Mengenal Lebih Dekat Orang Jepang

47

Fast reader silahkan pergi! Dibaca normal hanya butuh 6 menit dari hidupmu.

Akhirnya selesai juga postingan perjalanan saya selama di Jepang, dengan sukses 6 hari 5 malam saya lalui tanpa halangan apapun, perjalanan yang bikin jantungan sejak awal karena harus mengurus visa dan ribetnya mempelajari peta kota Tokyo yang banyak kanjinya. Tapi nyatanya saya tidak pernah kesasar satu kalipun. Yang kata orang pasti akan dibuat bingung ketika berada di stasiun Shinjuku atau Shibuya karena saking ruwet bin canggihnya sistem perkereta-apian mereka, toh saya baik-baik saja karena visual control dan papan penunjuk sangat jelas sekali ada di setiap sudut. Bingung pun tanya ke petugas yang meski mereka nggak bisa bahasa Inggris tapi nyatanya saya mengerti walaupun mereka hanya pakai bahasa tarzan. Jalan-jalan di Jepang itu mahal tapi bagaimana cara kita menyiasati supaya murah meriah, saya nggak ada trik sama sekali toh karena saya juga tekor biaya makan karena suka melihat makanan yang begitu menggoda yang selama ini saya lihat di televisi dan komik, rugi kalau tidak mencicipi. Dan juga tekor dibiaya kereta api karena saya keliling kesana kemari tanpa henti hehehe. Nah berikut rekapan postingan saya bagi yang ingin baca dari awal tentang perjalanan saya.

  1. Mudahnya Mengurus Visa Jepang
  2. Road to Japan
  3. Keliling Hakone dan Melihat Gunung Fuji dari Dekat
  4. Satu Hari di Yokohama Disambut Hujan dan Topan
  5. Mengenal Bapak Mie Instan di Museum Mie
  6. Mengunjungi Kamakura, Kyoto Kecil di Tokyo
  7. Mengenang Masa Kecil Di Museum Doraemon
  8. Menjadi Bangsawan di Tokyo Imperial Palace
  9. Hatiku Tertambat di Odaiba
  10. Nongkrong Di Shibuya
  11. Tempat Wisata Komplit di Taman Ueno
  12. Tokyo Jaman Dulu di Asakusa

Terima kasih kepada seluruh pihak-pihak yang telah membantu, dan para fans berat yang selalu mendoakan, tanpa kalian dunia terasa hampa. Duh serasa dapat piala Oscar hahahaha.

Terima kasih juga para CouchSurfer Tokyo yang telah memberikan penginapan gratis selama saya di Tokyo. Apa sih CouchSurfing? Situs buat para pejalan yang anggotanya tersebar di berbagai negara dan mereka bisa menyediakan penginapan gratis di rumah mereka, tidak sebatas penginapan gratis saja tapi kita bisa belajar budaya lokal dari tuan rumah. Nah ini dia beberapa CouchSurfer yang memberikan penginapan gratis ke saya.

Saya dan Haya, entah kenapa kita bikin mimik aneh seperti ini -__-

Di Yokohama saya menginap satu hari di apartemen Haya Nakazaki, pemuda Jepang kelahiran Hawai ini sangat baik memberikan satu-satunya tempat tidurnya ke saya. Sebagai tamu saya sih bilang biar saya saja yang tidur di lantai tapi katanya “No no no, I want to give best service to my guest and hope when I travel someone will treat me best as return”. Aawww meleleh jadinya, bahkan dia meminjamkan baju piyama dia ke saya berikut sepatu ketika kita jalan-jalan di Yokohama. Dia membuatkan sarapan dengan menu nasi dan natto serta tuna bakar dengan penuh cinta, ah lebay. Dia rela memberikan satu-satunya tuna bakar tersebut ke saya, tapi saya nggak mau dicap tamu kurang ajar, jadi saya bagi dua dong. Yang memalukan adalah waktu pagi hari ketika kita bangun, dia bilang bahwa waktu tidur tengah malam saya berbicara ngelantur. Aje gile, saya yang tidak punya sejarah mengigau tidak percaya dan ngeyel. Lucunya dia sempat tanya “What are you talking about on your dream? You speak in your language and I don’t understand at all” yasalam bagaimana saya tahu apa yang saya ocehkan, orang saya tidur pulas begitu. “I wish I have your record” Gubraaaaaaaaggggg.

Sarapan yang dibuat Haya

Haya sebenarnya bukan member CouchSurfing, justru Yuta Toyoki teman dia yang member, awalnya saya kontak Yuta tapi dia bilang rumah dia terlalu jauh dari stasiun jadi dia minta bantuan ke temannya tersebut. Dari mereka juga saya baru tahu kalau menancapkan sumpit dalam posisi ke atas pada mangkuk nasi itu tidak boleh, itu artinya sama saja menancapkan dupa kematian. Dan saya bilang ke mereka juga bahwa nama di Indonesia tidak mempunya nama keluarga, bahkan beberapa teman saya mempunyai empat suku kata tanpa nama keluarga, terkecuali beberapa etnis seperti Batak dan beberapa etnis di Sulawesi. Hal kecil tersebut bagi mereka adalah luar biasa.

Saya dan Yuta

Kim Sungtae, pemuda Korea yang sejak kecil tinggal di Jepang ini bukan CouchSurfer, tapi karena dia yang mentraktir saya makan Sushi jadi dia berhak masuk ke postingan ini hehe. Sebelum berangkat ke Jepang saya intens sekali berhubungan dengan dia lewat email tanya ini dan itu. Terus kalau bukan CouchSurfing dia siapa? Ah kalau itu rahasia haha. Jadi untuk menuntaskan janji dia serta mupeng untuk makan Sushi mahal jadi saya bela-belain mampir ke kantor dia sambil saya bawakan cemilan Carang Mas dari Jawa haha. Kalau bukan karena dia saya nggak mungkin bisa makan makanan mahal itu ouch. Saya ketemu hanya sekilas selama dua jam saja dengan dia, karena dia harus lanjut kerja dan saya harus melanjutkan perjalanan, jadi saya nggak begitu mengenal dia secara mendalam, tapi arigatou banget-banget atas sushinya.

Kim Sungtae dan saya

Sushi mahal, seporsi 200 ribu, untung ditraktir. Enak loh ikan mentah 🙂

Host kedua saya ini adalah host tersangar yang pernah saya temui, Tomoki Kuwabara, dia itu tukang tato atau tattoo artist dan punya studio sendiri, bahkan seluruh tubuhnya penuh tato. Kita janjian untuk ketemu di stasiun Narimasu jam 9 dan tahu nggak siapa yang jemput, Sam atau Osamu, murid dari Tomoki yang katanya sering pergi bolak-balik ke Bali, pacarnya orang Bali sih. Yang lebih mengagetkan ketika Sam bicara “lurus saja, belok kiri dan kanan” WOW ternyata dia lumayan bisa Bahasa Indonesia. Tomoki Kuwabara tinggal di rumah susun sama pacarnya Miho Suzuki, rumahnya nyaman dan saya tinggal selama dua hari di tempat mereka. Dalam obrolan saya ingin tahu kenapa dia gabung di CouchSurfing, katanya dia ingin mengasah bahasa Inggris. Pendidikan bahasa Inggris di sana mahal jadi dengan cara ini mereka bisa mendapatkan kesempatan luar biasa gratis dengan hanya memberikan tempat menginap.

Miho, Tomoki, dan Saya

Setiap mereka berbicara dengan saya mereka sedia kamus elektronik, yah meskipun bahasa Inggris saya nggak kalah hancur tapi lumayan masih bisa mengimbangi mereka. Mereka juga yang membantu menuliskan kartupos yang saya kirimkan ke teman-teman dalam Bahasa Jepang, terakhir mereka mengucapkan terima kasih juga atas kiriman kartu pos dari Indonesia dengan gambar Pengantin Jawa dan mendoakan semoga mereka juga cepet kawin. Tomoki memberikan pengetahuan mengenai tato ke saya, dan style tato dia khusus menggambar sesuatu yang berbau keagamaan seperti tokoh Budha dan Dewa-Dewi. Dari dia juga saya tahu style tato tersebut biasanya dipakai para mafia. Wow jangan-jangan dia mafia juga haha. Jadi yang mau buat tato di Jepang silahkan kunjungi http://vantattoo.com/.

 

Miho dan Tomoki

Studio Tato

Tomoki menuliskan catatan untuk saya dan harus ditunjukkan ketika beli makanan di warung. Watashi wa buta wo taberemasen, I can’t eat pork.

