Mendadak Jadi Kenek Jeepney di Manila

18

Fast reader silahkan pergi! Dibaca normal hanya butuh 5 menit dari hidupmu.

“Po”, seseorang di samping mencolek saya dan menyodorkan uang Peso untuk kemudian minta diteruskan ke supir Jeepney yang saya tumpangi. Pak supir memberikan kembalian ke saya, dan saya kembali memberikan uang tersebut ke orang di samping saya. Mimpi buruk adalah ketika semua penumpang memberikan uang ke saya, dan saya menyerahkan ke supir. Kembali supir memberikan kembalian dan saya lupa ini kembaliannya siapa saja bhuahaha.

Supir Jeepney
Suasana dalam Jeepney

Saya lemah dalam mengingat orang, dan susah menghitung cepat. Tiba-tiba saja saya jadi kenek Jeepney dadakan di Manila. Semua orang memanggil dan mencolek saya, semuanya ngomong dengan bahasa yang nggak saya mengerti. Hanya setiap kalimat di belakangnya selalu diimbuhi “po” yang berarti panggilan sopan untuk pria dan wanita. Itu saja yang saya tahu. Apalagi saya juga kurang familiar dengan uang Peso. Yang saya lakukan adalah menyodorkan semua recehan yang ada di tangan saya, dan membiarkan mereka mengambil sendiri berapa kembaliannya. Misalkan ada yang curang dan salah satu penumpang duitnya kurang, biar mereka saling gebuk bhuahahaha.

Jeepney

Sial benar, niatnya pengen nyobain Jeepney yang merupakan kendaraan rakyat di Filipina. Eh malah jadi kenek hanya gara-gara salah duduk. Jeepney adalah bekas kendaraan perang tentara Amerika yang dirombak sedemikian rupa untuk dijadikan kendaraan umum. Modelnya memanjang dan kursi ada di samping kanan serta kiri. Penumpang masuk melalui belakang. Penumpang keluar masuk, bergantian, posisi duduk bisa berubah. Sial bagi saya yang tergeser tepat di belakang supir. Dan penumpang di belakang supir secara otomatis didapuk jadi kenek huvt. Penumpang paling belakang memberi uang ke saya, dan saya mengoper uangnya ke pak supir. Beberapa kali naik Jeepney, saya enggak mau bergeser ke kursi di belakang supir. Tetap saja saya kalah dengan orang lokal yang selalu mendorong-dorong saya hingga ke kursi panas di belakang supir. Kampret bener dah!

Kenapa saya mau-maunya ribet naik kendaraan umum di Filipina? Satu hal yang paling seru saat traveling adalah merasakan jadi masyarakat lokal. Entah itu mencicip makanan khasnya, atau mencoba transportasi umumnya. Kalau saya sendiri memang suka menggunakan transportasi umumnya daripada naik taksi. Selain bisa membaur dengan orang-orang lokal, bisa menghemat ongkos juga. Ah itu hanya alasan saja sebenarnya, sobat missqueen hanya bisa naik kendaraan umum yang sumpek panas dan berjubel.

Manila ibu kota Filipina menyandang sebagai kota dengan lalu lintas terburuk nomor tiga di Asia Tenggara setelah Bangkok dan Jakarta. Tetapi menurut saya macetnya Manila lebih parah daripada Jakarta. Pergi ke Museum Sepatu yang jaraknya hanya sekitar 10km saja saya sampai tidur pulas di dalam taksi online. Bangun tidur ternyata belum sampai juga ke tempat tujuan. Hampir dua jam di atas kendaraan, bikin senewen asli. Pernah juga saya terpaksa turun dari bus di tengah jalan, hanya gara-gara semua kendaraan nggak bergerak sama sekali. Semua penumpang terpaksa turun dan jalan kaki beriringan. Padahal busnya tinggal sekali belok dan sampai di pool.

Untuk menghindari kemacetan di Manila bisa naik Metro. Ada dua line LRT dan satu line MRT. Sedihnya Metro Manila nggak terintegrasi dengan baik, dan nggak merata jangkauannya karena line yang terbatas. Mana setiap stasiun harus antri untuk pemeriksaan tas melalui mesin x-ray. Jadi mau nggak mau Jeepney masih yang terbaik untuk keliling Manila. Itu kalau kamu paham rutenya, kalau nggak ya mending naik Metro atau taksi online. Saya sih nekat saja naik Jeepney sambil mantengin gps di layar gawai. Feeling saya ketika naik Jeepney adalah jalannya lurus, kalau dia belok saya langsung panik dan minta turun bhuahahaha. Terkadang sebelum naik saya tanya ke supirnya apa turun di tempat yang saya tuju. So far nggak pernah kesusahan dan feeling saya hampir 80 persen tepat, hanya saja macetnya yang bikin sakit hati.

Manila Cathedral

Manila nggak banyak yang bisa dikunjungi. Kompleks wisata sejarah berada di Intramuros yang dalam Bahasa Spanyol berarti “di dalam tembok”. Dibangun pada masa kolonial Spanyol pada abad ke-16 untuk melindungi kota dari serangan asing. Di dalamnya terdapat beberapa universitas tua, monumen, dan gereja tua. Beberapa gang terlihat kumuh dan kotor. Paling gampang memulai keliling Intramuros dari Manila Cathedral. Di depan katedral sewa saja kereta kuda atau becak, supir merangkap guide akan mengajak kamu ke beberapa tempat penting di kompleks Intramuros. Saya kagum dengan kecakapan Bahasa Inggris tukang becak yang saya sewa. Pronunciation-nya sangat jelas dan saya mengerti setiap ucapan dia tanpa masalah. Justru saya malu dengan kemampuan Bahasa Inggris saya yang amburadul. Yang penting bahasa tubuh saya jago. Iya jago meliuk-liuk bhuahaha.

