Menyelamatkan Lingkungan Bersenjatakan Internet

44

Fast reader silahkan pergi! Dibaca normal hanya butuh 5 menit dari hidupmu.

Masih segar diingatan pertama kalinya saya mengenal internet. Kala itu saya nekat menggenjot sepeda onthel selama satu jam di tengah terik matahari melewati gunung dan lembah menuju Jombang kota, oke lebay haha. Maklum saja saya tinggal di kampung yang jauh dari peradaban dan zaman sekolah dulu belum boleh bawa motor. Semua itu hanya demi untuk ke warnet yang saat itu satu-satunya ada di Jombang. Berbekal Rp4000 yang cukup untuk main internet satu jam yang mana duit segitu lumayan banyak untuk ukuran anak sekolah pada zaman saya. Agak geli saya mengingat kejadian tersebut, sebab 30 menit pertama saya habiskan memandangi monitor saja tanpa tahu harus ngapain, sementara billing terus berjalan. Lah pegang mouse saja belum mahir benar sudah sok-sok-an main internet. Singkat cerita saya memberanikan diri untuk meminta mas operator mengajari saya internetan. Masnya ngerti kalau saya masih ingusan jadi saya diajari cara mencari gambar-gambar anime Jepang. Wow saya begitu takjub dan memasang wajah bengong muka ndeso begitu layar monitor menampakkan gambar-gambar keren tokoh anime kesukaan saya. Ajaib!

Beberapa tahun kemudian internet masuk kampung dan senang bukan kepalang ketika tahu ada warnet yang buka dekat dengan rumah. Jadilah setiap hari saya menahan lapar nggak jajan demi untuk bisa internetan beberapa jam. Jangan dibayangkan kecepatan internet saat itu, untuk membuka satu halaman dengan beberapa gambar saja dibutuhkan tingkat kesabaran yang tinggi. Dibandingkan sekarang yang zamannya sudah internet 4G super cepat serta jaringan internet tersebar di mana-mana. Nongkrong di kafe pun belum order minuman hal yang pertama kali diorder adalah “mbak password wifinya apa?”

Rasa penasaran saya semakin membuncah dengan benda ajaib yang tidak kasat mata bernama internet tersebut. Kenapa saya bisa internetan? Dan muncul halaman demi halaman yang bertaburan gambar menarik. Siapa yang membuat halaman tersebut? Apa saya juga bisa membuat halaman seperti itu dan bisa diakses di seluruh dunia? Rasa keingintahuan yang sangat tersebut membuat saya berkenalan dengan seorang yang bernama HTML. Sebuah bahasa pemrograman web yang menerjemahkan kode-kode rumit menjadi sebuah tampilan halaman yang menarik. Nggak ada guru, saya belajar otodidak. Berbekal mencari informasi dari internet saya bisa menguasai HTML dan berhasil mengupload hasil karya website pertama yang memuat katalog komik dengan domain dan hosting gratisan, sebuah mahakarya dan pencapaian luar biasa bagi saya yang anak ndeso ingusan. Duh iya sejak kecil saya memang pinta, nggak usah memuji berlebihan #dikeplak.

Sekarang zamannya sosial media dan internet semakin canggih tapi netizen malah gampang termakan dengan hoax. Saya sendiri juga sudah banyak merasakan hitam putihnya internet. Tapi daripada melakukan hal buruk dengan internet saya lebih banyak memanfaatkan internet untuk menyebarkan inspirasi dan melakukan kegiatan positif. Di kota saya sendiri di Jombang saya pernah menggunakan internet untuk menggalang massa buat menyelamatkan lingkungan. Halah terlalu lebay bahasanya kalau disebut menyelamatkan lingkungan. Dapat nobel dong hehehe.

Berawal dari agenda bersama komunitas Instagramer Jombang yang suka foto-foto kami menyelenggarakan hunting bersama di salah satu tempat wisata yaitu Air Terjun Tretes di Kecamatan Wonosalam. Daripada sekadar foto-foto saya mempunyai ide untuk sekalian memungut sampah plastik di sekitar air terjun yang letaknya di tengah Taman Hutan Raya Raden Soerjo. Nggak bisa dipungkiri memang kalau hampir di setiap tempat wisata banyak sampah plastik dan botol yang ditinggalkan oleh pengunjung yang kurang beradab. Atas dasar itulah saya membuat ide tersebut. Setelah rembukan akhirnya kami membuat acara Gabung Mulung Sampah di Air Terjun Tretes.