Terakhir saya ketemu pemuda tambun nan subur ini di Higashi-Nagasaki, Akihiro Yasui penyuka musik jazz, berbagai cd jazz menghiasi kamarnya. Sebelum ke rumahnya saya sempat mampir ke warung ibunya untuk makan malam, oke ini makanan tidak gratis dan tidak murah. Tapi kapan lagi saya bisa menikmati suasana malam di pinggiran Tokyo sambil berbincang-bincang sama pengunjung warung. Ada tante-tante mabuk mencoba grepe-grepe dan menggoda saya dengan memegang bibir tebal saya. Ah apa saya memang tipe para tante. Akihiro suka sekali naik gunung dan melakukan pekerjaan relawan, dia pernah mendaftar sebagai relawan di berbagai negara. Terakhir katanya dia sedang di Amerika Latin. Dia suka sekali berkampanye untuk tidak menggunakan nuklir. Saya pernah bilang kenapa dia suka sekali jadi relawan, dia bilang “I want to help others with my power” power yang dimaksud dia adalah bangsa Jepang yang kaya tidak peduli akan bangsa lain yang membutuhkan, jadi dengan uang dan tenaga dia berusaha untuk membantu yang membutuhkan. Dari dia juga saya tahu kalau sekali orang Jepang kerja di satu perusahaan dan jadi karyawan tetap, sulit bagi mereka untuk bisa pindah kerja lagi sampai tua. Dan dia tidak ingin hidup yang monoton seperti itu, pergi kerja pagi-pagi dan pulang larut malam, apa serunya.

Centilnya ibunya Akihiro

Bersulang dengan tante genit

Nabe, makanan yang sering disajikan ketika musim dingin. Harganya mahal tapi lebih mahal Sushi tadi

Saya pergi dari rumah Akihiro pagi sekali, bahkan matahari belum muncul saya sudah pamit pergi. Tapi dia dengan ramahnya menyiapkan sarapan roti dan telur mata sapi untuk saya. Dan entah kenapa saya baru sadar bahwa saya tidak punya foto dia aaaaarrgghhhh…

Sarapan yang dibuatkan Akihiro

Awww… CouchSurfing tidak semata hanya penginapan gratis, tapi dari para host (tuan rumah) dan surfer (tamu) kita bisa belajar banyak hal baik budaya dan sebagainya. Sekian tulisan saya menutup postingan tentang perjalanan Jepang saya. Terima kasih *dadah dadah ala mis yunipers*

47 COMMENTS

  1. sudah jadi membernya couch surfing tapi belum pernah menggunakan fasilitasnya.. secara konsep sih saya suka banget dengan couch surfing itu…

  2. biyuh biyuh,, panganane daging mentah, aku ora iso mbayangne rasane hahaha…

    btw wong jepang gak usum operasi plastik koyok korea ya ahhaha…

  3. Hadoh senengnya, wah aku harus banyak cari info neh, biar bisa jalan jalan juga kayak mas Alid (Amien). Dan baru denger kalo ada penyedian penginapan gratis. itu kalo gabung jadi member bayar piro Mas??

    • daftar gratis kok, asal isi lengkap semua profil dan fotonya biar dipercaya, di Indonesia jg ada kok komunitas lokal yg nerima tamu-tamu. sistemnya kayak forum biasa gitu 🙂

  4. Saya baca postingannya dan lihat semua foto-fotonya, sebenarnya saya menunggu foto mas Abdul bersama-sama dengan orang-orang Yakuza hehehe

    Jalan-jalan mulu nih mas Abdul, postingannya bikin saya pengen liat Jepang. Arigato Hai lol

  5. Keren-keren temen CSnya kerennya baek2 banget. Emang orang Jepang baik dan sopan. Akupun pny tmn org Jepang namanya Akihiro kynya emang nama yg umum klo disini Budi. Baek banget tmnku ini klo ke Jepang dianter-anter keluar kota sampai Hakuba dan Nagano perfecture gratis. Kebayang klo naek kereta atau bus sejauh itu pasti mahal 🙂

    • Wuihhhhh… sama seperti orang Indonesia dan lain sebagainya, ada yang jahat ada yang baik sih. Ya karena akunya ganteng dan baik makanya ketemu orang yang baik-baik pula #dikeplak

      • Pemerintah Jepang pasca PD II Dunia menambahkan edukasi budi pekerti di dalam kurikulum pendidikannya..artikel spt ini pernah aku baca bbrp kali dan memang terbukti mostly warga Jepang baik dan ramah juga disiplin tingkat tinggi..Sama Alhamdulillah selalu ketemu orang baik selama ngetrip 🙂

  6. Senangnya Alid bisa jalan-jalan ke Jepang. Saya dulu ikut bahasa Jepang salah satu tujuannya supaya kalo ke Jepang jalan-jalan gak bengong. Eh, belum pernah ke Jepang bahasa Jepangnya sudah mabur.
    Pengen daftar CS.

Leave a Reply