Sehari Mengembara di Bumi Ronggolawe

76

Fast reader silahkan pergi! Dibaca normal hanya butuh 5 menit dari hidupmu.

Alkisah Ronggolawe membantu Raden Wijaya babad alas Tarik untuk mendirikan kerajaan Majapahit. Ronggolawe juga bersama Raden Wijaya berperang melawan Jayakatwang, raja dari Kerajaan Kadiri. Setelah Kadiri runtuh, Raden Wijaya menjadi raja pertama Kerajaan Majapahit.Β Karena jasa-jasanya tersebut Ronggolawe diberikan kekuasaan untuk memimpin Tuban, sebuah kota pelabuhan paling penting di utara Jawa. Miris, Ronggolawe justru difitnah memberontak Majapahit dan tewas bertarung melawan Mahisa Anabrang di Sungai Tambak Beras.

Masyarakat Tuban mengenal Ronggolawe sebagai pahlawan besar sehingga selama bertahun-tahun Tuban bangga dijuluki Bumi Ronggolawe. Namun slogan tersebut diubah menjadi “Tuban Bumi Wali” pada tahun 2013 oleh Bupati Tuban H. Fathul Huda. Yah mungkin juga beliau ingin merubah imej julukan Tuban sebagai Kota Tuak. Padahal menurut saya julukan Bumi Ronggolawe lebih seksi didengar dan diucapkan.

Singkat cerita, tiba-tiba saya berada di Tuban dan memalak Mbak Dian blogger Tuban untuk mentraktir saya rajungan. Tuban itu ternyata dekat banget dari Jombang, hanya dua jam perjalanan naik bus. Punya waktu hanya sehari di Tuban dan Mbak Dian dan Dewi sepupunya mengajak saya ngelayap seharian di mulai dari matahari terbit hingga terbenam. Jadi kalau kamu di Tuban dalam sehari, apa yang bisa dikunjungi?

Pagi di Pantai Boom Tuban

Dimulai dari subuh kami ke Pantai Boom, pantai dambaan dan kebanggaan semua umat Tuban. Maklum pantai ini letaknya dekat dengan pusat kota tepatnya di utaranya alun-alun, jadi bisa dipastikan pantai ini jadi jujukan masyarakat Tuban untuk berekreasi. Karena masih pagi buta loketnya tidak ada yang jaga. Kami menyelonong masuk saja. Sayangnya mendung jadi matahari tidak nampak, walau begitu saya dapat gambar lumayan bagus.

Jangan dibayangkan di pantai ini kita bisa berlarian di pasirnya yang putih dan main air. Lha wong bibir pantainya sudah nggak ada, digantikan dengan batu-batu besar dan pembatas dari beton. Main air silahkan tapi butheknya minta ampun. Yang saya pertanyakan, dulu pantai ini katanya pelabuhan kuno pada masa kerajaan Majapahit. Tetapi kenapa namanya modern banget begitu, Boom. Ketika saya tanya Mbak Dian nama asli dari pantai ini dianya hanya bisa geleng kepala. Mbak sampean gagal jadi Duta Tuban, tak copot titelmu. Karena sudah agak benderang kami memutuskan untuk mengisi bahan bakar dulu alias sarapan sebelum melanjutkan pengembaraan. Byuh pengembaraan.

Setelah sarapan saya memacu kuda besi ke Watu Ondo di Kecamatan Semanding, sekitar 8 km dari pusat kota Tuban. Nggak mudah menemukan Watu Ondo kalau bukan warga sekitar, bahkan Mbak Dian seorang Duta Tuban yang katanya sudah tiga kali ke sana tetap saja nyasar dan harus tanya warga sekitar *tarik slempang duta Tuban*

Bukanlah tempat wisata umum tapi hanya sebuah tebing di sebuah dusun yang instagramable. Tebing yang sekelilingnya pepohonan hijau berpadu sawah dan ladang penduduk, kalau pagi agak sedikit berkabut. Pemandangan ciamik yang selalu diburu para Instagramer untuk menghasilkan foto bertema folk. Kalau saja di Yogyakarta tempat seperti ini pasti sudah dikelola dengan dibangun view point atau spot untuk berfoto seperti di bukit-bukit di Mangunan.

