Melihat Budaya Korea Lebih Dekat Di Panggung Terbuka

17

Fast reader silahkan pergi! Dibaca normal hanya butuh 3 menit dari hidupmu.

Hari terakhir di Busan seharusnya saya manfaatkan untuk mengunjungi beberapa tempat wisata di Busan seperti ke kuil Boemeosa dan Haedong Yonggungsa. Tapi berhubung saya sudah muak melihat kuil demi kuil sepanjang perjalanan di Korea jadi saya urungkan niat saya, paling modelnya itu-itu aja. Dan lagi kaki saya rasanya sudah bengkak karena jalan kaki naik turun bukit dan tangga selama di Korea, jadi butuh istirahat. Terus teman jalan saya Jard harus kembali ke negaranya lebih dulu daripada saya, jadilah saya temani dia berbelanja walau akhirnya dia tidak beli apa-apa >__< Setelah mengantar dia ke stasiun terdekat menuju bandara apa yang saya lakukan seorang diri? Beruntung di Yongdusan Park saat itu ada pagelaran seni di panggung terbuka, jadilah saya nonton dari awal sampai akhir pertunjukkan untuk membunuh waktu.

Kalau dulu di Suwon gagal melihat pertunjukkan budaya Korea karena cuaca yang mengerikan, kali ini saya puas melihat tarian-tarian dan pertunjukkan akrobatik secara gratis. Di manapun kalau pertunjukkan budaya pasti jarang anak muda yang terlihat nonton, saya lihat kebanyakan penonton adalah orang-orang tua. Mereka bersama rombongan, pasangan, keluarga, cucu, serta sanak kadangnya menanti pertunjukkan dimulai.

Penonton yang didominasi orang tua

Walau panas terik tapi pengunjung semakin berdatangan hanya demi menyaksikan tarian. Saya yang nggak mau ketinggalan pun sudah manyun menunggu duduk manis di tempat terbuka di bawah terpaan sinar matahari sejak jam 12, padahal acara dimulai pukul 2 siang, tempat yang teduh pun sudah ditempati segerombol orang. Tepat pukul 2 siang pertunjukkan di mulai dan MC nyerocos dengan bahasa Korea tanpa ada subtitle di bawahnya hehe. Penonton mulai bersorak bertepuk tangan menyambut penampil pertama dan kalau dilihat kemudian diterawang dia menyanyikan lagu klasik dengan alat musik sederhana sejenis perkusi yang entah apa namanya. Mbaknya cukup atraktif mengajak penonton untuk bernyanyi bersama dan serentak para orang tua mengikuti alunan dari mbak penyanyi. Walau nggak mengerti tapi saya menikmati nyanyian tersebut.

Samgomu Ogomu

Kemudian tampil mbak-mbak cantik dengan pakaian tradisional khas Korea menari-nari sambil memukul drum. Samgomu Ogomu, begitulah orang Korea menyebut tarian tersebut. Formasi penari adalah 5 orang dengan drum sebanyak 6. Gerakan yang serentak serta tabuhan yang berirama membuat decak kagum setiap penonton yang hadir. Kemudian ada juga penari solo membawa drum besar meliuk-liuk sambil memukul drum, gerakannya lebih kalem daripada formasi 5 penari tadi. Justru gerakan yang lambat dan pukulan genderang tersebut menyihir saya untuk tidak berkedip, atau memang yang naik panggung orangnya cantik ehehehe.

Hwagwanmu

Kemudian tampil juga beberapa penari dengan membawa bunga berbentuk menyerupai mahkota, nah yang ini disebut tarian Hwagwanmu. Setelah itu ada juga tarian Buchaechum yang penarinya membawa kipas besar dan kostumnya yang begitu berwarna daripada kostum tarian yang sebelumnya. Nah kedua tarian tersebut sering saya lihat di film atau drama Korea yang bersetting jaman dahulu. Keduanya juga begitu menghipnotis karena gerakan dan musiknya yang begitu kalem. Apalagi mereka juga membentuk formasi-formasi apik seperti membentuk lingkaran, formasi bunga merekah, lautan berombak, dan berbagai formasi yang semakin membuat penonton bertepuk tangan.

Buchaechum

Ada yang tidak saya mengerti ketika ada beberapa orang membawa drum dan simbal mulai memukul-mukul dan mengomel dalam bahasa Korea. Di tengah permainan dikeluarkan sesaji lengkap dan beberapa penonton maju untuk berdoa dengan menyelipkan uang ke sesaji kemudian ada petugas yang menuangkan soju (arak khas Korea) ke dalam gelas kecil, setelah itu pemohon bersujud 3 kali.

Ada yang berdoa

Terakhir ada penampilan Pungmul yaitu kolaborasi antara memainkan drum, menari dan menyanyi, atau biasa disebut dengan Nongak atau Tarian Para Petani. Musiknya begitu nge-beat dan berisik, ditambah pemain juga sedikit berakrobat dengan memutar-mutarkan kepala sehingga kuncung di topi bergerak berirama. Ini juga sering saya saksikan di drama atau film Korea. Sajian ditutup oleh seluruh pemain maju ke depan dan menari bersama.

Nongak

All star

Saya hitam di antara yang putih ^^

Ah beruntung rasanya bisa menyaksikan acara budaya di panggung terbuka dan itu gratis walau harus mengorbankan waktu untuk mengunjungi beberapa tempat di Busan. Selesai acara saya menghabiskan hari terakhir dengan menikmati dinginnya suhu di seputaran Pusan International Film Festival. Happy Traveling!!!

Yang punya koneksi dewa silahkan diputar VIDEO-nya

17 COMMENTS

  1. oooh tarian yang mukul drum itu namanya “Samgomu Ogomu” toh. aku suka sama tarian korea yang itu kak, asik aja ngeliatnya 😀 salah satu alasan kalau ada kesempatan ke korea nanti, pengen liat tarian itu 😀

  2. Awakmu kok rai gedheg ya, selalu sempet wae foto bareng penarine hahaha..

    Aku seneng karo warna kostume, apik dan modern! Walaupun itu budaya sudah dari zaman dulu pastinya

Leave a Reply