Sehari Keliling Di Pink City, Jaipur

22

Fast reader silahkan pergi! Dibaca normal hanya butuh 4 menit dari hidupmu.

Kota terakhir yang saya singgahi selama seminggu di India adalah Jaipur, atau terkenal dengan julukan Pink City karena hampir setiap sudut di bagian kota tuanya dindingnya berhiaskan warna merah muda. Awalnya dulu Maharaja Ram Singh mengecat seluruh kota dengan warna merah muda untuk menyambut Raja Edward VII pada tahun 1876, tapi tradisi tersebut ternyata masih melekat sampai sekarang dan menjadi daya tarik sendiri. Merah muda sendiri melambangkan keramah-tamahan. Gosipnya pemerintah setempat memberikan dana khusus untuk pemeliharaan dan peremajaan setiap bangunan yang ada di kompleks kota tua. Jadilah Jaipur mendapat julukan Pink City. Jaipur sendiri berasal dari nama Maharaja Sawai Jai Singh II.

Pink City

 Kawan jalan saya Zarah sudah pernah mengunjungi Jaipur sebelumnya, katanya dia jatuh cinta dengan kota tersebuti. Tidak salah memang saya pun rasanya kesengsem dengan kota ini karena Jaipur begitu India banget, so India. Eits Varanasi pun juga India banget tapi dalam hal agamanya Hindunya. Nah kalau Jaipur lebih ke budaya dan hal yang bersifat kekerajaan, serta bangunan tua, juga unta plus gajah, aaarrgghh gila ya bisa lihat unta dan gajah seperti lihat kambing berkeliaran di Indonesia. Bisa dibilang Varanasi dan Jaipur begitu melengkapi pengalaman saya tentang India yang selama ini hanya bisa saya lihat di film. Agra? Ah kalau bukan demi Taj Mahal saya enggan ke Agra karena kota itu mahal untuk backpacker kere macam saya hahahaha.

Zarah, Tea, dan Si Ganteng

Kami memulai berpetualang keliling Jaipur dengan ditemani Hussey yang merupakan host kami selama di Jaipur. Amber atau Amer Fort yang jadi tujuan pertama kami karena dekat dengan rumah Hussey. Saya pikir nama Amber itu dari Bahasa Inggris tapi ternyata dari kata Dewi Amba yang merupakan nama lain dari Dewi Durga bertangan delapan.

Foto Kota Jaipur dari atas Amber Fort

Amber Fort dibangun oleh Raja Man Singh I dengan sentuhan artistik khas Hindu dan ornamen Islam. Layaknya benteng, Amber Fort dilengkapi dengan tembok-tembok besar dan gerbangnya. Untuk memasuki kawasan benteng harus sedikit menguras tenaga, pasalnya kami harus naik tanjakan untuk menuju ke atas. Kalau tidak mau capek alternatifnya ya naik gajah yang ongkosnya lebih mahal daripada tiket masuk, 900 Rupee brooooo (sekitar Rp. 150.000). Pantesan di beberapa sudut banyak tahi gajah. huwekkk.

900 Rupee broooooooo

Ada empat bagian di Amber Fort, di dalamnya ada istana, taman, dan kuil, setiap tempat di Amber Fort ada cerita sendiri, paling menarik adalah magic flower. Salah satu ornamen dinding yang berbentuk bunga tapi ternyata jika diperhatikan dan ditutup akan muncul 7 motif: ekor ikan, teratai, ular kobra, belalai gajah, ekor singa, tongkol jagung, dan kalajangking. Caranya adalah menutup sebagian dari motif dan nanti akan terlihat motif yang akan diinginkan.


Saya lupa ambil gambar yang ditutup satu persatu, ini gambar dari TravelerFolio.com

Selanjutnya kami mengunjungi Hawa Mahal, tapi sayang ketika kami berkunjung Hawa Mahal sedang dalam renovasi *nangis guling-guling* padahal dari sekian ikon di Jaipur, Hawa Mahal adalah monumen yang paling ingin saya kunjungi.

