Roaming Mata Uang di Kamboja

28

Fast reader silahkan pergi! Dibaca normal hanya butuh 3 menit dari hidupmu.

Setelah menempuh penerbangan selama 1 jam 50 menit dari Bandara LCCT Kuala Lumpur akhirnya sampai juga di Kamboja. Di pesawat saya sempat berbincang dan membantu mengisi kartu kedatangan seorang TKC alias Tenaga Kerja Cambodia yang sudah 2 tahun bekerja di Malaysia. Dengan bahasa inggrisnya yang terbata-bata saya minta diajari kalimat-kalimat dasar seperti “halo/so seng dai”, “terima kasih/okhun” dalam bahasa Khmer.

Sampai di bandara internasional Phnom Penh kita langsung menuju imigrasi dan disambut dengan petugas imigrasi yang super jutek. Saya sempat dibentak ketika proses sidik jari, soalnya prosesnya belum selesai saya sudah main angkat jari, “NOT YET!”, huft sial. Mungkin dia jutek ketika tahu saya dari Indonesia, kemarin kan Kamboja kalah telak 6-0 dengan Indonesia pada pertandingan sepak bola di Sea Games kemarin. Untung saja dia nggak bilang “You’re not allowed to enter this country, because your county beat my country” bisa nangis berdiri kalau beneran nggak boleh masuk.

Stempel langsung mengecap di paspor saya, menandakan “Welcome to Cambodia”. Sekedar info, per tanggal 22 September 2011 kemarin, pemerintah Kamboja sudah menghilangkan VoA (Visa on Arrival) untuk pemegang paspor hijau (Indonesia). Sekarang mereka memberlakukan visa exempt alias free visa atau gratis, jadi tinggal dicap aja. Lumayan ngirit budget, kalau nggak harus bayar 20 USD untuk visa.

Urusan imigrasi selesai kita harus buru-buru ke pusat kota karena saya sudah booking  tiket bis ke Siem Reap untuk keberangkatan pukul 9 pagi. Keluar bandara disambut tukang taxi dan tukang tuk-tuk. Kita memilih tuk-tuk karena lebih murah, tarif resmi bandara 7 USD. Kalau datang sendiri mending naik ojek, cuma 2 USD ke pusat kota.

Sialnya waktu saya tukar bukti bookingan dengan tiket, mas-mas di konter tiket bilang “I’m really sorry sir, you’re late. I told you to come 1 day before to change the ticket or 1 hour before. I emailed you 1 hour ago to inform this, but no reply.” “Pakde, gue dah bilang klo gue tiba hari ini, dan gue juga nggak tahu kalau tuk-tuk di sini tuh jalannya kayak siput, jadi maap-maap yee gue telat, trus gue juga kagak bisa buka email di dalam pesawat, gak ada sinyal kaleee. Trus bis selanjutnya jam berapa?”. Mau nggak mau ya harus nunggu bis selanjutnya yang akan berangkat 1 jam lagi. Bis yang kita pakai Sorya Transport, ada yang lain sebenarnya, tapi yang paling murah hanya Sorya, cuma 22000 Riel atau sekitar 44000 Rupiah untuk 6 jam perjalanan.

 

Sorya Transport

Narsis dulu, meski difoto dari belakang haha

[pullquote]apa-apa murah di Indonesia[/pullquote]Sambil menunggu bis berangkat kita sempatkan jalan-jalan di sekitar Central Market atau Psar Thmey. Niat mau cari makan pagi di sekitar pasar dan beli sim card untuk telpon hostel di Siem Reap untuk nyiapin jemputan buat kita. Sebelum berangkat saya sudah browsing untuk beli Cellcard, tapi ternyata warga asing nggak boleh beli, harus warga Kamboja dengan KTP sana. Terpaksa beli Metfone for foreign seharga 6 USD. Duuhhh apa-apa murah di Indonesia, di sini dengan 3000 perak udah dapat sim card.

