Mblusuk Keliling Kathmandu

23

Fast reader silahkan pergi! Dibaca normal hanya butuh 5 menit dari hidupmu.

Di hari-hari terakhir di Kathmandu saya menghabiskan belanja di Thamel yang super menyesatkan. Thamel pusatnya turis, banyak penginapan dari yang murahan sampai mahal. Toko souvenir dan toko outdoor bejibun hampir di setiap sudut. Saking besarnya Thamel saya sampai beberapa kali nyasar waktu kembali ke penginapan. Mana ada drama banjir lagi di Thamel setelah hujan deras. Jadinya harus memutar jalan dan makin nyasar setelah beberapa kali belokan. Jadi apa yang saya beli di Thamel. Iya saya belanja, tapi belanja mata saja bhuahaha.

Tempat wisata di Kathmandu hanya seputar kuil dan bangunan tua saja. Kathmandu Durbar Square yang terkenal itu jaraknya hanya selemparan batu dari Thamel. Yang agak jauh ada di Patan, saya ke sana naik angkot sembari melototin Google Maps yang datanya sudah saya unduh untuk digunakan secara offline di handphone.

Keliling Kathmandu agak tricky karena transportasi umum yang murah meriah hanya angkot. Otomatis sangat menyulitkan bagi turis seperti saya yang nggak mungkin tahu rute angkot di sana. Dan nggak mungkin juga informasi rute angkot ada di website, emangnya jalur Trans Jakarta atau Trans Jogja yang gambarnya lengkap. Jadi gimana dong? Naik taksi jelas mahal. Ya tanya penduduk sekitar solusinya, meski nanyanya susah payah karena nggak semua bisa Bahasa Inggris. Risikonya juga besar, udah benar naik angkotnya eh kesasar turunnya. Kenapa nggak rental motor? Lalu lintas di Kathmandu sungguh gila, belum lagi jalan banyak yang bergelombang dan rusak. Dan masih banyak jalan yang tidak beraspal, padahal menyandang sebagai ibu kota sebuah negara. Paling ngeri kalau jadi target tilang polisi di sana. Baca beberapa artikel, para turis kena tilang karena nggak bisa menunjukkan SIM Internasional.

Pagi itu saya ke Garden of Dreams yang lokasinya berada di Kaiser Mahal, dekat dengan hostel saya. Karena masih pagi, jadi nggak banyak pengunjung. Kalau dihitung-hitung, hanya ada saya dan dua pemuda yang lagi foto-foto. Lainnya petugas kebersihan. Tampilan taman ini sungguh kontras sekali dengan keadaan Kathamandu di luar yang berdebu. Rapi, bersih, dan serasa berada di Eropa karena arsitekturnya bergaya Neo Klasik. Taman ini milik pemerintah, sempat terbengkalai dan kemudian direnovasi tahun 2000-2007. Dan sekarang dibuka untuk umum. Selain bisa menikmati keasrian taman, pengunjung bisa mencoba makan di restoran di dalam taman ini. Nggak usah tanya apa saya makan nggak di sini, harganya tentu nggak ramah di kantong backpacker kere seperti saya.

Dari Garden of Dreams saya ke Ratna Park yang merupakan pusat keramaian, taman yang namanya diambil dari Ratu Ratna Rajya Laxmi Devi bisa dibilang pusat keramaian di Kathmandu. Terminal bus dan tempat angkot ngetem ada di sekitaran sini. Saya keringetan nyari angkot untuk ke Swayambunath. Beberapa angkot sudah saya datangi dan semuanya bilang tidak. Saya jadi curiga mereka nggak mau menerima penumpang orang asing. Atau memang mereka nggak paham ke mana tujuan saya. Di tengah kebingungan ada yang tiba-tiba menepuk pundak saya. “Hey you!” Saya nggak percaya bisa ketemu orang yang saya temui di Nagarkot dan Bhaktapur di tengah pusat kota yang penuh lautan manusia. Tentu saja saya minta bantuan dia untuk mencarikan angkot ke Swayambunath. Singkat cerita saya berada dalam angkot penuh sesak menuju Swayambunath.

