Mengarak Yang Mulia Dewa

11

Fast reader silahkan pergi! Dibaca normal hanya butuh 3 menit dari hidupmu.

Prang…prang…prang… Drung dum dum…drung dum dum… Cress…cress…crress. Tabuhan gendang dan hantaman simbal bertalu-talu memekakkan telinga. Meskipun begitu tidak membuat risih telinga, malahan harmonisasi gebukan perkusi tersebut membuat semangat siapa saja yang mendengar. Di depan mata saya terlihat Liang-liong meliuk-liuk mengikuti irama musik. Terlihat juga Barongsai menari-nari dengan lincah.

Suasana sungguh gegap gempita. Penonton berduyun-duyun memadati pinggir jalan, hingga merangsek ke tengah jalan untuk melihat hiburan gratis tersebut. Terlihat banyak pernak-pernik berbau Tiongkok. Mulai dari warna merah mendominasi, panji-panji bertuliskan aksara Tiongkok. Dan banyaknya orang-orang beretnis Tionghoa berkumpul di satu tempat. Saya seperti dilempar ke Singkawang, sebuah kota di Kalimantan Barat yang penduduknya kebanyakan beretnis Tionghoa. Sebuah pemandangan yang tidak biasa di Jombang yang dijuluki Kota Santri ini. Ada apa gerangan?

Rupanya Kelenteng Hong San Kiong di Gudo yang konon umurnya sudah tiga abad punya gawe besar. Dewa Kong Tik Tjoen Ong yang disembah di kelenteng tersebut sedang berulang tahun pada tanggal 22 bulan 8 Imlek, atau kalau penanggalan masehi tahun 2019 jatuh pada tanggal 20 September. Untuk merayakan hari bahagia tersebut, mereka mengundang dewa-dewa dari berbagai kelenteng di Indonesia. Dan perayaan ulang tahun digelar selama tiga hari terus-menerus. Tidak heran jika sepanjang jalan di Gudo banyak parkir bus-bus besar dengan berbagai plat nomor luar kota.

Setiap kelenteng mempunyai leluhur atau dewa yang disembah atau dipuja. Dewa atau orang Tionghoa di Indonesia biasa menyebutnya dengan istilah Kongco, dari Bahasa Hokkian yang berarti “Leluhur Semua Orang”. Kebanyakan etnis Tionghoa di sini adalah keturunan Orang Hokkian dari Fujian sana. Banyak kata serapan dari Bahasa Hokkian yang kita gunakan sampai sekarang seperti; calo, cawan, ebi, giwang, hoki, kecap, pisau, tahu, dan lain sebagainya.

Yang Mulia Kongco Kong Tik Tjoen Ong yang dipuja di Kelenteng Hong San Kiong adalah Dewa Pelindung. Dewa yang satu ini sangat populer disembah orang-orang Fujian. Apalagi yang sedang merantau ke luar daerah atau luar negeri. Banyak versi dari kisahnya. Kebanyakan menceritakan tentang beliau yang gigih, pekerja keras, sabar, berbakti kepada orang tua, dan setia. Patungnya digambarkan dengan sosok bertubuh tambun dengan kaki kanan bersila, dan kaki kiri lurus ke bawah.

Dewa-dewa yang datang ke kelenteng ditempatkan di joli atau tandu. Dari joli yang kecil hingga yang besar dan megah ada semua. Joli-joli tersebut kemudian dikirab keliling Gudo dengan diangkat beberapa orang. Sepanjang jalan joli digoyangkan maju mundur. Jangan dikira jolinya enteng, melihatnya saja membuat pundak saya ngilu nyeri. Yang bikin salut adalah joli-joli tersebut tidak diperbolehkan menyentuh tanah ketika diarak keliling. Meskipun macet dan perjalanan terhenti, para penggotong dengan segenap tenaga tidak akan membiarkan joli tersebut menyentuh tanah. Untuk menghilangkan bosan menunggu jalan lancar, terkadang joli digoyang kanan kiri maju mundur di tempat. Dalam prosesi kirab tersebut, saya melihat ada salah satu peserta yang kesurupan hingga pingsan.

Nggak ada yang tahu pasti berapa jumlah dewa yang hadir. Saya mencoba bertanya ke beberapa orang, ada yang bilang 60 tandu, dan ada yang bilang 80 tandu lebih. Mungkin saya tanya ke orang yang salah. Di antara ratusan peserta kirab, sekilas saya melihat komedian terkenal Yati Pesek turut hadir dalam acara tersebut. Saya baru tahu kalau Yati Pesek merupakan keturunan Tionghoa.

Yati Pesek

Dari puluhan joli yang dikirab, saya melihat hanya tiga orang yang melakukan ritual Tatung. Seumur-umur baru kali saya melihat orang melakukan Tatung, biasanya saya melihat dari foto dan video saja. Dalam dialek Hakka, Tatung adalah ritual memanggil roh leluhur untuk merasuki raga atau tubuh orang. Konon ritual ini sebagai alat komunikasi antara dunia nyata dengan alam ghaib. Ritual ini biasanya untuk pengobatan dan pengusiran roh jahat. Biasanya orang yang raganya dirasuki roh akan kebal terhadap benda tajam atau tidak akan merasakan sakit. Untuk membuktikan hal tersebut, beberapa bagian tubuh seperti kulit pipi dan lidah akan ditusuk dengan jarum kawat tanpa berdarah. Mirip-mirip debus lah Di Tiongkok sendiri sudah hampir punah ritual Tatung, kalau di Indonesia sendiri masih ramai saat perayaan Cap Go Meh di Singkawang.

Saya pribadi merasa bangga bisa menyaksikan kirab budaya yang bukan asli budaya Indonesia di kota Jombang, kota kelahiran saya. Apalagi budaya tersebut berasal dari etnis yang sangat sensitif di Indonesia. Budaya yang diserap oleh etnis keturunan Tionghoa yang sudah menjadi bagian dari Indonesia. Jombang loh punya beginian, itu menandakan keberagaman etnis dan agama di Jombang baik-baik saja. Nggak usah sok anti-anti Cina deh. Lha wong Bakso, Bakmi, Onde-onde, Roti Goreng, Cakwe, dan masih banyak lagi yang asalnya dari Tiongkok sudah menyerap ke dalam kehidupan kita.

Jombang Banget!

11 COMMENTS

  1. kereeen, malah di tiongkok ritualnya hampir punah, di indonesia malah masih rame ya mas. pengen sih melihat kirab budaya begini. Apalagi yg performancenya ga biasa seperti ini. anak2ku dari dulu seneng barongsai, tp mereka bisa excited banget liat orang di tusuk2 tp ga luka gini . sekalian ngajarin kebudayaan baru ke mereka :D.

    • Tatung paling ramai di Singkawang saat Cap Go Meh. Ritual menusuk-nusuk tubuh sendiri hampir ada di setiap agama. Memang seru belajar budaya baru, budaya yang bukan kebiasaan kita. Biar hidup nggak cupet hehehe.

Leave a Reply