Sehari di Kota Atlas Semarang

57

Fast reader silahkan pergi! Dibaca normal hanya butuh 5 menit dari hidupmu.

Akhirnya setelah sekian lama mendamba untuk wisata di Semarang kesampaian juga. Sebenarnya sudah dua kali ini saya ke Semarang tapi yang pertama dulu hanya numpang pipis dan sarapan saja. Yah meskipun hanya sehari tapi puas rasanya keliling ke tempat-tempat wajib dikunjungi di Semarang serta mencicipi kuliner khas Kota Atlas tersebut. Disebut Atlas karena itu merupakan singkatan dari Aman, Tertib, Lancar, Asri, dan Sejahtera.

Sampai di Stasiun Tawang sekitar pukul 02:30 pagi saya langsung cari bangku kosong untuk melanjutkan tidur hingga akhirnya sekitar pukul 4 pagi saya dibangunkan petugas dan diusir keluar. “Kalau mau istirahat menunggu pagi di luar saja mas, banyak bangku juga. Ini khusus untuk penumpang yang mau berangkat” hardik sang petugas.

wpid-gereja-blenduk-alid-6.jpg.jpeg

Sekitar jam 6 pagi saya melipir jalan kaki meninggalkan stasiun dan menuju ke kawasan Kota Lama. Tujuan utama saya adalah ke Gereja Blenduk yang antik. Iseng saya beranikan diri bertanya ke petugas keamanan yang jaga untuk minta ijin masuk ke dalam. “Kalau untuk umum biaya masuknya sepuluh ribu mas” wah murah. “Jangan pegang-pegang sembarangan ya mas!” pesan petugas memperingatkan saya.

wpid-gereja-blenduk-alid-1.jpg.jpeg

Gereja Protestan di Indonesia bagian Barat Immanuel atau GPIB Immanuel atau lebih dikenal dengan nama Gereja Blenduk merupakan gereja tertua di Jawa Tengah yang dibangun pada tahun 1753 oleh masyarakat Belanda. Disebut Blenduk karena kubahnya yang memang “Mblenduk” dalam Bahasa Jawa yang berarti “Menggelembung”. Memang bentuk yang paling menonjol dari bangunan gereja ini adalah kubahnya yang menggelembung. Selain kubahnya yang menonjol ada dua buah menara di kedua sisinya. Menara tersebut ditambahkan oleh W. Westmaas dan H.P.A. de Wilde ketika direnovasi tahun 1894.

wpid-gereja-blenduk-alid-4.jpg.jpeg

Sendiri di dalam gereja saya puas-puasin motret dan menikmati hasil karya manusia yang begitu indah. Orgel Baroknya yang masih kelihatan gagah tapi rapuh di dalam dan sudah tidak bisa dimainkan lagi, sayang sekali. Bangku dan mimbar yang terbuat dari kayu jati, lantai ubin hitam dan putih dengan aksen emas menambah kesan klasik.

wpid-gereja-blenduk-alid-3.jpg.jpeg

Orgel Barok

Sepuluh menit di dalam bapak petugas keamanan mendatangi saya “Mas sebentar lagi mau ada kebaktian”. Walaupun sudah berumur lebih dari dua abad setengah gereja ini masih dipergunakan untuk ibadah.

wpid-gereja-blenduk-alid-2.jpg.jpeg

wpid-gereja-blenduk-alid-5.jpg.jpeg

Keluar dari gereja saya putuskan keliling Kota Lama dengan jalan kaki sambil menunggu teman menjemput. Pada abad 19-20 kawasan ini merupakan pusat perdagangan pada masa kolonial Belanda. Tidak heran jika banyak bangunan-bangunan berarsitektur Belanda yang masih berdiri di tengah-tengah pemukiman warga. Ada yang masih berfungsi dan dipergunakan sebagai kantor ada juga yang suwung terbengkalai. Jika saja ada pihak tertentu mau mengelola dan membangkitkan “Little Netherland” di Semarang ini, saya yakin tidak akan kalah dengan wisata di Melaka ataupun Georgetown di Penang Malaysia.

wpid-kota-lama-semarang-alid-2.jpg.jpeg
Selain Gereja Blenduk tercatat ada beberapa bangunan tua sebut saja: Gedung Marabunta dengan dua patung semut segede bagong, dulunya gedung tersebut adalah gedung pertunjukan seni. Kemudian ada Kantor Pos, Stasiun Tawang pun juga merupakan bangunan bersejarah. Gedung Marba, Samudera Indonesia, Djakarta Lloyd , Titik Nol KM Semarang, dan juga Pabrik Rokok Praoe Lajar. Di seberang gereja juga ada bangunan tua yang dipakai kantor asuransi dan rumah makan. Jangan lupakan Jembatan Berok yang legendaris itu, walau biasa tapi jembatan tersebut merupakan saksi bisu sejarah Semarang. Jembatan tersebut adalah jembatan penghubung antara Kota Lama (Oud Standt) dengan bagian kota lainnya. Pribumi kala itu tidak bisa melafalkan Burg yang berarti Jembatan dalam bahasa Belanda sehingga jadilah Berok. Saat ini ada dua jembatan Berok, yang satu orisinil sejak jaman Belanda yang satu adalah replika.

