Suka Dukanya Naik Bus di Vietnam

28

Fast reader silahkan pergi! Dibaca normal hanya butuh 6 menit dari hidupmu.

Selama di Vietnam ada enam kota di lima provinsi yang saya kunjungi. Saya mulai perjalanan dari Vietnam Utara ke Vietnam Selatan. Jalur tersebut umum bagi turis yang menjelajah Vietnam. Mereka pasti keliling dari utara ke selatan atau sebaliknya. Geografis Vietnam yang memanjang dan kota-kota tujuan wisata di jalur-jalur utama jadi memudahkan pelancong.

Untuk berpindah kota antar provinsi di Vietnam ada pilihan lima moda transportasi. Pertama bisa naik pesawat tapi pasti mahal, kedua kereta api, ketiga bus, keempat pintu ke mana saja Doraemon, dan terakhir permadani terbang Aladdin. Oke abaikan yang dua terakhir *dikeplak*


Rute perjalanan saya selama di Vietnam

Seminggu di Vietnam saya menggunakan bus dan pesawat. Saya tidak mengambil kereta karena katanya sudah mahal tetapi jalannya seperti siput. Mending naik bus saja lebih cepat jalannya dan ramah di kantong. Namun kenapa saya naik pesawat? Karena saya kaya dan banyak duit bhuahaha. Lebih karena terpaksa atas kebodohan saya yang salah menghitung hari.

Kalau kamu mau jalan-jalan hemat di Vietnam naiklah bus. Apalagi di sana ada bus dengan tiket terusan. Nah piye itu? Istilahnya di sana adalah Open Bus Ticket. Jadi misalnya kamu dari Hanoi melipir ke Ho Chi Minh City (Saigon) dan mampir di kota-kota wisata berikut: Ninh Binh – Phong Nha – Hue – Da Nang – Hoi An – Nha Trang – Mui Ne – Sai Gon (tujuan terakhir). Bisa beli open bus ticket. Hanya bayar di awal saja di kota pertama dan bisa naik bus dari perusahaan yang sama ke kota selanjutnya tanpa bayar lagi. Lebih murah daripada beli ketengan satu persatu.

Semakin banyak kota yang disinggahi semakin mahal. Waktu itu saya beli dengan rute: Hanoi – Hue – Hoi An – Saigon. Sedangkan Sapa tidak ada rutenya, jadi saya beli terpisah Hanoi – Sapa – Hanoi. Harganya? Saya beneran lupa berapa, maklum saya anaknya malas mencatat. Kalau tidak salah sekitar 300 ribu hingga 350 ribu rupiah. Itupun saya pakai usaha tawar-menawar sambil plorot celana ke makelarnya. Jadi dapat diskonan lumayan.

Di mana belinya? Di toko bangunan sebelah. Jalur backpacker Indochina itu memanjakan banget buat turis. Tinggal minta tolong orang hotel atau hostel, mereka pasti jual tiket bus dengan imbalan fee yang sudah termasuk dalam harga tiket. Tinggal standby sesuai jadwal keberangkatan di lobi hotel dan nanti akan dijemput di oleh kenek busnya. Jemputnya macam-macam, ada yang dijemput dan diajak jalan kaki kalau dekat tempat pemberangkatan. Di Myanmar dulu saya dijemput pakai van kecil, di Kamboja dijemput pakai tuk-tuk. Jangan ngarep dijemput pake limousine. Tenang itu semua tanpa biaya tambahan. Sudah termasuk service. Kadang ketar-ketir keringat dingin karena yang jemput belum datang, padahal sudah melewati jadwal keberangkatan. Tenang, mereka biasanya jemput penumpang lain dulu. Itu yang membuat lama. Kalau lebih dari dua jam belum dijemput juga, fix kamu ditinggal dan ditelantarkan bhuahahaha.

