Keliling Varanasi, Dari Benteng Sampai Kuil

39

Fast reader silahkan pergi! Dibaca normal hanya butuh 4 menit dari hidupmu.

Sekitar jam 9 pagi kita tiba di Stasiun Mughal Sarai, 16 km dari Varanasi. Dari New Jalpaiguri ke Mughal Sarai selama 14 jam di dalam kereta  membuat saya tidak merasa lelah, hanya sedikit kusam karena muka dan penampilan sudah lecek tidak karu-karuan belum mandi dan menahan buang air besar. Begitu keluar stasiun langsung disambut calo bajaj yang ngotot kami harus beli prepaid auto- rickshaw 300 Rupee untuk menuju ke Varanasi. Beruntung kami bertemu gerombolan dokter yang satu kereta dengan kami, mereka mengajak patungan untuk ke kota, kami cukup bayar 150 Rupee untuk bertiga. Entah beruntung atau tidak, belakangan kami tahu bahwa tarifnya cuma 80-100 Rupee. Ah yang penting hemat 150 daripada naik yang prepaid.

Singkat kata kami tiba di rumah Arihant Bharati host saya di komplek DLW (Diesel Locomotive Works), sebuah kompleks perumahan untuk pegawai yang bekerja di Indian Railway khusus pembuatan Sepur atau Gerbong. Untuk menuju ke DLW sedikit bersusah payah karena supir bajaj nggak tahu alamatnya, muter-muter nggak karuan, begitu sampai masih dilanjutkan dengan acara drama sinetron. Supir bajaj sialan minta bayaran lebih dari harga yang kita sepakati, ngakunya nggak bisa bahasa Inggris. Host saya juga sempat otot-ototan nawar, ah anggap saja amal.

Lumayan makan gratis di rumah Arihant sebelum keliling Varanasi, menunya Paratha, huhu mereka vegetarian

Varanasi, ah kota ruwet dan kumuh tersebut begitu menarik dan membuat saya jatuh cinta. City of Light, dulu namanya Kashi dan Benares, sekarang jadi Varanasi. Kota tertua, dihuni sejak tahun 1200–1100 sebelum Masehi, dan merupakan kota  tersuci di India. Varanasi tidak menawarkan tempat-tempat wisata yang menarik, tapi di Varanasi saya bisa melihat kehidupan masyarakat Hindu secara langsung di tepi Sungai Gangga. Umat Hindu berbondong-bondong ke Varanasi untuk melakukan penyucian diri dan mengkremasi keluarga yang meninggal.

Untuk keliling Varanasi saya mengandalkan salah seorang teman baru dari Padhaaro.com, sebuah situs komunitas lokal yang menawarkan greeter atau penyambut yang bisa bertindak sebagai tour guide. Gaurav Mohta, kalau tanpa dia mungkin agak sedikit mengeluarkan uang lebih untuk transportasi, dengan dia semua harga lokal karena dia yang nawar hehe. Yup dia menemani kita keliling Varanasi selama dua hari.

Vishwanath Temple

Patung Pandit Madan Mohan Malviya Pendiri BHU

Tempat pertama yang kami kunjungi adalah BHU atau Banares Hindu University, salah satu universitas tertua dan terbesar di India yang didirikan tahun 1916 oleh Pandit Madan Mohan Malviya, wih sudah 97 tahun berdiri. Kompleknya besar, masuk ke sana itu seperti masuk perumahan gitu, tapi bangunan fakultasnya sederhana banget. Nah di kompleks BHU ada Kuil Vishwanath, sayang pas masuk ke sana ditutup untuk istirahat.

Ram Nagar Gate

Tempat selanjutnya adalah Ram Nagar Fort. Benteng dengan arsitektur khas Mughal tersebut letaknya di tepi Sungai Gangga yang dibangun tahun 1750 oleh Raja Balwant Singh dari Kerajaan Kashi, bentengnya terlihat sedikit tidak terawat dan kusam. Tapi justru kesan kusam itu menambah nilai plus, apalagi masuk museum, angker banget karena hampir sepi pengunjung hahaha. Di benteng tersebut ada 3 bagian utama, museum, kuil, dan tempat tinggal raja yang ditutup untuk umum. Katanya kalau bendera dikibarkan berarti raja sedang ada di istana.

Kita dapat tiket lokal karena Gaurav juga hehe

Oh ya Ram Nagar Fort ini pernah dijadikan pitstop The Amazing Race Season 18 Episode 7 loh. Dan tepat di belakang atau lebih tepatnya paviliun yang menghadap Sungai Gangga itulah saya menginjakkan kaki di tempat yang sama di pitstop tersebut hahahaha.