 wpid-kota-lama-semarang-alid-1.jpg.jpeg

Jembatan Berok yang asli saya potret dari Jembatan Berok replika

Kalau capek jalan kaki keliling Kota Lama bisa ikutan tur naik bus Semar Jawi dan bisa daftar online atau langsung ke Retro Café dekat gereja ke sana dikit. Dengan tiket 15 ribu kamu akan diajak naik bis tingkat berkeliling Kota Lama lengkap dengan guidenya.

wpid-kota-lama-semarang-alid-3.jpg.jpeg

Puas di Kota Lama saya langsung melanjutkan perjalanan menuju Klenteng Sam Po Kong dengan naik motor ditemani Majid, teman saya yang barusan datang menjemput.

wpid-klenteng-sam-po-kong-alid-5.jpg.jpeg

wpid-klenteng-sam-po-kong-alid-2.jpg.jpeg
Sudah lama sekali saya mendengar gaung kemegahan Sam Po Kong, saya tidak berekspetasi apapun waktu itu, saya pikir seperti klenteng-klenteng di Indonesia yang pernah saya kunjungi, kecil di pojokan gitu. Di luar dugaan begitu masuk saya merinding luar biasa, besar banget, mentereng. Saya tidak berhenti melongo dan takjub dengan kemegahan Klenteng Sam Po Kong yang merah merona. “Wah seperti di luar negeri, kayak di Cina, Jepang, atau Korea” eits tapi saya di Semarang, Indonesia.

wpid-klenteng-sam-po-kong-alid-4.jpg.jpeg

wpid-klenteng-sam-po-kong-alid-3.jpg.jpeg

Klenteng Sam Po Kong atau Klenteng Gedong Batu yang terletak di Kawasan Simongan sebenarnya adalah tempat singgah Laksamana Cheng Ho ketika pertama kali mendarat di Semarang. Ada beberapa bangunan di sini seperti bangunan untuk pemujaan, gerbang, dan ada semacam gazebo besar untuk leyeh-leyeh pengunjung. Saya tidak masuk ke bangunan pemujaan karena diharuskan bayar 20 ribu lagi, walau sebenarnya banyak yang menarik di dalam sana.

wpid-klenteng-sam-po-kong-alid-1.jpg.jpeg

Patung Cheng Ho segede Bagong

Setelah dari Sam Po Kong teman saya memacu kuda besinya ke Masjid Agung Jawa Tengah. Siang hari buta kami sampai di masjid paling megah se-Jawa Tengah ini. Matahari terik di atas ubun-ubun menyurutkan semangat saya yang membara #halah. Sampai di masjid kami segera mencari tempat berteduh. Semarang itu panas kawan!

wpid-masjid-agung-jawa-tengah-semarang-alid-1.jpg.jpeg

wpid-masjid-agung-jawa-tengah-semarang-alid-4.jpg.jpeg

Masjid Agung Jawa Tengah merupakan perpaduan arsitektur Jawa, Romawi, dan Islam dan masjid ini dirancang oleh Ir. H. Ahmad Fanani yang memenangkan sayembara desain tahun 2001. Atapnya berbentuk Tumpang walau tidak berundak khas bangunan Jawa dan paling ujung atas terdapat kubah dengan diameter 20 meter khas negara-negara di Semenanjung Arab di Asia Barat.

wpid-masjid-agung-jawa-tengah-semarang-alid-3.jpg.jpeg

Di pelataran masjid terdapat 4 payung besar yang bisa dibuka tutup persis seperti Masjid Nabawi di Madinah. 25 pilar bergaya Romawi yang dihiasi kaligrafi menyimbolkan 25 Nabi dan Rasul. Selain masjid yang menarik terdapat juga Menara Al Husna yang tingginya 99 meter dan di dalam menara ada studio radio, kafe, museum, dan view point alias tempat untuk melihat dari ketinggian, dan lagi-lagi saya tidak menyempatkan naik.

