Mengenal Bapak Mie Instan di Museum Mie

86

Fast reader silahkan pergi! Dibaca normal hanya butuh 4 menit dari hidupmu.

Di antara pembaca siapa yang suka makan mie? Saya yakin hampir semua orang di dunia ini pernah makan mie. Apalagi jika menjelang akhir bulan bisa dipastikan mie instan akan menjadi sahabat yang sangat akrab di kalangan anak kost, mahasiswa, bahkan untuk traveler kere macam saya mie instan bisa jadi penolong di kala kantong lagi kempes haha. Tapi siapa di antara kalian yang tahu siapa yang menemukan makanan rakyat yang super murah tersebut? Bukan panganan mie yang saya maksud tapi mie instan, kalau mie memang sejatinya berasal dari kultur bangsa Cina. Saya sendiri juga nggak menyangka bahwa ada orang yang menemukan mie instan. Beruntung saya punya kesempatan mengunjungi Cupnoodles Museum di Yokohama.

Source: cupnoodles-museum.jp

Tiket Masuk

Lokasinya tepat di depan Mall Yokohama World Porters, berhubung waktu itu hujan deras saya tidak bisa memotret bangunan museum dari luar. Bangunannya besar dengan arsitektur modern. Harga tiket untuk masuk adalah 500 Yen, beruntung saya ditraktir host saya karena dia ingin menebus keterlambatannya. Saya berargumen kepada dia bahwa orang Jepang tidak pernah terlambat, mereka pasti tepat waktu, pelajar Jepang itu rajin-rajin. Tahu nggak dia bilang apa? Kalau pelajar sekolah mereka memang rajin-rajin, tapi para mahasiswa Jepang semuanya hampir pemalas haha.

Tidak seperti museum-museum pada umumnya, di Jepang beberapa museum membatasi pengunjung dengan membagi jam kunjungan. Jadi kita tidak bisa seenak jidat masuk ke dalam setelah membeli tiket, tapi harus nunggu giliran masuk. Waktu itu kita dapat giliran jam 5 sore untuk masuk ke ruang workshop, tapi kita bisa lihat-lihat dulu di ruangan exhibition/pameran. Ruangan awal yang saya masuki adalah ruang teater yang memutar sejarah pertama kali kenapa diciptakan mie instan. Filmnya menarik karena ada animasi khas Jepang, tapi yang bikin sakit hati adalah saya tidak mengerti sama sekali artinya. Jadilah teman-teman saya bekerja ekstra keras menerjemahkan film tersebut untuk saya. Haduh coba mereka bikin subtitle dalam Bahasa Inggris, selesai perkara.

Momofuku Ando Bapak Mie Instan Dunia

Adalah Momofuku Ando yang merupakan warga keturunan Taiwan dan terlahir dengan nama Wu Pai-fu. Beliau mengembara ke Osaka, Jepang, pada tahun 1933. Setelah Perang Dunia 2 beliau menetap dan menjadi warga negara Jepang. Beliau menciptakan mie instan pada saat rakyat Jepang menderita kelaparan pasca perang. Pemerintah Jepang menganjurkan rakyatnya untuk makan roti gandum yang diimpor dari Amerika. Tapi Tuan Ando memikirkan cara untuk menanggulangi kelaparan dengan makanan yang cocok bagi lidah orang Jepang.

Akhirnya setelah berbulan-bulan melakukan trial and error untuk menciptakan mie yang bisa diawetkan, pada tanggal 25 Agustus 1958 Tuan Ando memasarkan produk pertama mie setengah matang yang diberi nama Chikin Ramen. Produk mie instan pertama dari Tuan Ando dipasarkan dengan harga 35 Yen yang merupakan harga yang sangat mahal pada jaman tersebut. Sehingga mie instan pertama kali di dunia saat itu menjadi barang kebutuhan yang mewah. Tapi itu berubah setelah tahun 1971, kemasan produk menggunakan polystyrene/polistirena (sebangsa plastik) yang tahan air sehingga harga menjadi sangat murah. Mie instan melejit menjadi satu-satu bahan pokok yang murah dan enak dimakan.

Mie Instan Pertama Kali di Dunia

Tembok Sejarah Tentang Momofuku Ando dan Mie Instan, hanya puas dilihat karena tidak ada terjemahan Bahasa Inggris.