Yeah tempat pitstop Amazing Race

Ada sebuah kuil Veda Vyasa dekat paviliun dan pendetanya menyuruh kami masuk, entah mereka ngomong apa yang jelas tiba-tiba kami didoai dengan mantra dan saya masih ingat kalimat awal mantra tersebut karena biasa saya dengar di film-film India “Om Namah Shivaya……” sambil menyebutkan nama saya, dahi saya ditorehkan Tika merah. Entah kenapa saya jadi bergidik dan bulu roma berdiri, baru kali ini saya didoakan oleh pendeta Hindu, kesan sakralnya terasa banget sampai ubun-ubun  walau ujung-ujungnya mereka minta uang sumbangan hahaha. Ah apapun doanya yang penting saya didoakan baik-baik demi masa depan yang lebih cerah. Tsaaaaaaaaah….

Sebelum lanjut ke tujuan berikutnya, Gaurav mengajak kita untuk mencicipi Lassi terbaik di seluruh Varanasi dekat Ram Nagar Fort. Lassi adalah sejenis yoghurt dengan krim tipis di atasnya dan disajikan dalam gelas tembikar sekali pakai, rasanya asam, manis, segar. Warung yang katanya terkenal tersebut itu letaknya kecil nyempil di pojokan tapi yang antri segambreng. Saya yang nggak begitu suka susu tapi habis minum satu gelas tembikar, asli enaknya sampai ulu hati. Cocok diminum pada saat cuaca lagi panas-panasnya, sekedar informasi saat itu suhu udara sekitar 45-47 derajat. Katanya Lassi bagus untuk pencernaan dan obat radang usus. Ah saya jadi kepingin.

Penjual Lassi

Ini penampakan Lassi

Gaurav, the best greeter in Varanasi

Seperti yang saya bilang di atas, Varanasi adalah kota suci umat Hindu, jadi wisatanya seputar kuil dan kuil. Beberapa kuil yang kami kunjungi dilarang mengambil gambar, seperti di Monkey Temple atau Sankat Mochan Temple. Dan ada yang lebih ekstrim lagi yang membuat saya mengurungkan niat untuk masuk, saya lupa nama kuilnya tapi masuk harus didampingi pendeta yang otomatis bayar, harus setor paspor, harus ini, harus itu, belum masuk sudah banyak wejangan jadi saya ketakutan hehehe. Akhirnya saya bilang Gaurav bahwa paspor saya ketinggalan di rumah host saya, padahal ada dalam tas haha.

Ah saya mau mandi dulu di Sungai Gangga, always travel safe and happy traveling.

39 COMMENTS

  1. ahh dasar supir angkot dimana2 suka begitu.. *oupss
    eeh fotonya kok kaya di film2 indiaa yaa kwkwkwkwk #kaburrrr

    sepertinya emang lu sengaja bikin telinga gw panas.. iming2i cerita indiaaahhh hu hu hu… taj mahal!

  2. Kalau harus setor paspor riskan tuh, bisa ujungnya minta duit spy paspor balik.
    Jangan kelamaan berendam di sungai gangga ntar masuk angin :D.

  3. Bener kamu coba mandi di Sungai Gangga Lid? hihi.
    Yaaa, itu pit stop amazing race 🙂 Kalo gak salah sebelumnya ada tantangan olah kotoran sapi yang ditempel di dinding itu hahaha 🙂

    Sempat liat proses pembakaran mayat gak di sana?

  4. Jadi makin ngiler ama india, tapi aku takut diperkosa kalo kesana 🙂 hahaha.

    Btw baca tulisan ini makin menguatkan niat untuk ke india nepal dan sekitar nya.

    Thanks buat sharing nya

  5. mandi di sungai gangga? campur mayat?

    bener ga sih banyak mayat trapung di sungai itu?

    emm lassinya klo diliat aneh gitu ya,sperti bubuk ..

  6. Ilatku doyan gak ya panganan india?

    Sekilas India mirip Indonesia ya. Bahkan maybe Indonesia lebih bagus.. Opomaneh njombang! Hahahah…

  7. Itu awalnya gimana sampai bisa kenal orang2 India itu?
    Kayaknya mudah banget ya lo dapet temen.
    Btw, itu kotanya kenapa masih kumuh?
    Jauh dari pusat pemerintahan atau gimana ya? 😀

  8. waduh ampundeh kayanya gw bakal mikir makan apa kalo disana..
    atau mungkin bawa indomie rebus aja ya.
    hahahaha maklum anti makanan india dan sekitarnya..

Leave a Reply