Seluruh armada bus jenis kursinya adalah sleeper bus, jadi penumpang bisa selonjor tidur dengan nyaman menempuh jarak jauh. Seat dengan dua tingkat dan berada di kanan kiri dekat jendela serta tengah. Jadi ada dua lorong dalam bus untuk berjalan. Di Indonesia sleeper bus hanya ada di rute Jakarta-Purwokerto dan kabarnya sudah tidak beroperasi lagi karena tidak berizin. Bahkan kereta eksekutif di Indonesia saja kalah sama kereta ekonomi di India yang seatnya model tempat tidur. Padahal jarak tempuh kereta api di Jawa lumayan lama loh. Berangkat naik kereta bisnis di Indonesia badan segar bugar, sampai di tujuan badan remek dan pegel semua. Baca pengalaman saya naik kereta bisnis dari Surabaya-Denpasar.

Untuk pesan perjalanan selanjutnya kamu harus ke pool bus dan booking sehari sebelumnya. Nggak bisa go-show. Tinggal bawa lembaran tiket berbentuk buku kecil dan tunjukkan ke petugas. Tanya juga apa disediakan penjemputan ke hotel atau tidak. Di Hue saya jalan kaki sendiri ke pool bus karena dekat dengan hostel tempat saya menginap. Saya nggak ingat armada bus apa yang saya naiki tapi hampir armada bus di Vietnam menyediakan open bus ticket. Tinggal pilih Camel Travel, The Sinh Tourist, Hanh Cafe, dan masih banyak yang lainnya.

Malapetaka bagi yang bertubuh jangkung, karena kursi sleeper didesain ukurannya sesuai standar tubuh orang Asia. Buat saya sih pas tapi bule-bule yang lain saya liat kaki menekuk. Kalau sudah tidur semua ada yang kakinya menggelantung ke bawah. Ada yang berserakan di lorong.

Saat booking tidak dikasih nomor kursi, jadi ketika bus datang harus rebutan, siapa cepat dia dapat. Pengalaman saya dua kali dapat kursi horor waktu dari Hanoi ke Sapa, dan baliknya juga begitu. Waktu itu saya manut saja diarahkan kondektur untuk duduk. Dan saya disuruh menempati bed belakang sendiri dekat toilet. Kasurnya luas jadi harus berbagi untuk bertiga. Jadilah sepanjang perjalanan saya threesome dengan orang asing. Pulang dari Sapa ke Hanoi semua kursi depan sudah penuh dan mau nggak mau saya tidur di bed belakang dekat toilet, dan threesome lagi. Di sinilah malapetaka terjadi. Toilet mulai mengeluarkan bau-bau tidak sedap. Bau pesing dan busuk bercampur jadi satu sampai bikin kepala nggeliyeng. Bus baru 30 menit berjalan dan masih ada sisa 5,5 jam. Jiangkreeek!

Saya sesak nafas dan keringat dingin menahan bau pesing yang menyengat. Perut sudah bergejolak ingin keluar. Saya ke depan cari angin dan duduk ngesot dekat supir. Belum sepuluh menit sang supir menyuruh saya kembali karena katanya melanggar peraturan dan takut kena tilang polisi. Saya sudah protes kalau toilet bau busuk tapi tidak ada tindakan apapun. Mungkin doi nggak ngerti Bahasa Inggris medok.

Endingnya saya harus tetap menahan bau busuk sampai akhir perjalanan. Bule Prancis yang sekasur sama saya melihat iba dan ngasih pil untuk menghilangkan mual. Pilnya manjur sekali dalam sekali tenggak. Sisa perjalanan saya semprot masker yang saya pakai dengan parfum dan siap-siap kantong plastik di samping jika pertahanan perut say jebol alias muntah. Sebagai pelajaran ketika menuju Hue saya nyari kursi bagian depan atau tengah. Saya nggak akan beranjak pergi walau diusir kondektur. Jangan sekali-kali mau duduk di belakang jika naik bus di Vietnam.

Bonus foto artis

Satu trik lagi naik bus di Vietnam adalah selalu pakai sandal japit. Sebab masuk bus itu suci kayak masjid, jadi alas kaki harus dilepas. Disediakan kantong plastik untuk menyimpan alas kaki. Ribet banget kalau harus pakai sepatu. Dalam perjalanan bus akan berhenti sekali di rumah makan untuk istirahat, makan, dan ke toilet. Sayangnya tiket tidak termasuk makan layaknya bus Eka Cepat jurusan Surabaya-Yogyakarta yang ngasih voucher makan di Rumah Makan Duta di Ngawi. Meski makanan di Duta nggak enak tapi lumayan buat ganjal perut.

