Berburu Takjil di Masjid Sultan Singapura

29

Fast reader silahkan pergi! Dibaca normal hanya butuh 2 menit dari hidupmu.

Jalan-jalan saat puasa jadi tantangan tersendiri, bagi yang berpuasa tentunya. Yang nggak puasa palingan tantangannya adalah nyari tempat makan yang buka di siang hari bhuahahaha. Saya sendiri menghindari jalan-jalan saat bulan puasa. Tetapi bukan berarti saya nggak pernah jalan-jalan saat Ramadan. Saya ingat pernah ke Bali dan Palembang saat puasa, bisa dibayangkan betapa panasnya kalau siang hari. Kalau di luar negeri saya pernah ke Singapura saat bulan puasa. Apa serunya jalan-jalan saat puasa? Seru-seru saja, yang imannya kuat bisa jadi tantangan tersendiri. Yang imannya suka oleng seperti saya, bisa tumbang di tengah jalan nyari es degan bhuahahaha.

Waktu ke Singapura dulu saya sempatkan berburu takjil di Masjid Sultan di kawasan Bugis. Pukul 18:30 waktu Singapura orang-orang mulai memadati pekarangan Masjid Sultan. Semakin sore semakin padat, ramai tetapi tertib. Kursi-kursi di bawah tenda mulai dipenuhi pengunjung. Satu persatu panitia mulai bergerak mengisi meja dengan sajian nasi biryani dan ayam kari khas India. Tidak lupa potongan semangka, anggur, serta kurma juga tersedia untuk takjil. Sungguh sajian yang sangat mewah menurut saya. Dan yang terpenting adalah gratis.

Pengunjung yang datang dari berbagai etnis, dari mulai etnis Melayu, India, dan Timur Tengah mendominasi, terlihat juga etnis Tionghoa yang datang. Kami semua tidak kenal satu sama lain, tapi kami duduk bersama dalam satu tujuan. Yaitu menunggu Magrib tiba untuk berbuka puasa bersama. Ini adalah kedua kalinya saya membaur dengan orang berbagai etnis dalam ritual ibadah. Dulu saya pernah Salat Iduladha di Masjid Itaewon di Seoul yang jamaahnya kebanyakan orang Timur Tengah. Selesai salat saya bersalaman sambil mengucapkan Eid Mubarak, dan saya ditarik mendekat untuk cipika-cipiki bhuahahaha. Cipika-cipikinya hanya sebatas menempelkan pipi dengan pipi. Jadilah pipi saya ternoda terjamah oleh puluhan lelaki brewok di sana huhuhu.

Begitu adzan Magrib berkumandang, semuanya membaca doa dan membatalkan puasa. Harumnya nasi biryani dan lezatnya kari ayam siap kami santap bersama-sama dengan cara kenduri. Satu porsi loyang besar di makan untuk empat orang. Atmosfer kebersamaan sangat terasa, kami tidak mengenal satu sama lain tapi kami makan dalam satu piring. Tetap saja masih ada rasa canggung menyantap makanan dalam satu loyang dengan orang asing. Yang lain menyuruh saya untuk menghabiskan makanan, saya menolak dengan alasan sudah kenyang. Padahal saya hanya tidak ingin dianggap rakus bhuahahaha. Acara buka bersama di masjid menjadi momen tersendiri untuk merayakan perbedaaan dan keberagaman etnis.

Masjid Sultan yang berlokasi di Kawasan Kampong Glam Singapura ini mempunyai sejarah yang panjang sebelum menjadi seperti ini. Dibangun tahun 1824 oleh Sultan Hussain Shah yang merupakan penguasa Temasek (nama kuno Singapura). Bangunan awal masjid menyerupai Masjid Gedhe Kauman di Yogyakarta dengan dua tingkat piramid sebagai atapnya. 100 tahun kemudian yaitu pada tahun 1924 dibangun kembali dengan desain masjid bergaya Indo-Saracenic dengan kubah besar dan menara. Butuh empat tahun untuk menyelesaikan seluruh bangunan megah yang bisa menampung 5000 jamaah.

Bagi kamu yang sedang jalan-jalan di Singapura saat bulan Ramadan, bisa mampir ke Masjid Sultan saat buka puasa untuk merasakan atmosfer Ramadan yang sangat berbeda di negeri sendiri. Sebelum jam berbuka, kamu bisa ngabuburit keliling kawasan Bugis yang unik dan berfoto ria dengan seni mural di Haji Lane yang jaraknya hanya selemparan batu dari Masjid Sultan.

Selamat menjalankan ibadah puasa, and happy traveling.

29 COMMENTS

  1. Mantab, langsung dikasih makanan berat ya. Kirain sekadar kue, buah dan air. Aku belum pernah sekalipun traveling saat Ramadan. Hmm, mungkin kapan-kapan mau coba.

  2. Belum pernah nih traveling sambil pusasa,,, harus dipikirkan juga matang – matang ya,,, tapi btw itu makanan nya india semua ya .. ? πŸ˜€

  3. ku kira bakal ada bubur apa itu, yg katanya makanan khas buka puasa di Singapore. Aku dapat di masjid deket raffles, tapi ternyata ku tidak doyan

    • Eh ada buburnya kok, itu di nampan ada empat mangku bubur. Nggak kelihatan ketutupan plastik ahaha. Ku lupa rasanya gimana, terlalu terbuai dengan lezatnya nasi biryani

  4. Sepertinya kudu diagendakan ramadan di Negara tetangga yang mayoritas muslim. Jadi pas berbuka bisa ikutan cari takjil di masjid. Minimal sekalian berinteraksi dengan sesama musilm di sana ahahhahahah

  5. Pas lebaranan di Nepal, orang sana juga menyediakan makanan berat tuh, kari kentang sama roti. Wah kenyang banget! Apalagi minumnya susu hangat syamala. Gilee begah! Sayangnya aku gak cobain buka di masjid soalnya gak puasa hahahaha! Selamat puasa aliid~~

      • Kemarin aku di Pokhara, Lid. Ada dua masjid di sana dan masjidnya ya bentuk ruko gitu, gak yang ada kubahnya. Tapi masih ada bedug wkwk. Kalau pusatnya gak tempe juga ya, tapi di Pokhara banyak muslimnya, tempat makan muslim juga gampang dicari.

  6. dari dulu planning puasa + lebaran di singapore atau malaysia, tapi ga jadi jadi.
    ngerasain atmosfer berbuka di sana terlihat seruu sekali & berbaur dengan warga lokal.

  7. Tergantung juga traveling-nya ke mana, kak. Kalo traveling-nya ke Hong Kong ya tempat makan masih buka seperti biasa πŸ˜€

    Btw, menurutku traveling saat puasa itu justru membuat puasa lebih nikmat. Aku pernah kok traveling saat puasa, entah memang niatnya puasa atau karena puasa dadakan gara-gara nggak nemu makanan dan minuman murah hehe. Rasa lapar dan haus teralihkan dengan perjalanan dan pemandangan.

Leave a Reply