 

Khwat, Buah Lokal

[pullquote] otak saya harus berpikir lebih [/pullquote]Yang bikin bingung di Kamboja ini adalah mata uang. Karena di sana menganut dua mata uang, Dolar Amerika dan Riel. Karena kalau kita beli pakai Dolar kembaliannya pasti pakai Riel. Jadi otak saya harus berpikir lebih untuk masalah hitung-hitungan konversi mata uang, sudah tahu kalau masalah angka otak saya berubah jadi Pentium 1. Coba bayangkan, saya beli dengan Dolar terus kembalian dengan Riel, tahap pertama saya harus konversi Dolar ke Riel, kemudian Riel ke Rupiah untuk tahu berapa mahal atau murahnya barang tersebut dalam mata uang kita. Terus terkadang harganya Riel tapi kita hanya punya uang Dolar, jadi harus konversi Riel ke Dolar dulu untuk bayar, terus ke Rupiah untuk tahu mahal atau murah. Haduh ribet dah, bagi sebagian orang mungkin mudah untuk masalah hitung-hitungan.

Otak saya yang masih roaming pun mencoba beli khwat (buah lokal), seperti jambu batu tapi bijinya lunak Dan benar-benar kejadian, harga 2 buah adalah 1000 Riel, 1 Riel adalah 2 Rupiah, dengan pedenya sayabagi 1000 itu dengan 2. Ah murah, hanya 500 perak sebiji. Masih belum puas saya beli mangga yang masih mengkal, 4000 Riel pun saya bagi dengan 2. Ah murah hanya 2000 rupiah saja. Baru nyadar ketika di dalam bis, kenapa saya bagi, harusnya saya kali. Maaak saya beli mangga seharga 8000 Rupiah, di sini saya bisa dapat gratis. Bingung nggak bacanya? Hahahaha sayayang nulis aja bingung weks. Sial!

Saya baru bisa menguasai hitung-hitungan tersebut justru pada hari terakhir di Russian Market, karena saya belanja oleh-oleh banyak hahaha.

Happy Traveling!

28 COMMENTS

  1. huahahaha.. untung masih dikasih masuk ke negaranya..
    mungkin si org imigrasinya mikir “nih org ngapain sih ke sini, noh negaranya lagi sibuk ngalahin negara gw..”

    agak rempong ya negara asean yg satu ini..
    riel-dolar-riel-dolar.
    berarti besok2 kalo jalan2 lagi bawa kalkulator, lid!
    lumayan lah ‘sedikit’ membantu.. drpd manyun.. xp

  2. en itu lw ngegembel di bandara demi buat beli oleh2? >_< beneran sosialita deh nih bocah.. lagi kaka… lagi dunk postingannya… lo ngapain aja di sana.. gwe sebenernya pen nitip batu angkor wat… secuil 😀

  3. Gw juga palingan kayak loe gitu ye Kang Mas Alid.. 😀
    Hadaaaaaah..!! kalo kata arek Jember agag..

    Nice Post 🙂

    //eja//

  4. nice 🙂
    saya senang mengikuti postingan anda
    postingan yang menarik .

    salam kenal yya dan sempatkan mampir ke
    website kami.

  5. Oalah lid…andai aku ke sana pasti podho bingunge…haha apes “kurang” dalam masalah hitungan…
    Btw…pentium 1???ga salah ta iku?? bukan e pra pentium kalo berhitung…aghihihi…xixixi..
    tapi over all tulisan n blogmu apik…

  6. Hello brur,

    gue rencana tgl 28 jan 2012 ke ho chi minh. 4 hari 3 malam. Pulang ke jkt tgl.31 jan 12.

    Rencananya pagi-pagi tgl 29 Jan mau ke phnom penh (overland aje, via Bus Mekong Express) (1 malam aje di Phnom Penh).

    Lebih baik mana jalan2-nya, HCMC ke Seam reap atau HCMC ke Phnom Penh ?

    Penginapan disana berapa? Dan dimana ?
    Abis berapa dollar selama di pnom penh?

    Makasiiihhhh

    • eh buseeeeeetttt Phnom Penhh nggak ada apa2 bang, justru highlight Kamboja itu Siem Reap, tapi klo dari HCMC jauh lah bang. Mending naik pesawat, lagian ke HCMC kok pengennya ke Kamboja sih.

      • ok deh, brarti di HCMC dan sekitarnya….

        apes-nya, kali ini pergi sendiri, brur.
        2 teman gagal ikut…#phewww..

        ada siasat jitu pergi sendiri ngga boring ?

Leave a Reply