Di film tersebut juga diceritakan bagaimana proses ide kreatif yang dilakukan Tuan Ando, bagaimana awal dia bisa mengawetkan mie basah menjadi kering sehingga bisa awet berbulan-bulan. Bagaimana dia menemukan kemasan mangkok plastik, bagaimana cara mengemas mie instan ke dalam mangkuk, semua dijelaskan secara detail di film tersebut. Tahu nggak, Tuan Ando menggunakan teknik menggoreng untuk membuat mienya kering. Beliau mengajarkan kepada kita enam jurus rahasia untuk menciptakan sesuatu. 1. Temukan sesuatu yang benar-benar baru; 2. Cari petunjuk di berbagai tempat; 3. Pemeliharalah ide; 4. Lihatlah sesuatu dari berbagai sudut; 5. Jangan hanya puas dengan status yang sudah ada; 6. Jangan pernah menyerah.

Yang ini saya foto ditemboknya tanpa ada terjemahan Bahasa Inggris.

Sejarah bagaimana Tuan Ando menciptakan mie instannya dan runtutan tahunnya juga dipajang di tembok. Sama seperti film tadi, visual-visual gambar mengenai cerita dan pencapaian Tuan Ando dalam memasarkan mie instan juga tanpa Bahasa Inggris. Aarrgghh bikin kesel saja. Dari sekian ruangan yang paling saya suka adalah ruang pameran di mana bungkusan mie instan dari pertama kali diciptakan tahun 1958 sampai dengan sekarang. Di situ terpampang berbagai bentuk macam kemasan mie instan dari jaman ke jaman.

Mie instan dari masa ke masa

Terakhir kami mengikuti workshop pembuatan cup noodles di ruangan paling atas, di workshop tersebut kita harus beli mangkuk plastik kosong untuk wadah mie seharga 300 yen. Sudah disediakan tempat duduk serta peralatan menggambar lainnya. Coret sana coret ini, setelah itu kita menuju tempat pengisian mie serta rasa dan bahan-bahan yang kita inginkan. Terakhir mangkuk ditutup dengan mesin penutup. Lumayan, mie instan tersebut bisa saya buat makan malam. Tapi tunggu dulu, saya sudah curiga dengan kata-kata Ramen dari tadi. Memang saya memilih bahan-bahan isi dari sayuran kering tapi larutan bumbu keringnya mengandung babi. Huft sial, setidaknya saya sudah mengantongi pengetahuan tentang sejarah mie instan meski akhirnya saya tidak bisa memakan mie yang saya beli 300 Yen.

Workshop Cupnoodles Factory

Cupnoodles hasil karya saya, sayang gak bisa saya makan.

Masih tentang mie instan, kalau di Indonesia mie paling murah harganya 1000 Rupiah dipegang oleh Mie Gelas, dan mie instan satu-satunya di Indonesia yang kemasannya memakai mangkuk styrofoam adalah Pop Mie yang harganya sekitar 5000 Rupiah, favorit saya sih Mie Sedaap seharga 1500 Rupiah *sori bukan iklan loh hehe. Tapi merk yang merajai di Indonesia adalah Indomie karena pilihan rasanya yang bervariasi dan unik-unik sesuai dengan berbagai masakan di Indonesia, harganya pun sekitar 1500-2000 Rupiah. Kalau di Jepang mie instan paling murah itu di sana 60 Yen atau sekitar 7560 rupiah. Dan merk yang merajai di sana adalah tentu saja Nissin kepunyaan Tuan Ando. Dunia tidak pernah tahu siapa bapak mie instan, tapi begitu berita kematiannya menyebar tahun 2007 semua tercengang kaget. Oh ternyata ada juga penemunya. Seru kan museumnya? Untung saya ada temen Jepang, kalau nggak rasanya bego saja ke museum yang nggak bilingual. Happy Traveling

“Peace will come to the world when the people have enough to eat.”  Momofuku Ando (安藤 百福 Andō Momofuku?),  March 5, 1910 – January 5, 2007.

86 COMMENTS

  1. tetep yang paling enak indomie ya kalau menurut saya.. hehehehe

    tapi memang di jepang banyak sekali ya museum seperti itu.. jadi tahu siapa yang menemukan mie istan akhirnya…

    • Memang di Jepang ada beberapa museum mie, di Yokohama saja ada dua 🙂 tapi Museum yang benar2 dikhususkan untuk Tuan Ando hanya Cupnoodles Museum di Yokohama saja ^_^

  2. Kasihannnn…

    beli 300 yen tapi gak boleh makan…

    kasihann.. kasihannn…

    =P

    Ps: Maggi mie instan paling terkenal di malaysia… Jual satu cup RM1.40. Tapi biasa beli pukal.. 5 bungkus dalam RM4 ++ ^___^

    • How I suppose to eat hahaha, pork lah :p takpelah buang uang hahaha…

      Yeah I know bout Maggi, terkenal di Malaysia, mahalnyaaaaaaa hahaha… ternyata masih lebih murah di Indonesia haha…

  3. waahh, kalo ke sana aku bakalan ngiler mulu kali ya.. noodles is among my favorite foods… well, pada dasarnya nyari semua makanan adalah makanan kesukaanku, hahahaha XD

    nice article! keep on traveling, keep on writing! 😀

  4. wuadooh tulisan hiragana dan katakananya bikin pusing, aku slalu dapet jelek klo ulangan hiragana dan katakana.. hehehe.. :p
    htm 500yen itu brati sekitar 50rb ya mas?? mahal yak..

