Rumah Pembuat Bendera Filipina dan Gereja Terbesar di Asia ada di Taal

17

Fast reader silahkan pergi! Dibaca normal hanya butuh 3 menit dari hidupmu.

Rumah kecil dua tingkat itu berdiri kokoh di pinggir jalan. Pemerintah Filipina menahbiskan rumah tua itu menjadi bagian penting berdirinya negeri kepulauan tersebut. Agoncillo–Marino House menjadi saksi bisu lahirnya lambang negara yang berkibar di seluruh penjuru negeri. Di rumah yang diubah menjadi museum inilah Marcela Marino de Agoncillo dan putrinya Lorenza Agoncillo, serta Delfina Rizal Herbosa de Natividad. Tiga perempuan tersebut yang menjahit bendera Filipina untuk pertama kalinya. Kalau Indonesia sendiri mempunyai Ibu Fatmawati yang menjahit Sang Saka Merah Putih. Saya jadi penasaran, ada nggak ya bendera nasional yang dijahit oleh kaum Adam? Atau memang urusan jahit-menjahit zaman dahulu lebih dipercayakan kepada kaum Hawa? Padahal sekarang banyak penjahit lelaki di emperan minimarket.

Meski dijahit perempuan, tetapi rata-rata banyak bendera nasional yang didesain oleh para pria. Tak terkecuali bendera Filipina yang didesain oleh Emilio Aguinaldo yang merupakan Presiden Filipina yang pertama. Bendera yang dijahit tiga perempuat tersebut dikibarkan pertama kali pada saat Proklamasi Kemerdekaan Filipina 12 Juni 1898 di Gedung Perpustakaan Nasional di Manila. Bisa dipastikan makna setiap lambang negara bertemakan kebebasan dan patriotisme.

Pambansang Watawat ng Pilipinas atau Bendera Nasional Filipina mempunya arti sebagai berikut: Biru melambangkan kedamaian, kebenaran, dan keadilan. Merah di bawah berarti patriotisme dan keberanian. Simbol segitiga putih menyatakan kemerdekaan, persamaan, dan persaudaraan. Sementara simbol matahari kuning dengan garis sinar berjumlah delapan di tengah segitiga melambangkan delapan provinsi di Filipina. Dan tiga bintang kecil di pojok merupakan jumlah pulau utama di negera tersebut. Nah kalau benderanya dibalik, yang atas merah dan bawah biru. Berarti Filipina lagi dalam keadaan perang. Kalau merah putih milik kita di balik menjadi putih merah, otomatis menjadi bendera negara Polandia.

Di SD saya dulu dibagi tiga kelompok petugas upacara yang bertugas bergiliran tiap hari Senin. Tentu saja saya menjadi bagian dalam tugas penting tersebut. Suara saya yang lantang menjadi modal pembaca Undang-undang Dasar 45. Salah satu kelompok selalu menjadi bahan tertawaan saat pengibaran bendera karena selalu terbalik. Kasihan mereka.

Sebenarnya saya nggak sengaja ke Agoncillo–Marino House, tujuan utama ke Taal (baca: Ta Al) justru ke Gereja Katolik yang terbesar di Asia. Gereja di Taal adalah gereja terakhir yang saya kunjungi di Filipina. Rasanya semenjak saya melakukan perjalanan di Filipina, nggak terhitung sudah berapa kali saya keluar masuk ke gereja. Maklum saja, Filipina adalah negara dengan pemeluk Kristen terbesar di Asia, dan nomor lima di dunia. Kalau ke Thailand, puas berkunjung ke kuil-kuil, di sini puas-puasin ke gereja.

Dari Manila ke Taal di Batangas butuh waktu sekitar dua jam naik bus. Saya ke sana barengan Mbak Zizah dan Mbak Yusmei. Bus nggak langsung ke Taal, karena memang nggak ada bus ke sana. Jadi kami naik bus jurusan Lemery dan bilang ke keneknya kalau mau ke Taal, bakalan diturunin di pertigaan SPBU Flying V. Dari sini bisa naik Jeepney ke arah Batangas. Beruntung dalam perjalanan saya kenalan sama pemuda yang mau ke Taal juga, jadi kami mengekor dia. Sepanjang perjalanan saya ngobrol seru dengan pemuda tersebut. Endingnya dia minta dibayarin tiket bus dan saya menolak dengan tegas. Alhasil dia jadi gondok dan berubah cuek. Ah bodoh amat, minimal saya sudah tahu dia bakalan turun di mana, jadi tinggal mengekor saja.

Taal Basilica atau nama panjangnya Minor Basilica of Saint Martin of Tours terlihat begitu besar, gagah, dan megah. Temboknya kusam, di beberapa bagian terlihat retak. Meski begitu, tidak mengurangi kecantikannya. Banyak penjaja makanan kecil di luar gereja. Pengunjung paling dominan anak-anak sekolah memenuhi halaman gereja. Maklum saja, di dekat gereja ada sekolahan. Di dalam gereja pun kami mendapati banyak anak-anak berseragam antre duduk. Secara giliran, satu persatu menghadap pendeta untuk pengakuan dosa. Dari hasil kepo, ternyata mereka wajib melakukan pengakuan dosa. Entah seminggu apa sebulan sekali saya lupa. Duh kalau saya bikin pengakuan dosa kayaknya bisa dari Subuh ketemu Subuh lagi saking banyaknya dosa. Iya kau suci, dan aku penuh dosa. Kau bermandikan cahaya, dan aku berkubang lumpur dosa. Halah.

Gereja ini sudah ada sejak 1878, menyandang sebagai gereja terbesar di Filipina dan di Asia. Koreksi saya jika salah yak. Karena literasi yang saya baca tertulis seperti itu. Yang paling menarik, pengunjung bisa naik ke menara gereja loh. Namun jangan harap untuk menuju menara gampang. Mudah sih, cuma tangga ke menara seperti dibiarkan tidak terurus dan rapuh. Kepleset sedikit bisa good bye. Bau kotoran binatang yang sangat menyengat, dan gelap. Sepertinya memang sengaja ditelantarkan. Eh tapi sampai atas viewnya ciamik. Bisa lihat kota Taal dari ketinggian dan juga lautan lepas Teluk Balayan.

Rasanya di Taal lebih tenang suasananya daripada Manila yang super macet. Tulisan ini mengakhiri seri perjalanan saya ke Filipina. Yang ketinggalan cerita saya di Filipina bisa klik tautan di bawah ini! Happy traveling.

Tulisan tentang Filipina yang lain:

17 COMMENTS

  1. Sama kayak Pagodanya Pulau Kemaro, berkali-kali ke sana gak bisa naik, begitu dikasih izin naik eh isinya eek burung banyak banget :p

    Ngeliat bendera Filipina, ngerasa bersyukur Indonesia cuma merah putih, walau kadang ngerasa nggak kreatif banget buahaha

  2. aku baru tau kalo filipina merdeka jauuuh lbh dulu dari kita :D. pas ke Filipina, aku cuma sempet ke manila, Villa escudero ngeliat waterfall resto nya, ama Clark. ga sempet liat kota2 lain kyk Taal apalagi pantai2nya. tp memang yaaaa gereja di sana cakep2 bangetttt. megah, yg di escudero malah gerejanya pink. aku sukaaaaaak hahahahah…

Leave a Reply to Gallant Tsany Abdillah Cancel reply