Dari Watu Ondo saya diajak ke sebuah rumah sederhana di Dusun Trowulan, Bektiharjo, untuk menemui Mbah Rasimah. Di sinilah saya mencicipi panganan tradisional yang hampir punah di Tuban karena sudah tidak ada yang jual. Konon Mbah Rasimah satu-satunya orang di Tuban yang masih membuat dan menjual panganan ini. Ampo, bentuknya seperti astor bulat panjang. Tapi jangan bayangkan rasanya manis legit seperti astor, melainkan tawar tidak berasa seperti hidupmu.

Mbah Rasimah Membuat Ampo

Bahan bakunya? Dari tanah liat tanpa bahan tambahan micin atau gula, murni seutuhnya dari tanah liat. Satu stick saja saya nggak berani menghabiskan, sementara Mbak Dian nggak berani mencoba. Ketika digigit tanah liat yang kering tersebut langsung lengket di gigi. Kebiasaan geofagi (makan lempung) warga Bektiharjo tersebut sudah turun temurun. Banyak yang percaya ngemil Ampo bisa menyembuhkan berbagai penyakit.

Ampo: Astor Jawa

Setelah makan lempung saya balas dendam makan kare rajungan yang dijanjikan Mbak Dian di Warung Mbak Narti di Di Desa Tasikmadu, Kecamatan Palang. Siapa sangka di perkampungan begini ada warung dengan menu masakannya ngalahin restoran di kota besar. Mbak Narti menjual berbagai macam olahan seafood seperti: rajungan, seafood, cumi, kerang. Selain olahan laut ada juga belut, menthok, jerohan.

Tentu saja saya memesan Kare Rajungan yang menjadi menu andalan warung ini. Tanpa babibu lagi saya menghabiskan satu porsi Kare Rajungan yang berisi dua ekor besar berdaging tebal dan manis. Rasanya super nendang, bumbu karenya mantap dan pedasnya di atas rata-rata bikin ngoweh-ngoweh. Seandainya saja saya nggak kenyang mungkin saya pesan lobsternya juga. Menulis ini saya ngiler dan pengen lagi makan di sana. Harganya? Duh jangan tanya harga deh, lha wong saya ditraktir bhuahahaha.

Hajar bleehh!!!

Kenyang makan rajungan kami menuju Klenteng Kwan Sing Bio yang merupakan klenteng satu-satunya di Indonesia yang menghadap ke laut. Gerbang klentengnya unik yaitu adanya patung kepiting raksasa bercokol di atas. Tidak seperti klenteng pada umumnya yang biasanya berornamen patung naga. Saya kalau ke klenteng suka melongok ke bagian altar untuk melihat Kongco atau Maco atau Dewanya, tapi di klenteng ini pengunjung umum dilarang masuk. Padahal saya mau lihat jendral perang Kwan Sing Tee Koen yang merupakan Dewanya klenteng ini. Perlu pembaca ketahui setiap klenteng mempunyai dewa yang berbeda seperti dewa kesehatan, pembawa rejeki, keberuntungan, dan lain sebagainya. Pasti yang pernah nonton Kera Sakti sedikit paham kalau banyak dewa-dewa bermunculan. Klenteng yang mengklaim sebagai yang terbesar di Asia Tenggara ini dibangun pada abad ke-18. Tapi menurut saya nggak besar-besar amat. Bahkan Klenteng Sam Poo Kong di Semarang masih lebih megah menurut saya.

Menjelang senja kami ke Pantai Remen di Kecamatan Jenu. Siapa sangka kalau di pantai utara Jawa ada pantai dengan pasir putih dan air lautnya bersih. Bukan rahasia umum kalau di utara pulau Jawa nggak ada pantai yang kinclong. Di Pantai Remen pasirnya putih dengan ukuran besar-besar dan tajam sekali, di pinggir pantai ada pohon cemara, di tengah-tengah ada laguna. Dibalik keindahan pantainya ternyata pantai ini merupakan pantai buatan atau diremajakan kembali. Dahulu lokasi ini tempat pembuangan limbah pabrik PT. TPPI (Trans Pacific Petrochemical Indotama) yang tepat di sebelah pantai.