wpid-masjid-agung-jawa-tengah-semarang-alid-2.jpg.jpeg

Masjid yang indah dan megah tersebut ternyata menyisakan kejanggalan. Kolam di depan masjid yang seharusnya menambah cantik tapi sudah berubah fungsi menjadi tempat sampah. Air yang hijau keruh ditambah sampah botol plastik merusak segala image. Duh, menungso yang maha keblinger T___T

wpid-masjid-agung-jawa-tengah-semarang-alid-5.jpg.jpeg

wpid-masjid-agung-jawa-tengah-semarang-alid-6.jpg.jpeg

Kelakuane poro  menungso T__T

Tempat terakhir di Semarang adalah ke bangunan paling legendaris dan bersejarah, Lawang Sewu. Dulunya adalah kantor Nederlands-Indische Spoorweg Maatschappij atau kantornya jawatan kereta api pada jaman Belanda yang dibangun tahun 1904. Dirancang oleh Prof Jacob F Klinkhamer dan BJ Queendag yang merupakan arsitek ternama pada jamannya. Hanya karena bangunan ini memiliki banyak jendela yang tinggi dan lebar sehingga dijuluki sebagai Lawang Sewu (lawang: pintu, sewu: seribu). Kenyataannya pintunya tidak sampai seribu buah.

wpid-lawang-sewu-alid-1.jpg.jpeg

Banyak cerita mistis mengenai tempat tersebut, yang katanya dihuni oleh makhluk halus sebangsa kuntilanak. Sekarang mungkin kuntilanaknya sudah kabur ketakutan dengan banyaknya manusia yang mengunjungi Lawang Sewu, duh kasihan digusur.

wpid-lawang-sewu-alid-4.jpg.jpeg

Kalau pada jaman Belanda dipakai untuk kantor Jawatan Perkereta-apian, beda lagi di jaman penjajahan Jepang dipakai untuk markas polisi militer Jepang yang terkenal sadis dan kejam. Sekarang setelah direnovasi dan direvitalisasi oleh Unit Pelestarian Benda dan Bangunan PT KAI.  Beberapa ruangan  disulap sebagai ruang peraga museum kereta api. Dan beberapa ruangan masih dalam proses renovasi.

wpid-lawang-sewu-alid-3.jpg.jpeg

Lengkap sudah, mulai dari bangunan bersejarah, Gereja, Klenteng, hingga Masjid. Walau Semarang panasnya jahanam, walau hanya sehari singgah, tapi saya jatuh cinta dengan kota ini. Dua potong Lunpia menutup perjalanan saya di Semarang, pasti saya akan kembali!

wpid-lawang-sewu-alid-2.jpg.jpeg

 

 

57 COMMENTS

  1. Waktu datang ke sini sudah malam. Jadi saya tidak melihat sampah-sampah yang mengambang di dalam kolam. Melihat ini kok ya saya jadi mendidih..Di masjid saja kok ya perilaku jorok masih dibawa-bawa. Lagian kok gak ada yang membersihkan ya? Biasanya Masjid kan punya badan pengelola kan? Masa mereka tidak tahu sih masjid kebanggaan ini kolamnya jorok begitu?

  2. Blm sempat masuk ke Blenduk. Tapi semua yang disebutkan di atas udah pernah didatengi semuanya. Depan kantor pos itu adalah titik nol kota Semarang. Fyi aja sih, mungkin bisa dijadikan caption hehehe :))

  3. Mbikin mupeng banget nih :haha, kebetulan dalam waktu (yang tidak terlalu) dekat saya kepengin juga jelajah kota ini :hehe, semoga kesampaian :)).

    Saya juga pernah diusir satpam di stasiun Tawang :haha. Yang ada kita melipir ke arah ujung dekat tempat para petugas kebersihan dan melanjutkan istirahat di sana, tapi tak bertahan lama soalnya itu smoking area dan kita terganggu asap rokoknya :huhu.

    Bangunan kolonialnya Semarang itu memang juara! Di saat yang sama saya juga naik ojek menembus pagi di sana, tatkala Gereja Blenduk disapa sinar fajar. Keren dan dramatis banget! Kayaknya jelajah kota tua Semarang bukan sesuatu yang bisa dilewatkan :)).

    Haa, het hoofdkantoor. Di sana ketemu yang aneh-aneh tidak, Mas? Sama di Sam Poo Kong tidak coba foto dengan kostum a la Tiongkok? Seru lho :hihi :peace.

    Semarang is indeed a splendid city with thousand of experiences!

  4. Etdaaaahhh pose ne Alid pas ndek klenteng! 😆
    Dari sekian tempat di atas, cuma pernah berkunjung ke masjidnya. Maklumlah, anak solehah #Ehgimana

  5. Baru kali ini baca tulisanmu nyaris nggak ada ngocol e, masih sehat kan Lid? Hahahaha
    Semoga menang lomba yes. Gud luck 😀

  6. Kalo buat lomba, nulisnya nggak pake ngocol yah Lid, hahaha. Foto-fotonya nice banget! Semoga menang

  7. Wah keren. Walau cuma perjalanan sehari tapi mencakup tujuan wisata yang utama.
    Saya duluuu ke Semarang cuma di simpang lima situ. Kepengen lagi kesana.
    salam

Leave a Reply to @bangsaid Cancel reply