembelan Salonpas. Nyut-nyutan, masak saya harus tepar di hari kedua di Korea, padahal masih banyak tempat yang harus dijelajahi.

 

Puncak Ulsanbawi, Kemenangan itu begitu manis

Always Travel Safe and Happy Traveling!!!

39 COMMENTS

  1. hahaa. rasa mau menangis sekali lagi baca post ini. ulsanbawi in my heart! yg susah ditawan tapi berjaya jugak! yayy!!

    ps: akhirnya geng malaysia tak pergi pun ulsanbawi tu.. pfft!

  2. haduwh haduwh…….ceritanya, perjuangannya bikin keder duluan…kalau saya ke Korea sih mending hunting perkotaaan aja dah,,,but seru dah petualangan menaklukkan ulsanbawi…saya baru bisa menaklukkan Danau Kelimutu hahaha

  3. Lid di Korea lagi dingin ga waktu itu? warna daun-daun sudah berubah warna tuh berarti musim gugur.
    Ya ampunn kamu duduk ditepi jurang gitu ga serem jatuh??? hehe.
    Teh Korea 50rb mahal bener kamu ga bawa minum sendiri? 😀 .

  4. pertama-tama. saya kaget. terakhir kali main ke “rumahnya” alid. seingat saya nggak begini. sambil tengak tengok kiri kanan atas bawah, pegang-pegang furniture baru. wihhh. kueceh sekali renovasi “rumahnya”. bisikin dog abis berapa duit? pake gaya ibu-ibu rumah tangga he he he.

    wihh, , , petualangan di gunung negeri gingseng ternyata ceritanya. ini kayak “Semerunya korea gituh he he he.

    dulu waktu nanjak mati-matian di gunung indonesia. saya dan teman-teman sempat berkelakar. ah seandainya ada lift, ekskalator, dsb yang memudahkan kita di gunung. eh sekarang ddiceritain sama alid abdul di sini. saya nggak jadi deh gunung indonesia jadi modern kayak gini he he he. masih suka yang pahit2. 😛 kabooorrrr

    • Dih berarti bukan penggemar sejati hahaha, orang perasaan uda lama begini kok :p

      Klo urusan fasilitas klo pengunjung sadar akan kebersihan pasti enak deh :p
      gak ada fasilitas saja sampahnya dimana mana :p

      • iya sih. . . cuman beberapa kali sih saya mampir ke sini. jadi malu eike. cman seingat saya terakhir yang di madam thusaud itu nggak kayak gini tampilannya. ah sudah lah. yang penting terbukti kalo saya nggak sering maen ke sini. 🙁 hiks. . .

  5. Glek! belum sarapan tapi bisa mendaki gunung setinggi itu? Kalo aku pasti udah pingsan jatuh terguling-guling, hahaha.
    Nice story and pictures, Alid 😀

  6. huwahahha di atasku ada yg komen asal sok akrab mengira Alid tulisannya gak pernha begini.. dan sok akrabnya pun FAIL! hahahah

    AKu salut sama fasilitas tangga besi di batu ituu, seandainya Air Terjun Singokromo Nganjuk yg aku ulas kapan itu, dibiayai pemerintah mengenai jalan yg licin supaya dipaving kek. Ben gak medeni nemen2 haha..

  7. Wuih, keren ya? Dibuatin tangga untuk sampai ke puncak. Tapi tantangan dan kealamiannya sedikit berkurang kalau begitu. 🙂

  8. salam mbak.. minggu depan aku mau ke korea. kalau ke seoraksan tu, apa sempat sih kalau mau naik cable car & mendaki ulsanbawi dalam masa satu hari? kamu naik cable car duluan terus naik ulsanbawi, atau naik ulsanbawi terus turun dan naik cable car?

  9. Maaf … ku kira kamu yg cewek bertudung itu.. haaa.. maaf sekali lagi.. terima kasih infonya.. rencananya mau naik cable car & ulsanbawi.. makasih..

Leave a Reply