Model numpang lewat dulu

Paling wajib dikunjungi di Intramuros adalah Gereja San Agustin yang katanya gereja pertama dan tertua di Filipina. Umurnya sekarang lebih dari 400 tahun. Sebenarnya masuk ke gerejanya gratis, untuk masuk museumnya bayar 200 Peso atau sekitar 55k Rupiah. Begitu masuk museumnya yang sejuk, saya ternganga. Koleksinya benar-benar berkualitas tinggi dan artistik. Semua benda yang dipamerkan tentu saja berhubungan dengan Kekristenan dari masa ke masa. Gereja ini termasuk Warisan Budaya Dunia oleh UNESCO.

Rasanya satu dua jam tidak habis untuk melihat semua koleksi yang dipamerkan. Saya sampai skip beberapa ruangan saking capeknya. Hampir nggak ada pengunjung yang datang, sehingga cukup membuat saya merinding sendiri. Lah bagaimana tidak, suasana sejuk karena ruangan ber-AC, hening, sepi, temaram, sendirian, seluruh patung dan artifak seperti melihat ke arah saya. Belum lagi patung-patung penyaliban dan beberapa yang berdarah-darah. Makin merinding disko. Paling wow adalah di lantai yang bisa melihat tempat ibadah dari atas. Asli berasa di Hogwarts yang di film-film Harry Potter itu.

Megah berasa di Hogwarts

Selain Intramuros, yang menarik di Manila adalah kuburan tentara Amerika (Manila American Cemetery) di Taguig yang masih di pusat kota. Masuk nggak dipungut biaya, dan memang terbuka untuk umum. Meski penjagaannya cukup ketat. Sepanjang mata memandang terhampar nisan berbentuk salib yang tertata sangat rapi di atas rumput hijau. Segalanya begitu simetris dan memanjakan mata. Menurut catatan, terdapat 17.206 tentara Amerika yang terbunuh pada Perang Dunia ke-2 bersemayam di sini. Mungkin bisa saya katakan kalau kompleks pemakaman ini adalah kuburan modern terbaik yang pernah saya kunjungi. Dibilang fotogenik kok ya gimana gitu, rasanya kurang sreg aja foto-foto alay di kuburan. Yah tetap saja foto-foto alay juga di sini ahahaha.

Ada lagi Museum Sepatu di Marikina yang sepadan untuk dikunjungi. Sesuai namanya, museum ini memamerkan koleksi sepatu milik mantan First Lady Imelda Marcos. Konon katanya tante Imelda ini punya ribuan pasang sepatu dan yang dipajang di sini sekitar 800 buah. Dari yang mulai merek lokal hingga merek ternama ada di sini. Sungguh jika kamu perempuan kamu akan betah berlama-lama memandangi setiap jenis pasang sepatu yang ada. Saya? Pakai sandal jepit merek swallow saja sudah bersyukur hehe.

Jadi kapan kamu ke Manila? Happy traveling.

18 COMMENTS

  1. Duh, aku belum ke museum sepatu sama kuburan Amerika. Bener banget yang jadi kenek itu. Berhubung murah, ke mana-mana naiknya jeepney aja. Kutengok, semua orang baik cewek maupun lekong Manila, pada punya dompet kecil macam bonusan dari toko emas pasar Jombang buat tempat recehan peso. Aku sempat teriak tapi gak ada yang ngerti pas mau berhenti di Qiapo. Hiks :'(

    • Kenapa gak teriak “WONG METENG WONG METEEEEEEENG” wakakaka. Ah iya bener aku sampai lupa nulis tentang dompet kecil itu hahaha. Maap di Jombang bukan toko emas, tapi toko besi kiloan wkkwk.

  2. Asemmm aku langsung merinding nyawang wajah e Bunda Maria sing koyo boneka >.<
    Manila bikin MRT lebih disik dari Indonesia, tapi masih belum terintegrasi dengan baik. Kudu nyalahne sopo iki? Hahhaha. Btw logat JawaTimuran-mu jadi berguna yo ning kono, "ya po o", "po o seh" 😀

  3. Wistalah ngaku wae sobat misqueen ra usah nggawe bahasa sopan semacam merasakan kehidupan masyarakat lokal. Halah. Bencikkk.

    Mene Nek aku dapat kursi ‘panas’ iku aku tak pura pura mbuka Google map Utowo sibuk hapean. Hehehe

  4. Foto angkot (((ANGKOT))) bertuliskan “Bossing” itu kayak di Kota Lama Semarang hehe.

    Btw, di luar negeri umumnya gereja tapi ada museumnya. Di Indonesia ada gak model gitu ya? masjid tapi ada museumnya juga.

  5. Waw jadi kenek di jeepney malah aku senang, Mas Alid. Apa ya, berasa cool wkwk. Urusan kembalian biasanya mereka hitung sendiri, aku tinggal kasih aja. Seru banget main ke museum sepatunya! MalH gak tau aku ada tempat begitu di Manila~~

  6. Setelah saya baca, saya jadi malas datang ke Manila kalau yg saya jumpai hanya kemacetan kayak Jakarta. Mending duitnya saya skip dan berkunjung ke negara lain

  7. “Satu hal yang paling seru saat traveling adalah merasakan jadi masyarakat lokal.”

    Setuju banget mas, nggak seru rasanya klo keluar negeri tp nggak ngerasain denyut kehidupan orang sana… 😀

    Btw klo ke Filipina ada bebas visa ya mas?

Leave a Reply