Poster dan pengumuman kegiatan tersebut kami sebar dua minggu sebelum acara di berbagai sosial media. Hasilnya komunitas pecinta lingkungan dan beberapa komunitas lain di Jombang turut bergabung, belum lagi yang dari perseorangan. Beberapa kawan yang tidak bisa hadir mengirim pesan ke saya dan ingin menyumbang sebagai bentuk dukungan. Ditambah lagi rombongan mulung sampah digratiskan dari tiket masuk dan uang parkir oleh pengelola setempat. Padahal ini hanya acara iseng belaka dengan komunitas Instagramer Jombang.

 

Dari suksesnya acara Gabung Mulung Sampah, beberapa bulan kemudian saya dikontak salah seorang aktivis peduli lingkungan. Dan mengajak untuk membuat acara serupa untuk pelestarian lingkungan di lokasi berbeda di Jombang yaitu di Kedung Cinet. Lokasi tersebut belakangan ngehits dikarenakan tersebarnya foto-foto keren melalui sosial media. Saking populer dan banyaknya pengunjung, sampah plastik mulai berserakan di mana-mana. Selain bersih-bersih kami juga merencakanan melepaskan 1000 anak ikan guppy untuk memperkaya ekosistem di Kedung Cinet. Setelah konsep tergarap dan bertapa tujuh hari tujuh malam untuk memilih tanggal eksekusi serta mengajak teman-teman yang bersedia membantu. Saya segera membuatkan desain poster untuk pengumuman di sosial media. Dibantu eskposure beberapa akun publik sosial media hits di Jombang yang kebetulan saya banyak yang kenal admin-admin di Jombang, jadi gratisan nitip promosi.

Kegiatan yang kami beri tajuk “Save Cinet for Our Future” dirilis beberapa minggu sebelum acara. Sekali lagi saya dibuat tercengang dengan hasilnya. Saya sampai capek membalas pesan yang masuk sehari setelah dirilisnya pengumuman. Mulai dari pertanyaan bagaimana cara bergabung? Apakah gratis? Jika ingin menyumbang bagaimana? Hingga haters pun bermunculan dengan petuah-petuah tidak penting. Haters is gonna hate and the players is gonna play.

Kami tidak menargetkan berapa orang yang akan berpartisipasi. Tapi ketika kegiatan berlangsung jalanan kampung yang sempit menjadi macet penuh dengan kendaraan bermotor. Saya pun penasaran apakah mereka pengunjung biasa atau peserta Save Cinet. Iseng saya tanya ke beberapa pengendara dan mereka menjawab “ikut acara Save Cinet mas yang ada di Instagram.” Duh ngeri. Bahkan saya ketemu juga dengan kenalan ibu-ibu yang anaknya sudah lima dan saya tanya ngapain di sini malah dijawab “Ya ikutan acaramu lid, tahu dari broadcast BBM.” Hloh padahal saya nggak menggunakan jalur BBM untuk berpromosi. Salah seorang guru TK yang pernah ngasih job motret ke saya pun mencolek dan mengajak salaman “Mas Alid apa kabar? Acaranya keren loh, ini saya ngajak temen-temen.” Duh mbrebes mili rasanya.

Selain spanduk acara yang saya siapkan untuk dipakai berfoto, saya lihat berbagai macam spanduk dari komunitas bertebaran di mana-mana. Mulai dari fansclub grup musik, geng motor, pecinta sepeda, pecinta lingkungan, anak sekolahan, instansi pemerintah, perorangan, dan lain sebagainya. Semuanya tumplek blek jadi satu dari berbagai komunitas dan latar belakang yang berbeda, keberagaman dalam satu tujuan. Internet memang ibarat dua sisi mata pisau, di sisi lain internet begitu kejam dengan dampak negatif yang bisa merugikan penggunanya. Tetapi internet juga bisa memberikan banyak hal-hal positif dalam kehidupan. Seperti saya yang memanfaatkan internet buat menggalang massa untuk melestarikan lingkungan. Janganlah berhenti untuk menginspirasi dan membuat tersenyum orang-orang sekitar.