Jangan dikira saya sudah selamat dalam angkot. Dalam perjalanan angkot berhenti menurunkan penumpang dan menaikkan penumpang. Yang jadi masalah adalah, angkot seupil itu diisi tidak sesuai kapasitasnya, alias uyel-uyelan. Saya sampai harus menekuk dengkul dan ketemu muka sendiri, bahkan muka ketemu pantat orang juga kejadian. Ketika yang di belakang turun, otomatis harus membongkar semua formasi. Begitu selesai menurunkan penumpang, yang lain berebut masuk angkot. Yang kurang agresif harus rela naik berdiri di pintu masuk seperti saya. Nggak sampai tujuan saya sudah menyerah, dari yang duduk di belakang, terus duduk di tengah, terakhir berdiri di pintu. Daripada berabe jatuh benjut, mana jalanan tidak beraspal dan berlubang. Nggak lucu kalau saya masuk headline koran Kathmandu dengan judul “Backpacker Ganteng Asal Jombang, Indonesia, Terjatuh Terjerembab Naik Angkot”. Huvt.

Untung jarak ke Swayambunath tidak terlalu jauh lagi. Beberapa menit berjalan saya disambut patung-patung Buddha beraneka bentuk dan pose, yes saya sampai di gerbang Kuil Swayambunath. Untuk ke kuil utama, pengunjung diharuskan menapaki 365 anak tangga. Di sebut juga Monkey Temple karena banyaknya monyet liar berkeliaran. Saya tuh suka parno kalau ketemu binatang liar, mana monyetnya agresif lagi. Dulu waktu ke Monkey Forest di Ubud, nggak sampai lima menit di dalam saya ngacir keluar. Takut euy. Beberapa kali saya lihat monyetnya merampas bekal seorang anak kecil.

Konon katanya di bagian barat daya kuil ini terdapat monyet hidup yang dikeramatkan. Monyet-monyet yang dikeramatkan terbentuk dari kutu rambut sang Bodhisatwa yang bernama Manjushri. Karena berada di ketinggian, saya bisa menyaksikan kota Kathmandu dari atas. Di belakang kuil ada kolam permohonan, siapapun bisa melontarkan koin ke patung Buddha di tengah sambil berdoa.

Dari Swayambunath saya mencoba bertanya ke orang bagaimana caranya ke Pashupatinath. Entah mereka yang nggak mengerti mau saya, atau memang nggak ada rute angkot ke sana. Akhirnya saya rela naik taksi. Di Pashupatinath orang asing diwajibkan membayar 1000 Nepal Rupee atau sekitar 130K Rupiah. Dan seperti biasanya saya nyelonong membaur dengan orang lokal. Alas kaki harus dilepas, meski lantainya kotor sekali. Saya sih sedia kantong plastik untuk menyimpan sepatu saya, jadi nggak usah dititipkan segala.

Rugi rasanya kalau harus bayar untuk masuk ke kuil ini, secara nggak ada apa-apanya. Lha wong tempat ibadah utama nggak boleh dimasukin jika kamu nggak beragama Hindu. Tapi kuil ini terkenal dengan tempat pembakaran jenazah yang berada di belakang di tepi Sungai Bhagmati. Ironi rasanya jika di seberang sungai orang lagi berduka, dan di seberangnya lagi orang ramai menonton. Lah saya sendiri juga ikut-ikutan menonton.

Dulu saya pernah ke Varanasi di India, dan sempat menyaksikan pembakaran mayat di tepi Sungai Gangga. Turis dilarang mengambil gambar saat proses sakral tersebut. Berlaku juga di Pashupatinath, mungkin. Saya yang menahan diri untuk tidak mengeluarkan kamera dan memotret, akhirnya memotret juga. Lha wong banyak orang yang menonton juga merekam dan memotret. Di sisi lain ada keluarga yang selfie dan foto bersama di depan jenazah sebelum akhirnya diumpankan ke bara api. Laaaaaaahhh. Upacara penghormatan terakhir sekarang sudah tidak begitu sakral lagi. Zaman saya masih kecil dulu, nggak banyak anak kecil yang ikut melayat jenazah hingga ke kuburan. Sekarang anak kecil jadi penonton paling depan ketika proses penguburan jenazah. By the way, saya menunggu lama sekali, hampir satu jam, tetapi tidak ada satupun jenazah yang segera dibakar.

Kesal menunggu, saya ngacir dan jalan kaki sekitar 3 km dari Pashupatinath menuju Boudhanath Stupa. Melewati jembatan, perkampungan, perumahan, dan ketika sampai di gerbang Boudhanath, matahari hampir surut. Kuil Budha ini mempunyai stupa paling besar di Nepal dan bergaya Tibet. Ramai orang mengitari stupa searah jarum jam sambil merapal doa, saya nggak yakin harus berapa kali mengitari stupa besar tersebut. Di sekeliling stupa banyak toko souvenir dan hotel. Ini malam terakhir saya di Kathmandu, saya habiskan dengan duduk merenung mengamati orang sembahyang dengan mengitari stupa. Damai.