Jarak tempuh kota-kota yang saya tuju lumayan jauh, jadi saya selalu memilih perjalanan malam sehingga bisa hemat ongkos penginapan. Hanya dari Sapa ke Hanoi dan Hue ke Hoi An saya naik di pagi hari karena keterbatasan waktu dan jadwal. Hanoi ke Sapa dibutuhkan waktu tempuh enam jam, kalau pulang pergi ya 12 jam. Hanoi ke Hue butuh waktu 13 jam. Dan Hue ke Hoi An cuma tiga jam. Sedangkan Hoi an ke Danang saya naik bus lokal karena cuma sejam. Gempor kan naik bus di Vietnam.

Bonus foto artis

Sedangkan Hoi an ke Saigon tidak saya pakai karena saya melakukan kesalahan. Kurang jeli riset dan salah menghitung hari. Dari Hoi An ke Saigon membutuhkan waktu sekitar 17 jam. Jika saya nekat naik bus, sudah pasti saya ketinggalan pesawat pulang. Mau nggak mau saya harus beli tiket pesawat ke Saigon dari Danang yang harganya sungguh lumayan buat foya-foya dua-tiga bulan. Misalkan saya buang Sapa dari jadwal perjalanan mungkin kejadian ini tidak terjadi. Gublik khan!

Vietnam benar-benar membuat dompet saya tekor. Dari awal perjalanan pesawat delay dan terpaksa naik taksi, bayar denda karena batal ikut tour Halong Bay; uang hostel hangus karena hostel udah tutup tengah malam; sewa sepeda dan motor di hari yang sama karena nggak tahu jarak; tiket terusan yang hanya terpakai dua kali doang; terpaksa beli tiket pesawat domestik. Ah tenang duit bisa dicari lagi, lagipula warisan tanah saya masih banyak wakakaka. Lagipula perjalanan tanpa bumbu micin akan terasa hambar.

Happy traveling!

Daftar tulisan perjalanan saya di Vietnam:

28 COMMENTS

  1. Walau dapet duduk di depan atau tengah, kalau ketemu tetangga yang bau kaki atau bau badan juga cobaan ya hahaha. Aku kalo pake bus ini juga sedikit menderita, soalnya tinggi badan lumayan sih. *agak sombong gitu ngetiknya :p

    Jadi, dari seluruh kota yang pernah didatangi di Vietnam, mana yang bikin mupeng balik lagi? Apa Sapa? karena di sana hujan mulu? hwhwhw

    • Nah iya juga sih ahaha, bau bada sama bau kaki juga polusi bau. Tapi ini toilet asli bikin pingsan. Bukan badan doang kan yang tinggi tapi badan jugaaaaa….. *sinyal ilang*

      Kalau disuruh balik pengen ke Hue, Hoi An, Da Nang. Sapa entahlah meski hujan dan gak bisa ngapa-ngapain tapi kok males balik ke sana haha.

  2. Bis dekat toilet.. Tobat dah.. Untung aja nggak mabook Mas. Baunya pasti Apalagi kalo ada yg habis makan pete jengkol ..

    Tapi keren yaa busnya sleeper gitu,..coba di sini transjakarta kayak gitu ya.. Seger sampai tempat kerja..

  3. Saru tenan postingan iki, mulai adegan plorot celana sampai threesome. Mungkin ini yang dimaksud dengan micinnya tulisan. huahahaha

    Bus utowo kreta sing sleeper iku kenek kanggo hemat duwek. ambil perjalnana malam, bobok di bus. nggak atek nyewo hotel. Nelongso. :))))

  4. Wkwkwkwj haduuuh mas, aku ikutan mual2 ini ngebayangin bau2 menguar dari toilet :p. Itulah kenapa , sebisa mungkin aku ga mau traveling naik bis, kecualiiii kepaksa banget :D. Itupun, kalo sampe dpt duduk belakang, mnding aku bli tiket baru hahahah.. Drpd pingsan mencium aroma :p

Leave a Reply