Tulisan ini diikut sertakan dalam KEB Blogging Competition #XtraKEBeragaman

44 COMMENTS

  1. Kamu emang panutan mas. Besok-besok ngadain acara lagi ya di Jombang. Kalau perlu ngundang bloger macam saya (yang jarang main). Siapa tahu abis ini terus kamu bisa nyalon jadi Bupati mas 😀

    Oya, ngomongin internet. Saya dulu pernah dapat tugas suruh nulis di komputer. Berhubung rental komputer jarang, larinya saya ke warnet. Sampe sana sudah nulis, tapi cuma dapat judulnya doang. Selebihnya cuma melototin gambar-gambar pemain bola (sambil mikir gimana kalau semua gambar yang ada itu diprit dan dipajang di kamar).

  2. Sakjane di shooting trus masuk NET, trus kamu lebih terkenal *disawatsandal

    Eh ,bener lho NET punya misi be the changed, yang menayangkan aksi aksi positif di daerah daerah.

    baru kusadari, ada kebaikan dan keikhalasan dibalik lambe nyinyirmu *peace

  3. kece badai, mas. rasanya beruntung banget saya punya teman sepertimu, sungguh sosok seorang penggerak yang pantas untuk dijadikan panutan. semangat mas, terus bergerak untuk mengubah dunia yang kita tinggali jadi sedikit lebih baik. sama dengan mas rullah, ajak-ajaklah kalau saya main ke jombang, tapi kapan mainnya… wkakaka. tapi betulan, saya jadi terinspirasi juga untuk tetap konsisten melakukan hal baik yang saya suka, yah penelitian dan menulis kecil-kecilan di blog, siapa tahu dengan hal kecil ini di kemudian hari langkahnya bisa jadi besar, amin.

  4. Pengalaman pertama kenal dengan internet nya kok sama banget mas Ali, dulu ke warnet di desa perlu waktu cuma 15 menit aja dari rumah, tapi pas sampai bingung mau ngapain…. ujung2nya 1 jam cuma browsing gaje… wkwkkwkwk

  5. Keren mas, keren. Lain kali bisalah lebarkan sayap ke Malang, biar ilmunya bisa bermanfaat untuk khalayak yang lebih luas lagi, hehe. Saya tunggu beneran loh mas xD

  6. Iki wis rodok suwi khan lid kejadiane. Keren parah ya wong njombang pancenan.

    Aku ae ngejak koncoku nganjuk kene pas piknik bareng untuk njumuki sampah ora enek sing gelem. Haha. Tibake ya tak jumuki dewe tak guwak ning tempat sampah.

  7. wah. sangar, penggerak model pak Anies Baswedan iki. Teladan sekali. Bahkan emak2pun join. Luar biasa sampeyan.
    G ada ruginya y punya haters. karena di balik itu, kamu teladannya Jombang.
    eh, iwak guppy ki opo sih?

    Asik. ketoe aku perlu belajar HTML karo sampeyan, Mas. Sesuk pas nang jogja yo. Kita mulai dari materi yg tersulit, kita oprek JAVA. pie? haha

  8. wah kereeeeeen! inisiatif & bikin acara kayak gitu aja udah bagus, lha ini banyak pula yg ikutan sampe ibu-ibu anak lima doooong 🙂 emang internet sangat membantu ya, bisa jadi ‘toa’ buat kampanye lingkungan.

  9. Kreatif sekali! semoga semakin banyak masyarakat Indonesia yang menggunakan “senjata” internet untuk kebaikan dan hal2 yang positif…

  10. jadi keinget pertama dulu ditunjukin foto-foto india yang di internet pertama kali, padahal gambarnya minisize dan kapasitasnya kecil-kecil, dah buat takjub dan senang banget

  11. salah satu manfaat internet bisa menyebarkan undangan secara cepat tanpa tenaga kecuali capeknya jari2 melayani pertanyaan orang2 yang kadang gak ngerti kalo belum dijelaskan panjang lebar. Salut dengan mas Alid yang peduli terhadap lingkungan bukan cuma peduli sama gosip berblogeran #peace

Leave a Reply