Menyusuri Perut Bumi di Kalisuci Gunungkidul

20

Fast reader silahkan pergi! Dibaca normal hanya butuh 3 menit dari hidupmu.

Gara-gara salah satu teman blogger, Helga, berencana mau Cave Tubing di Gunungkidul Yogyakarta, saya jadi ingat kalau saya pernah ke sana beberapa waktu lalu, tapi lupa belum saya posting di blog tercinta ini. Saya ke Gunungkidul sudah agak lama tapi masih lumayan ingat untuk ditulis ehehe. Saya ke sana itu juga termasuk mendadak dangdut, sabtu pagi diajak, sabtu siang berangkat. Dan lagi-lagi itu semua serba gratis, rombongan saya sudah sewa mobil dan sudah arrange dengan pengelola Cave Tubing setempat. Yang lebih mengasyikan adalah seluruh peserta dikasih uang saku yang bisa dibilang sangat lumayan oleh ketua rombongan kami, ya saya terima dengan suka cita tapi pasang mimik melongo karena heran. Again, how lucky I’m.

Bersiap menuju medan perang

Berangkat dari Jombang siang dan sampai Yogyakarta malam, kita menginap di Jalan Dagen yang merupakan surganya para backpacker karena banyak sekali hotel atau hostel murah. Apalagi dekat sekali dengan Malioboro. Pagi sekali kita berangkat ke Gunung Kidul, dengan muka masih lecek karena semalam begadang sambil makan di angkringan. Dari Yogyakarta kota ke Gunung Kidul sekitar dua jam perjalanan. Menurut situs Yogyes.com lokasi untuk aktivitas cave tubing ada dua, di Gua Pindul dan di Kalisuci. Tanpa tahu apa-apa kami diajak ketua tim rombongan ke Cave Tubing yang di Kalisuci.

Apa itu Cave Tubing? gambaran kasarnya adalah kegiatan olahraga rafting tanpa menggunakan perahu karet melainkan dengan ban karet pelampung (tubing). Kemudian cave yang artinya adalah gua. Yup benar cave tubing adalah rafting dengan ban karet pelampung di sungai yang sungainya melewati gua bawah tanah. Kalau rafting satu perahu diisi sampai dengan 5 orang, tapi kalau tubing ya sendiri-sendiri. Satu ban satu orang, istilah kerennya body rafting. Yang namanya rafting tentu saja aliran sungai pasti ekstrim dan deras, begitu pula dengan cave tubing, namun tentu saja levelnya masih aman kok. Informasi di situs Yogyes.com mengatakan kalau aktivitas cave tubing hanya ada di Mexico, New Zealand, serta Gunungkidul. Siapa sangka?

Setelah mengurus segala administrasi dan memakai peralatan tempur, kami siap mengarungi gua bawah tanah dengan tubing masing-masing. Sayang mereka tidak menyediakan kamera untuk foto-foto tapi mereka menyediakan orang yang bisa diminta bantu foto-foto. Ketar-ketir kamera saya kena air atau kecemplung sungai karena kamera yang dipakai adalah kamera saya. Duh belum lunas pak itu kamera -_-

Mendekati point start posisi kami diatur sedemikian rupa, bagaimana duduknya, bagaimana posisi ketika melewati arus sungai yang deras, dan lain sebagainya. Wajib diperhatikan karena menyangkut keselamatan kita. Jangan kuatir tenggelam bagi yang tidak bisa berenang, saya aman-aman saja tuh meski nggak bisa berenang *duh ketahuan. Kita mulai bergerak seirama dengan aliran air, tangan sebagai pengganti pengayuh, ban akan berputar-putar mengikuti arus. Paling mendebarkan ketika memasuki perut bumi/gua. Suasana langsung gelap gulita dan kami berbaris mengikuti setiap instruksi dari petugas. Tetesan air dari stalaktit dan stalakmit menetesi muka, dingin. Sumpah benar-benar pengalaman yang tidak terlupakan. Keluar dari gua kami disambut begitu banyak aliran sungai yang deras, ini baru petualangan. Tapi petualangan belum berakhir meski sudah mencapai finish, kami masih harus naik ke atas melewati tanjakan curam dan licin berlumpur sambil membawa tubing masing-masing menuju lokasi awal. Capek deeeehhh!!!!

Selama ini kita mengenal Kabupaten Gunungkidul adalah kawasan tandus dan gersang karena tanahnya merupakan bebatuan kapur. Siapa yang menduga Gunungkidul mempunyai banyak sekali gua-gua purba dalam perut bumi. Salah satunya Gua Jomblang yang pernah dipakai syuting reality show paling terkenal di Amerika yaitu The Amazing Race. Tapi denger-denger karena dikelola warga asing jadinya mahal. Waktu itu saya ngotot ingin ke Gua Jomblang tapi yang lain memutuskan untuk langsung pulang ke Jombang. Daripada di tinggal saya pun ngekor hehe.

Cave Tubing ditutup ketika curah hujan naik, jadi disarankan jangan ke sana ketika musim hujan. Karena air akan meluap menutupi gua. Bagi yang takut tubuhnya lecet saya sarankan mending di rumah saja. Saya jamin pasti lecet-lecet kena batu sungai, mesti hati-hati, saya saja terpeleset berkali-kali. Tapi saya puas. Bagi yang tidak bisa berenang, jangan kuatir, aman kok. Bagi yang takut basah, ente ke laut aje yeee, namanya juga olahraga air ya pasti basah dong ah.

Selamat berpetualang and always travel safe!!!

20 COMMENTS

  1. nih salah satu tujuan guwe, WAJIB! Kemarin ke Gunungkidul kirain juga diajak maen air kek begini, ternyata cuma makan dan makan, hahahaha…. #curcol. Btw, itu om mana lagi yang bayarin loe plus kasih uang saku?! LoL #joking

  2. kalo di pindul malah gue saranin pas musim ujan
    lebih seru soalnya airnya kan tenang
    gak kaya kali suci ini yang agak deras

    panjangnya brapa meter ini lid? kalo di pindul sih cuma 300 meteran
    pantesan lebih mahal ya..

  3. udah dari sana … (aq bener2 nekat kesana sendiri) kalo pas ngeliat gambar (foto) kayaknya seru, pas ngerasain betul masih kurang gregett, justru yg menantang malah pas treeking-nya. licinnn dan tanah udah susah dibuat jalan (aq kesana pas musim hujan)

    ah, yg penting dah puass “Journey in to the earth”

  4. Wah saya suka yang kaya ginih nih, yang masih alami banget dan yang pasti ini memacu dan menantang saya untuk bisa masuk dan menikmati gelapnya goa.

Leave a Reply to nurediyanto Cancel reply