Pulang Pisau, Kota Kecil Banyak Cerita

19

Fast reader silahkan pergi! Dibaca normal hanya butuh 3 menit dari hidupmu.

Nggak pernah terpikirkan sebelumnya bahwa saya akan menginjakkan kaki di Kabupaten Pulang Pisau di Propinsi Kalimantan Tengah. Pulang PisauΒ  termasuk Kabupaten baru di Kalimantan Tengah. Disebut Kabupaten tapi segala infrastrukturnya masih sangat terbatas. ATM satu-satunya di sana hanya ada BRI, listrik juga sering mati, jaringan telekomunikasi juga terbatas. Bahan bakar motor pun juga susah, ngomongin bahan bakar alias bensin. Jangankan di Pulang Pisau, di Palangkaraya yang termasuk Ibu Kota Propinsi saja susahnya minta ampun. POM bensin sering tutup tidak beroperasi karena tidak adanya stok BBM, kalau sudah begitu terpaksa beli eceran di jalan yang harganya sudah pasti di atas harga normal, bahkan ditemui di jalan se-liter itu 10 ribu rupiah. Parah. Kalimantan itu kaya tapi kenapa segala sesuatunya susah, hampir seperti tidak diperhatikan pemerintah.

Bahkan kalau dibandingkan dengan desa saya yang di Jombang, Pulang Pisau kalah jauh dari segi keramaian dan infrastruktur. Warung-warung makan juga begitu, teman saya sampai nyebut kalau restoran-restoran sana dengan sebutan Restoran Hantu. Bagaimana tidak, tersedia makanan tapi pembelinya tidak ada, sepi beeeeuuuddd. Terasa ramai kalau pagi hari kita ke pasar, tapi suasana yang saya dapatkan seperti pasar di Pulau Jawa, penjual-penjual disana kebanyakan orang Jawa yang menetap di sana. Pesan dari teman saya jangan sampai beli makanan di warung makan atau restoran di sepanjang jalan Kalimantan karena harga yang dipatok bisa menguras kantong. Katanya dia pernah pesan kopi dan nasi untuk 2 orang dan harus bayar sekitar 100-150 ribu. Busetttt.

Dermaga di Pasar Pulang Pisau

Kantor Kalteng Pos Grup Jawa Pos di Pulang Pisau

Yang lebih lucu lagi ketika saya harus kembali ke Banjarmasin dari Pulang Pisau untuk mengejar flight ke Surabaya. Sedari awal saya nggak nampak transportasi umum satu pun dari Banjarmasin ke Palangkaraya, juga sebaliknya. Bis-bis besar juga tidak terlihat. Teman saya otomatis tidak bisa mengantar ke Banjarmasin dengan motornya karena dia memang tinggal di kota ini. Katanya saya harus naik taksi, mendengar kata taksi saya pun menolak, masak backpacker naik taksi.

Ternyata oh ternyata yang disebut taksi di sini adalah mobil-mobil Kijang atau Innova yang lalu lalang di jalan. Kita tinggal menyetop saja, jika berhenti langsung negosiasi harga, kalau deal barulah kita naik. Di dalam mobil ternyata banyak juga penumpang seperti saya. Usut punya usut, dikarenakan jarang atau tidak adanya transportasi umum, banyak orang mengais rejeki dari potensi tersebut hanya dengan bermodalkan mobil. Taksi gelap kalau orang menyebutnya, dan sopir yang mobilnya saya tumpangi tersebut adalah orang Flores yang sudah lama di Kalimantan. Harga bagaimana? Yah layaknya jasa travel di Pulau Jawa yang mematok harga lebih tinggi dari transportasi umum dan mahalnya bensin yang sangat susah di Kalimantan. 40 ribu rupiah untuk 2 jam perjalanan dari Pulang Pisau ke Banjarmasin, dan tambahan 40 ribu untuk mengantar saya ke bandara. Total jendral saya bayar 80 ribu rupiah, mahal? Sangat mahal bagi kantong saya.

