Tokyo Jaman Dulu di Asakusa

23

Fast reader silahkan pergi! Dibaca normal hanya butuh 3 menit dari hidupmu.

Tempat wisata paling happening di Tokyo adalah di Asakusa, hampir semua turis tumplek blek jadi satu di sini. Beberapa saya juga lihat turis dari Indonesia di Asakusa, sebagian minta tolong saya untuk memotret mereka dan entah kenapa padahal muka saya ini nggak ada tampang bule-bulenya tapi mereka minta tolong dengan Bahasa Inggris “Excuse me Sir, please take our picture” dan ketika saya jawab “Dengan senang hati” mereka begitu terkejut “Loh, Indonesia juga.” Yaiyalah cak ning abang none paman bibi om dan tante sekalian. Saya sih nggak susah kok mengenali bangsa sendiri, paling gampang adalah curi dengar mereka memakai bahasa apa hahahaha.

Mau lihat sisa-sisa suasana Jepang pada jaman dulu ya di Asakusa inilah tempatnya, sebenarnya banyak banget tempat wisata yang menawarkan situasi Jepang di masa lalu, di Kamakura sama Nikko misalnya, tapi yang tepat di Tokyo ya di Asakusa ini. Pusat oleh-oleh khas Jepang pun juga sepertinya terpusat di sini. Ada apa di Asakusa?

Gerbang Kaminarimon

Yang utama adalah Kuil Sensoji, untuk menuju Kuil Sensoji bisa melewati Gerbang Kaminarimon yang berumur 1000 tahun lebih. Gerbang tersebut mungkin adalah gerbang yang paling wajib difoto ketika mengunjungi Jepang. Setelah gerbang tersebut saya diwajibkan melewati Jalan Nakamise. Ini hari terakhir saya di Jepang dan saya harus melewati jalan yang penuh siksaan mata dan dompet. Jalan sepanjang 200 meter tersebut adalah penguras dompet para turis. Sepanjang jalan banyak toko makanan dan berbagai souvenir khas Jepang. Tapi iman saya kuat, jadi saya nggak beli apa-apa hahaha, oke itu bohong, saya beli dua kaus oblong dan beberapa cemilan khas Jepang yang sering saya lihat di komik. Yeay akhirnya tahu juga rasanya Taiyaki alias roti ikan, ikan Tai adalah ikan mahal yang biasanya dimakan keluarga bangsawan, supaya rakyat biasa bisa merasakan senangnya makan ikan Tai. Saya juga mencoba makan Shinbei, kerupuk ikan khas Jepang yang kalau makan wajib dicelupkan kecap asin. Saus wajib bangsa Jepang adalah kecap asin, hampir setiap masakan selalu ada kecap asin, mereka nggak bisa hidup tanpa kecap asin, oke lebay hehe.

Nakamise Street, Pusat oleh-oleh

Penjual Taiyaki, