Dua Kali Diujung Maut Demi Kawah Ijen

32

Fast reader silahkan pergi! Dibaca normal hanya butuh 4 menit dari hidupmu.

Setelah dari Taman Nasional Baluran kami beristirahat sebentar di Banyuwangi sebelum melanjutkan perjalanan ke Kawah Ijen. Rute yang kami ambil untuk menuju Pos Paltuding adalah dari Licin di Banyuwangi. Menurut Google Map waktu tempuh dari Kota Banyuwangi ke Paltuding hanya sekitar satu jam tapi saya salah memperkirakan kondisi alam. Hujan mulai turun begitu memasuki Desa Licin, jalan membawa kami menuju arah hutan dan jalan semakin menanjak sedikit demi sedikit. Masih sekitar pukul 5 petang kami di tengah jalanan entah di mana tidak tahu, rumah penduduk pun tidak kelihatan satupun, yaiyalah kami di hutan. Sesekali sepeda motor lewat dari arah berlawanan, jam segitu memang saatnya pulang dari Kawah Ijen bukan malah menuju Kawah Ijen. Cahaya mulai gelap, screen kaca mobil yang kami tumpangi juga sangat gelap. Di depan ada tikungan tajam dan menanjak, sopir kami bermaksud mengambil sela mundur sebelum injak gas ke tanjakan, dan BBBRAAAAKKKKK!!!!

Mobil kami di bibir jurang, serempak kami teriak kaget, kami panik, semua berhamburan keluar, semua deg-degan, terlebih saya yang pinjam mobil, kalau ada apa-apa dengan mobilnya mau diganti pakai apa, hiks. Dalam keadaan panik setengah gelap ditambah hujan gerimis pula kami mencoba mendorong mobil naik ke atas, tapi apa daya kami tenaga kami bukan Superman sekalipun. Beruntung ada beberapa penduduk kampung lewat dari arah berlawanan dan membantu kami mendorong. Pfiuh, akhirnya mobil berhasil diangkat, terlebih lagi tidak ada cacat sedikitpun. Setelah kejadian tersebut kami dalam mobil mendadak senyap karena masih shock, semakin kami senyap suasana jalanan semakin mencekam ahahaha. Saking paniknya juga saya lupa ambil gambar ketika mobil sedang di bibir jurang ahahahaha.

Pos Paltuding

Pelan-pelan asal selamat, akhirnya kita tiba di Pos Paltuding sekitar pukul 6 sore. Tanya-tanya sedikit ke penduduk lokal kami memutuskan untuk mulai mendaki ke atas pukul 3 pagi karena saya mengejar untuk melihat Blue Fire. Meskipun fasilitas parkir luas tapi jangan harap menemukan toilet umum, semua toilet yang ada dikunci dan katanya tidak ada airnya. Mau tidak mau ya kembali ke alam. Kami membunuh malam dengan tiduran di luar mobil, kedinginan kami pindah dalam mobil, jalan-jalan, tidur lagi, bosan rasanya. Suhu udara begitu dingin menusuk tulang.

Kelakuan kami membunuh waktu

Tepat jam 3 pagi kami menyiapkan segala amunisi untuk mendaki, air minum, coklat, permen karet, senter, baju hangat, masker. Suasana masih gelap gulita tapi kami begitu bersemangat jalan kaki selama 3 kilometer menuju kawah. 3 kilometer tersebut begitu menyiksa karena jalannya begitu menanjak, saya nggak akan bercerita bagaimana ngos-ngosannya jalan kaki menuju Kawah Ijen, takut pembaca ikutan capek ehehehe. kalau nggak mau susah payah silahkan sewa orang buat gendong, yup saya serius, penambang batu bara di sana bisa loh disewa untuk mengangkat tubuh kamu yang segede bagong, karena saya lihat sendiri ada beberapa orang yg digendong, ckckckck. Waktu tempuh sekitar 3 jam kami habiskan untuk bisa sampai di bibir kawah, pemandangan di atas gunung masih belum terlihat karena cahaya belum terang.

Di bibir kawah, kalau mau lihat api biru harus turun lagi

Sampai di bibir kawah, tiga orang dari kami menyerah tidak mau melanjutkan turun ke kawah untuk melihat Api Biru, jadi berdua dengan kawan saya saja yang berani turun. Memang untuk sampai di bibir Kawah Ijen sendiri begitu perjuangan, kalau harus turun lagi ke kawah nyesek rasanya. Apalagi turun ke kawah jalannya sungguh berbeda, batu gunung licin bercampur asap belerang. Tapi demi menyaksikan Api Biru yang merupakan fenomena alam langka saya rela kok menempuh ribuan kilometer #lebay. Beruntung ada penambang lokal yang baik kepada kami, dia menuntun kita sampai bawah dengan hati-hati. Menuntun dalam artian mana batu yang harus dipijak, mana batu untuk pegangan. Sampai di bawah dia menghilang, ah malaikat?