Hawa Mahal sedang direnovasi

Gagal masuk ke Hawa Mahal selanjutnya kami ke Jantar Mantar, situs yang masuk dalam daftar UNESCO ini adalah salah tempat yang bisa membuat saya yang sudah bodoh ini bertambah bodoh. Ini adalah tempat observasi ilmu perbintangan, sejelas apapun Hussey menerangkan apa itu Jantar Mantar, bukannya saya tambah mengerti tapi tambah bingung hehehe. “Do you understand bhai?” “Mein samjha nahin hain, I don’t understand at all” huwahahahaha. Intinya Jantar Mantar merupakan tempat observasi astronomi terbesar di India yang dibangun pada tahun 1727-1734. Jadi jaman dulu saja ilmu perbintangan sudah sangat canggih. Baru ngeh ketika googling tempat ini ternyata pernah dipakai syuting film The Falls loh sebagai labirin. Hussey bilang setiap bangunan dan instrumen yang ada di sini mempunyai presisi dan ketepatan perhitungan yang pasti, tapi saya cukup bilang “It’s really hot bhai, can we just skip this place” huwahahaha.

Nah serius saya nggak ngerti itu apa :p

Seharusnya kami lanjut ke City Palace tapi kami sudah kepanasan dan langsung ke Albert Hall dengan naik becak, kasihan yang ngayuh becak ngos-ngosan. Albert Hall atau Central Museum, dinamakan Albert Hall karena tahun 1876 Raja Edward VII (Albert Edward) berkunjung ke Jaipur. Dan peletakan batu pertama pada tanggal 6 Februari 1876. Isinya bermacam-macam pahatan, lukisan, literatur, dan berbagai barang antik lainnya.

Depan Albert Hall

Kami mampir sebentar di Jal Mahal, dibilang mampir tidak juga karena hanya melihat dari jauh. Bagaimana bisa masuk, Jal Mahal adalah istana di atas air dan hanya tamu atau keluarga istana yang bisa masuk. Jadilah kami hanya menikmati istana unik tersebut dari pinggir danau.

Berharap saya adalah keluarga kerajaan :p

Terakhir kami ke Nahargarh Fort, benteng yang dibangun di atas bukit tersebut jaraknya lumayan jauh dan tidak ada transportasi umum ke sana. Total berempat naik Auto-rickshaw untuk menuju ke atas. Nggak ada yang istimewa di benteng ini tapi pemandangan kota Jaipur dari atas bukit begitu mempesona. Kami di sini sengaja sore hari untuk menikmati sunset dari ketinggian tapi sialnya benteng ditutup jam 6 sore. Ada tempat khusus jika ingin menikmati sunset dan harus bayar ekstra 50 Rupee (Rp. 10.000) tapi gratis Chai (teh India), sialan. Fun fact: Nahargarh Fort atau disebut juga Tiger Fort ini pernah jadi tempat syutingnya film Rang De Basanti loh.

Gerbang masuk Nahagarh Fort

Dua lelaki India, hayo gantengan mana :p

Menikmati sunset di atas ketinggian

Hanya dengan tiket terusan seharga 300 Rupee (Rp. 50.000) saja saya sudah bisa mengunjungi 5 tempat di Jaipur, dan tiket tersebut berlaku untuk 2 hari. Ditambah penjelasan Hussey yang merangkap jadi tour guide gratisan kami hehe. Usut punya usut ternyata dia sedang magang untuk jadi tour guide resmi dan dia punya lisensi  Tour Guide resmi loh. Ah beruntungnya kami tapi sial bagi dia hahaha. I’m just falling in love with Jaipur, happy traveling  ^__^

Cipokan terakhir menutup akhir postingan saya tentang Jaipur :*

22 COMMENTS

    • eits sebelum menjangan masih ada baluran, ijen, kedung cinet, bangkok etc etc hahaha…

      tulah kita musti kena bayar dia, kesian haha…

      biryani? ah wait for another post 🙂

  1. Lid, biar pembaca nggak miikir2 amat, itu Rupeenya langsung dirupiahkan saja. Biar tahu seberapa harganya.

    Demikian saran saya. Btw, di India hawanya sama nggak kayak njombang? #eh

  2. yang Jantar Mantar unik ituu, mirip kayak observasi gitu 😀 Kayaknya kalau ke india lebih enak pake tour guide ya? gimana ceritanya kok bisa dapet gratisan? XD

Leave a Reply to Fahmi Cancel reply