Masih banyak sebenarnya wisata di Tuban yang belum saya kunjungi. Termasuk Gua Akbar dan tempat-tempat relijius yang sengaja di-skip karena saya hanya pakai hot pants haha. Mbak Dian saya akan kembali ke Tuban lagi dan plis traktir saya makan lobster #digemplang

Selfie Sukaesih

Wonderful Indonesia and happy traveling!

76 COMMENTS

  1. Jadi kamu datang deket-deket dari Jombang ke sana hanya untuk mencopot titel duta Tuban ke mbak Dian? sungguh terlalu kamu. Apalagi udahnya senyum sumringah makan rajungan. Gak ngajak-ngajak pula. Ewwhhh

  2. Duh ini aku bacanya salah, pas lagi di kereta, belum sarapan, pas lagi lapar-laparnya langsung mbayangin makan kare rajungan dan lobster. Beeuh …

    Jadi gimana Lid, kamu udah bisa ya makan astor lempung. Besok-besok tak bawain pecahan celengan wis, buat camilan hahahaha

      • Cuma mau ke ibukota aja, ada tugas negara

        Ok deh, nanti aku bawain pecahan celengan bertabur gelasan benang. Ini kok malah kaya ‘debus’ akhirnya.

        Eh tapi iya sih, temanku yg orang Tuban juga selalu promo soal seafood mereka. Selain dia berbagi cerita soal ‘gosip pemerintahannya’

  3. HUAHAHHAHAHAHAHHAHAAA….

    Duh postingan iki kok semacam bully terselubung ya #keplak

    Walaupun sempet nyasar2, tapi kan nyampek enggon Lid *capit nggae rajungan*

    Ohiyaaa, kemarin kita gak sempet blusukan ke hutan2 dan nyebut me Krawak & Nglirip. Mreneo neh gih. Ajak Om Danan sekalian

  4. Kare rajungan itu pedas banget. Pedesnya kebangetan. Kayaknya tempat makan saya dulu pas ke Tuban sama deh dengan tempatmu Mas, warung dan mejanya masih segar di ingatan, haha. Eh itu berangkat dari Jombang jam berapa Mas sampai bisa tiba di Tuban masih subuh begitu? Memang sudah ada bis? Eh dirimu naik motor, ya.
    Kambang Putih memang nggak ada matinya. Jadi pengen ke sana lagi dah, hehe.

    • Di Tuban yg ngehits rajungannya super pedas di Warung Manunggal. Yang Mbak Narti di pelosok masuk kampung whehehe. Duh sejak jaman aku masih balita Jombang-Tuban ada bus kok weks. Ini aku semalam nginep di tempatnya mbak Dian haha.

      Eh Kambang Putih itu nama pantai boom ya? Di deket alun-alun ada museum Kambang Putih, karena kelupaan nglayap museum itu miss dalam kunjungan hiks.

  5. Waduh pas awan ngene ndelok lobster yang bikin bapeeer.. Luweee mas.. Joss tenan. Btw kalo ingat Tuban dulu aku pernah ke pantai Sowan. Diksar susur pantai nang kono. Untung gak enek sing mati. Cuma kesurupan doang. hahahaha

  6. Iya ya aku kok kg lebih suka pakai nama Ronggolawe. πŸ™‚ Rajungannya nafsuin banget buat dimakan.. Itu ampo dicocol nutella baru enak kali ya.. πŸ˜€ Klentengnya pun unik bgt ada kepiting di atasnya. Seru juga Tuban, yaa..

  7. Jadi ngiler tadi baca yang bagian ranjungan hehehe keliatan enak banget. Kapan-kapan kalau mampir ke tuban mau ah cobain hihi. Btw makasih ya mas infonya biar kalo ke tuban gak bingung hehe :))

  8. mas, aku kok jg geli ya liat foto si ampo ;p.. ga berani makan, item begitu hihihihi ;p..

    eh itu rajungan kenapa bisa sesexy itu godaannyaaa :D… ada lobster jugaaa???? waaaah, ga bener, aku hrs ke Tuban kayaknya kalo ntr mudik ke solo πŸ˜€ mampir dulu kesana ;p

Leave a Reply