Happy traveling!

23 COMMENTS

  1. Salah satu yang bikin gue kagum sama lo itu ya karena lonya berani aja eksplore negara orang yang lebih2 lagi untuk komunikasi aja udah susah. Hahahhaa.
    Keren deh, boleh ditiru.

    Emang ya suka gatel tangan ini buat foto kalo orang lain juga udah pada foto2 duluan, walaupun sebenernya dilarang wkkwkwk 😆

    • Mas Alid itu sudah fasih bahasa India, mas. Kalau nggak percaya, pas ketemu nanti ajakin ngomong India. Lengkap dengan gaya kepala yang agak bergerak. Sepertinya dia juga mau punya identitas ganda, Indonesia & India akakakkakakaka

      Mas Alid, untung kok yang liar di sana banyakan monyet sama Sapi. Sempat banyakan Kucing, apa nggak tambah heboh kamu 😀

    • Nah pertanyaan bagus, tetapi aku nggak bisa jawab, takut salah haha. Memang sekilas berbeda, setahuku di Bali menganut Hindu Dharma. Hari raya juga berbeda. Di Bali hari raya pakai kalender Saka, di India pakai kalender kuno India. Di India tidak merayakan Nyepi, sementara di Bali tidak merayakan Holi. Dari sekian hari raya, yang sama-sama dirayakan hanya Saraswati dan Siwaratri. Di India banyak yang vegetarian, meski ada juga yang enggak. Di Bali enggak. Duh nanti aku takut salah. Lah ngomongin tentang pembakaran jenazah, di India tiap menit ada yang meninggal. Ya kayak proses pemakaman biasa di Indonesia sih, gak khusus seperti Ngaben. Mana Ngaben mahal lagi. Makanya kadang diadakan Ngaben masal jadi bisa patungan. Budha saja bisa berbeda kok antar negara. Islam saja juga banyak aliran kok. Tapi semua ruhnya sama kok menuju kebaikan dan kebajikan. Halah

      • Iya, aku sampe salah tingkah pas ngucapin selamat diwali ke temen dari Bali yang Hindu. Ternyata mereka nggak ngerayakan.

        Suka tulisan ini Lid. Jadi kepengen liat langsung proses pembakarannya. Dulu di Varanasi agak gimanaaa gitu

        • Eh agak gimana gitunya gimana hahaha. Aku kena scam orang yang ngaku muslim di Varanasi, sok deketin, jelasin, diajak ke api abadi, bla bla bla trus minta duit. Tak kasih dikit minta banyak. Jurus sakti tak clathu dia pergi hahahahaha

  2. itu garden of dream warnanya memang berubah kak? waktu kesan warnyanya putih sedikit coklat tulang. Budhanat juga masih hancur waktu kesana, maklum kesana pas barusan gempa.

    Salut kakak naik angkot di Nepal, saya sewa mobil teru. hihihi

  3. Waktu itu aku ke Swayambunath jalan kaki dari Thamel. Gak terlalu jauh sih sebenarnya kalau dijalanin, cuma ya itu debunyaaa warbiyasak! Dan setahuku, kalau di Pashupatinath memang kita gak dilarang untuk ambil gambar ketika prosesi kremasi dilakukan. Yang penting sih gak terlalu dekat atau mengganggu prosesi mereka. Kalau misalnya dirimu stay lebih lama lagi aja di sana, malamnya bisa lihat upacara/aarti yang mirip-mirip dengan yang ada di Varanasi. Cuma bahasanya sedikit beda. Soalnya mereka menyanyikan lagu Om Jai Jagdish Hare, iramanya sama, tapi bahasanya beda.

    Btw itu jalanan desa dari Pashupatinath ke Boudhanath boleh juga tuh buat dicoba, aku belum pernah lewat jalur ini. Keliatannya menarik juga Lid.

    Nice post and pictures anyway. Kece!

  4. Nepal ini kan salah satu negara tujuan turisme di Asia, tapi dari cerita-cerita blogger, kesannya kayak nggak ada perubahan soal transportasi. Yangon udah punya bus ber-AC, Vientiane yang kayak gitu juga udah ada bus. Kalau aku jadi sampeyan, kayaknya bakal jalan kaki aja sesanggupnya hahaha.

    Kuil Swayambunath-nya keren btw.

Leave a Reply