Menginjakkan Kaki di Negeri Seribu Kuil

35

Fast reader silahkan pergi! Dibaca normal hanya butuh 4 menit dari hidupmu.

“SIR PLEASE SIT DOWN!” Pekikan panik pramugari AirAsia menambah suasana kapal Airbus 330 rute Kuala Lumpur – Kathmandu menjadi mencekam. Bagaimana nggak ngeri, ketika detik-detik kritis pesawat landing, beberapa penumpang bangkit dari tempat duduk dan melongok jendela pesawat. Tidak hanya satu tapi beberapa, bahkan kalau dihitung ada sekitar 10 orang lebih yang saya lihat. Posisi Pramugari sudah memakai sabuk pengaman jadi dia hanya bisa teriak sekencangnya tanpa bisa beranjak dari tempat dia duduk. Itu adalah kejadian paling horor sepanjang hidup saya naik pesawat setelah dulu di India pernah menyaksikan ibu-ibu di depan saya dengan santai mengangkat telepon padahal pesawat sedang menukik take off.

Kathmandu dari ketinggian tidak nampak satupun gedung pencakar langit

Syukur pesawat menyentuh aspal dengan sempurna meskipun ada sedikit drama mencekam. Begitu keadaan sudah aman, ingin rasanya berdiri dan mengumpat kotor ke penumpang “WOY DASAR NDESO WOY, DASAR AN****”. Sudah ndeso, bau ketek lagi. Seriusan banyak yang bau ketek, berasa naik angkot dah. Namun saya urungkan niat memaki mereka, nyali saya ciut. Mengingat seisi kapal kebanyakan orang Nepal yang pulang mudik dari bekerja di Malaysia, takut dihajar massa. Setelah dalam gedung Bandara Internasional Tribhuvan baru kepikiran kalau mereka nggak bakalan ngerti umpatan saya. Paling juga dianggap orang gila yang teriak-teriak dalam pesawat huvt. KZL!

β€œWelcome to Kathamandu, Nepal, enjoy your holiday,” senyum petugas imigrasi sembari menyerahkan paspor saya yang telah tertempel stiker visa yang nggak cantik-cantik amat. Visa dengan masa tinggal 15 hari. Itupun saya harus membayar 25 dolar untuk bisa masuk ke negara kecil di utara India yang nggak punya laut tersebut. Kalau mau lebih lama lagi tinggal di Nepal bisa bayar 40 dolar untuk 30 hari. Saya sudah print dan isi dari rumah formulir Visa on Arrival untuk menyingkat antrian imigrasi, tak lupa pas foto sebagai syarat pengajuan. Boro-boro foto ganteng saya disimpan petugas, formulir saya saja kayaknya nggak dilihat dan digeletakkan begitu saja. Stiker visa pun ditulis dengan tangan.

Stiker Visa Nepal yang kurang artistik

Nepal memang nggak punya laut tapi Nepal punya Pegunungan Himalaya yang membentang dari ujung barat ke ujung timur sepanjang negeri. Jajaran gunungnya menyedot banyak orang untuk datang. Tak terkecuali kaum hippies. Nepal memang sejak dulu merupakan jalur hippie (hippie trail). Kalau istilah sekarang mungkin backpacker. Zaman dulu sebelum era milennial kid zaman now marak. Orang-orang berkelana dari Eropa menuju Asia secara overland (jalan darat). Biasanya start dari London terus ke daratan Eropa, lanjut ke Turki, Iran, Afghanistan, Pakistan, India, terus ke Nepal. Lanjut Asia Tenggara dan finish di Australia. Cari kerja di Aussie dan kalau cukup modal balik ke negara asal. Dulu mungkin mudah karena belum ada konflik politik di Afghanistan, Syria, Iraq, dan Lebanon. Sekarang perang di mana-mana jadi susah menyebrang perbatasan.

Tahun 50-70an di mana Google Maps belum ada, internet bahkan baru saja lahir tahun 70an dan belum di-aqiqohi, jadi belum tersebar canggih seperti sekarang. Orang hanya mengandalkan buku panduan, dan itu juga yang menginspirasi Tony Wheeler dan istrinya Mauren buat buku panduan Across Asia On The Cheap dengan merk Lonely Planet. Sekarang Lonely Planet rasanya menjadi kitab suci bagi semua traveler. Hampir semua negara punya buku panduan yang dicetak Lonely Planet. Bentar kok jadi ngomongin Hippie Trail dan Lonely Planet segala sih.

Di luar bandara Tribhuvan

Sebagai bandara internasional di ibu kota negara, Tribhuvan International Airport gagal menjadi wajah Nepal. Bandaranya kecil dan yang paling bikin nyengir adalah tidak adanya air conditioner. Hanya pakai kipas muter-muter di plafon, mungkin biar eco-friendly kali yak. Jauh dari kesan modern layaknya bandara kebanyakan. Bahkan lebih bagus dan lebih besar Terminal Bungurasih di Sidoarjo. Duh apakah semiskin ini negara yang mempunyai bentuk bendera paling unik di dunia. Padahal setiap warga asing yang masuk ke Nepal harus bayar karcis paling murah 25 dolar. Kecuali warga negara anggota SAARC yang bebas keluar masuk ke Nepal tanpa bayar. Bayangkan berapa pemasukan hanya dari jual visa saja. Ah embohlah, saya kan nggak tahu urusan rumah tangga negara orang. Rumah tangga negara sendiri saja masih ruwet. Apalagi saya sendiri juga belum berumah tangga. Hatching.