  5. Wah gak nyangka kalo Nissin itu punya Tuan Ando. Dan gak nyangka juga Tuan Ando keturunan Taiwan. Kalau di kita mau pesan mie instant kebanyakan nyebutnya Indomie, memang merek ini udah kayak jadi nama generik. Salam.

  6. hahaha bener… mahasiswa jepang itu males 🙂
    Eh museumnya keren. aku blom pernah ke yokohama. kapan2 main ah kesana n liat museum ini.
    keren nih bisa bikin mie sendiri. oke save schedule trip 😀

    Btw emang didalem boleh foto2? ga ditangkep?

  7. Ah Cina memanglah cintai sekali dengan negaranya, sampai2 tulisan saja tidak disajikan dalam bahasa Inggris dan harus puas dengan gambar 😀

    Salam untuk anak cucu Bapak Mie Instan Dunia 🙂

  8. Salah satu tempat idaman saya di Jepang adalah ini, museim mei instant. Selain ilmu dan pengetahuan berkisar tentang mie pastinya dari sisi bisnis kita akan mendapatkan limunya juga

  9. Keren museumnya… Keliatan sepele tapi bermakna banget museumnya. Kebayang aja di Indonesia ada museum ‘dodol’ atau jenang 🙂
    Nice story and pic, bro…

  10. eman2 mas gak dipangan. Btw sing halal mosok ora enek? haha..

    btw, wong Jepang emang memelihara bahasanya, makanya mereka seperti bilang begini, “Kalo kamu ke Jepang, kamu harus belajar bahasa Jepang, bukan aku yg harus belajar bahasa Inggris, enak aja.. ” haha..

    Btw, kudu dioret2 ya bungkuse.. lucu ih.. coba nek aku, wis tak gambari macem2 sampe kebak haha..

  11. Mantab sekali.
    Walaupun saya penggemar mie, tapi jujur belum tahu penemunya dan asal usulnya.
    Terima kasih atas infonya pak.

    Salam Ilmu Kimia

  12. Saya hampir setiap hari makan mie mas, makanya diperut saya ini spertinya lebih banyak mie darpd nasi. hehe..

    Wah jadi pgn kemuseum nya ni, aduh kapan ya bisa kenegara impian saya ini.. 🙂

  13. mungkinkah gegara mie instan terbungkus, cikal bakal dampaknya pd produk lain yg dikemas dalam bungkusan.
    Tambah wawasan baca postingan ini, senang saya 😀

  14. Bisa dibilang, Mamofuku Ando ini adalah pahlawan besar bagi serikat anak kos kuliahan, perannya akan nampak kentara terutama ketika kiriman dari orang tua belum juga datang. hehehe….

  15. yang pernah jadi mahasiswa pasti doyan mie :p saya juga, tapi baru tahu nih kalau ada museum mie,, nanti coba ah dateng pas ke jepang 😀

  16. Bang, serius ini postingan bikin saya mupeng. pertama mupeng karena pengen ke Jepang. kedua mupeng, karena baca postingan ini tengah malam dan stok mie habis :)))

  17. Agak kaget Jepang yang udah begitu dikenal turis seperti itu masih kayak setengah-setengah dalam memfasilitasi turis luar negeri. Do they expect us to learn their language? -______-

    Btw itu temen-temen mas keren-keren *salah fokus*

  18. aku trmasuk suka mie instan.. walopun ga pgn keseringan jg mknnya… eh tp itu merk nissin prnh aku beli di salah satu swalayan JKT yg kebetulan ngejual produk2 jepang, tp rasanya biasa aja ya mas…

    tetep lah mie indonesia lebih enak kemana2 😉

    Btw, aku paling suka ke mueum2 gini… jd pgn kesana 😉

  19. Asekkk.. q juga suka sama Jepang. dari ramen dan sebagainya… pengen juga bisa kesana hihi

    mantap2 travellingnya mas…

Leave a Reply to Darmawan Saputra Cancel reply