Yang seru neh, antara Pulang Pisau dan Banjarmasin hanya 2 jam perjalanan darat tapi ada perbedaan waktu satu jam. Kalau Pulang Pisau memakai WIB alias Waktu Indonesia Barat yang sama seperti di Pulau Jawa. Tapi di Banjarmasin memakai WITA atau Waktu Indonesia Tengah. Beuh serasa di luar negeri saja.

Paling terenyuh saat saya diajak teman saya mengunjungi kampung transmigrasi di Pulang Pisau. Orang-orang dari Pulau Jawa yang mengikuti program pemerataan penduduk dari pemerintah tersebut menempati sebuah kampung khusus transmigran. Bagaimana tidak terenyuh melihat rumah kecil dari kayu, lebih pantas kalau saya sebut gubug. Jalanan berdebu, gersang, dan listrik jarang. Bagaimana mereka bisa hidup dengan keadaan seperti itu. Membandingkan diri saya yang seperti ini saya wajib bersyukur bahwa saya bisa lebih daripada mereka. Itulah indahnya traveling, kita bisa belajar hidup dari hal-hal yang bisa kita temui di jalan.

Kampung Transmigrasi

No Complaint, No Whining, No Crying, itulah 3 rumus yang saya pakai kalau mau jalan-jalan dengan saya. Dengan rumus tersebut yakinlah semua pasti akan bahagia πŸ™‚
Wonderful Indonesia and always safe travel.

19 COMMENTS

  1. Rasa macam dekat aja Kalimantan dengan Sabah tapi kawasannya ternyata sangat luas. hehe. Dan 80 ribu rupiah untuk ke Bandara MAHAL! jangan lupa tanda pada peta dunia tmpt ini!

  2. Waaaah. Ah bang Alid ini ke Kalimantan gak ngajak-ngajak, jadi Homesick nih.

    Kalo liat cerita kayaknya masih rame di Sampit deh. Udah kota banged tuh.

    “No Complaint, No Whining, No Crying,” haha

  3. iya betul sekali.. setuju nih sama tulisan ini.. terlalu timpang memang kehidupan di INdonesia. daerah yang kaya akan sumber alam hanya seperti itu fasilitasnya… sehingga kita kalau kesana masih harus bersyukur.. padahal daerah itu lebih kaya dari Jakarta.. πŸ™‚

  4. gada tempat wisatanya ye?
    kok kesannya lo seperti lagi pergi mengunjungi sebuah kabupaten terpencil aja gitu, trus abis itu udah pulang aja.

    hmmmm

  5. kalau biaya makan..kayaknya engga nyampe segitu…. “pesan kopi dan nasi untuk 2 orang dan harus bayar sekitar 100-150 ribu” terlelau dilebihkan-lebihkan. Nasi sama ikan ayam plus es teh cuman 15 ribu. Potret desa transmigrasi juga yang anda ambil yang rumahnya jelek-jelek, banyak yang sukses…. cuman tidak anda tampilkan.

    • Mungkin memang terlalu dilebih2kan karena sy sendiri tidak jajan di luar, tp dr sebagaian omongan teman dan perantauan disana bilang seperti itu.

      Potret rumah2 bagus tidak bisa sy tampilkan karena dari ujung ke ujung semua rumah seperti itu. Masalah byk transmigran yg berhasil sy percaya kok. Tp disana yg sy temui seperti itu kok. Mgkn kampung tsb masih baru jd keadaannya y spt itu.

      Makasih loh sudah mampir

  6. aku tinggal di pulpis sdah dr 2010, awalnya memang spt yg kamu rasakan. kemana2 susah, mau apa2 ga ada yang jual.. tp memang benar jika smua di nikmati dengn ikhlas mka akan indah juga.. trims dah mampir di pulpis..

  7. Mas Abdul.
    Pas baca judulnya, kayaknya ga asing nih nama daerahnya.
    Baru inget dulu sempet (lewat) pas saya jalan2 ke kalimantan.
    πŸ™‚
    Lewat doang tapi.. hoho
    Keren mas..

Leave a Reply to Goiq Cancel reply