Keluar bandara saya langsung dikerubuti calo taksi. Apa memang saya semanis itu? Saya paling kesal kalau dipepet terus. Hal pertama yang ingin saya lakukan hanyalah cari ATM buat menguras uang untuk dihambur-hamburkan di Nepal. Kebiasaan saya memang nggak pernah bawa duit dan malas tukar uang di money changer. Saya lebih suka menggesek kartu ATM dan narik duit di negara tujuan. Paling cuma kena charge beberapa ribu rupiah.

Di bandara Tribhuvan hanya ada dua mesin ATM dan lokasinya lumayan berjauhan satu sama lain. Paling dekat gerbang kedatangan mesinnya lagi rusak, jadi saya jalan kaki ke mesin ATM satunya lagi. Dan RUSAK JUGA SODARA-SODARA. Rasanya badan langsung lemes. Padahal dulu pernah mengalami kejadian serupa di Bandara Chennai, India. Nggak kapok juga hiks. Asli saya nggak bawa uang dolar sepeser pun. Hanya ringgit yang sudah saya buat bayar visa tadi. Rasanya mau ngamuk-ngamuk, sudah nggak ada duit sama sekali, lemes, lapar, kesel. Mana dipepet calo yang menguntit sejak saya keluar dari bandara sampai setia ditunggu di depan ATM.

Setelah menenangkan diri saya melipir ke parkiran taksi dan ngajak ngobrol rombongan turis Indonesia. PDKT, tanya-tanya, dan memelas “Pak di Kathmandu nginep di daerah mana pak? Thamel ya? Pak nebeng dong! Aku sobat misqin pak bla bla bla bla….” Diangkutlah saya ke pusat kota dengan janji bakalan bayar kalau ketemu ATM di kota. Dan mereka menawarkan patungan nginep semalam di hotel yang sudah mereka booking duluan. Mereka bertiga berencana mendaki Himalaya di Mount Everest yang berarti mereka ke Lukla ke arah timur. Tentu saja saya beda urusan karena saya nggak berencana mendaki satu gunung pun di Nepal dan saya mau melipir ke arah barat mencari kitab suci. Halah.

Apelo liat-liat

Drama menyertai perjalanan saya ke Nepal bahkan sebelum saya menginjakkan kaki di tanah Negeri Seribu Kuil. Tenang saja masih banyak drama yang akan menjadi bumbu penyedap di cerita selanjutnya. Dasar generasi micin!

Stay tune and Happy traveling!

35 COMMENTS

    • Yah bagaimana lagi kalau memang tuntutan ekonomi, kayak warga negara kita kan banyak yang jadi buruh migran. Bagi orang barat Nepal dan Indonesia itu third world jadi menarik untuk dikunjungi.

  1. Wooh, Nepal. Negeri seribu kuil… ditunggu lanjutan ceritanya, Mas. Saya penasaran dengan destinasi yang dikunjungi, pasti banyak ceritanya, wkwk…
    Baru di bandara tapi sudah ada saja rintangannya. Untung juga ya ada rombongan turis Indonesia, jadi bisa minta pertolongan, hehe. Tapi nggak kapok kan ya Mas, jika suatu hari nanti ternyata berkunjung ke Nepal lagi?

  2. Hahahahhaa
    Yang malu itu nanti kalau mengumpat dan sumpah serapah segala macem ternyata di dalam pesawat ada orang indonesia atau malaysia yang ngerti hahaha

    harusnya divideoin mas detik-detik landingnya, kayaknya greget :))

    Mupeng aja deh.
    Aku belum pernah ke luar negri :((

  3. Wkwkwkwk, jujur ya mas, sampe skr salah satu alasan aku msh blm ada nyali ke india aato nepal, krn kuatir 1 pesawat bau ketek :p. Serius aku ga kuat kalo hrs duduk berjam jam mencium bau itu πŸ˜€

    Ditunggu kelanjutannya.. Aku bukan panik lg kali kalo atm pd rusak gt dan ga bawa duit sepeserpun :p

  4. Mesti cerito kere tapi nek bikin video hambur hambur ken DO IT …
    aku pas nang Nepal, nggowo rupee ne India, ra usah tukar tukar maneh. isok digawe transaksi nang kono.

    Wis ditunggu verito kere liyane

  5. Waktu pertama ke India, pas mau landing, beberapa orang langsung ngehidupin hape buat motret. Yang ada aku yang teriak-teriak, “eei pak, gak boleeeeeh.” Langsung deh mereka matiin lagi.

    Lid, Kathmandu emang sekelabu itu kah? atau fotonya diedit biar nampak makin kelabu?

  6. Kok bentar doang sih ceritanya, ah gak seru! Hahahah.
    Eh tapi serius itu kalo saya di pesawat mungkin saya juga udah maki2 sendiri dalam hati.
    Masih ada aja ya orang naik pesawat tapi katrok kayak gitu πŸ˜†

Leave a Reply