Sampai di bawah puas sudah bisa menyaksikan Blue Fire atau Api Biru, tapi sayang saya tidak bisa saya ambil gambarnya, karena cahaya yang begitu gelap, pakai cahaya flash pun hasilnya tidak kelihatan, ah kamera saya memang murahan atau memang saya yang tidak jago motret haha. Justru dengan cahaya yang gelap tersebut nyala api begitu magis, jilatan lidah apinya begitu menyihir. Biarlah api biru tersebut terekam di memori saya ^^

Belum puas menikmati Api Biru tiba-tiba weleg/asap belerang pekat menyelimuti kawah. Kami yang dekat sekali dengan kawah begitu panik, tidak kami saja yang panik, banyak pengunjung yang berlarian naik ke atas. Antara panik dan tidak terbiasa dengan keadaan genting saya bingung cari jalan naik ke atas, sampai saya lupa dengan teman saya. Sudah sifat alami manusia jika dalam keadaan bahaya pasti menyelamatkan diri sendiri dulu, duh saya tidak setia kawan, tapi dia tepat di belakang saya. Kenapa saya panik, saya menghirup asap belerang sampai sesak, masker dan sarung yang gunakan untuk menutupi hidung tidak mempan. Sempat terbersit di otak saya “mungkinkah ini ajal saya? saya pasrah”.

Susah payah kami naik menyelamatkan diri tapi penambang belerang begitu santainya mereka tetap di bawah, ah mereka sudah biasa. Belum sampai atas saya ngos-ngosan dan tenggorokan begitu kering, bekal air minum tertinggal di tiga kawan yang menunggu di atas. Sampai saya harus mengemis air kepada turis Singapura. Ngos-ngosan sampai atas kami begitu lega. Sumpah kalau mengingat kejadian tersebut sekujur tubuh saya gemetar ketakutan.

Mungkin tanpa asap belerang pemandangan akan begitu istimewa tapi dengan asap belerang menambah misterinya Kawah Ijen.

Kami beristirahat dan menunggu matahari terbit, karena waktu itu cahaya masih belum terang benderang, untuk foto-foto kurang puas karena tidak ada sinar. Dari bawah kawah penambang belerang teriak setiap beberapa menit “weleg’e mudhal” yang berarti asapnya berhamburan keluar. Saya menunggu sampai asap belerang benar-benar tidak ada untuk foto kawah yang begitu indah dari bawah tapi gagal terus. Asap terus-terusan muncul tanpa henti.

Lelah menunggu saya menyerah dan memutuskan untuk turun ke Pos Paltuding, awas kau Kawah Ijen saya nanti pasti kembali lagi!!! Bisa dibilang perjalanan saya kali ini begitu dekat maut, dua kali lagi diujung tanduk, sungguh saya bersyukur saya masih bisa hidup sampai saat ini untuk bisa menikmati indahnya dunia. Wonderful Indonesia and happy traveling!!!

Apa lo lihat-lihat?

32 COMMENTS

  1. waaah, ijen cakeeep >,< kalau mau foto blue fire pake long exposure kk, pasti dapet. Jadi nyesel nih nge cancel road trip ke ijen pas masih di bali dulu 🙁 sekarang makin sulit buat kesana *hiks*

      • ah sial~~ sekarang makin ribet cari cuti =,= harus puasa traveling jauh. night mode juga gak bisa? :p belajar deh, banyak kondisi malam hari yang cakep buat diabadikan XD

  2. kalo aku kesana aku juga pasti turun kok Lid.. sayang udah jauh-jauh kalo gak maksimal.. tapi kadang kalo sudah kesana dan belum dapat apa yang diinginkan, itu pertanda kita bakal balik lagi kesana… biasanya sih gitu yaah

  3. dari dulu selalu penasaran, apa jadinya kalo kita nyemplung ke kawah, bakal langsung tenggelam, atau ngapung-ngapung, atau malah melayang?

  4. Wah, jadi cerita tersendiri, “dua kali hampir mati”.
    Tapi kalau menurut saya, itu panik bukan cuma karena takut mati, tapi juga karena pengalaman pertama dan gak tahu ada apa setelahnya, hehe

    *soalnya di satu cerita ada tentang para penambang yang tetap tenang, tapi pengunjung berlarian panik

  5. Huihhhh….kawah Ijen ini udah lama jadi impianku. Tapi masih mau siapin fisik dulu biar kuat hiking. Maklum belakangan olah raga satu2nya cuma mengetik dan mengunyah, hahahaha :p

  6. dua kali moco liburanmu, kok gak begitu sukses ya Lid. Yg di Idia dulu juga gitu, gagal melihat pemandangan karena kabut. Hahah. Mungkin dirimu njaluk diruwat kali ya hahahahaha…

  7. Asap nya tebel banget yaaaa, waktu gw kesana tuch asap nya dikit jadi bisa turun ke bawah mendekati api biru ampe puas meskipun akhir nya gw menyerah ngak kuat ama bau nya.
    Tapi yang bikin gw angkat jempol itu para penambang belerang yang rela bertaruh nyawa buat menafkahi keluar nya 🙂 mereka santai banget memikul keranjang isi belerang, sedangkan kita ngos2an hahaha

  8. waah, cerita yang menarik sekali mas. Aku lho maleh kepengen sampekan. Semoga segera liburan semester, biar segera ke kawah ijen pula.

Leave a Reply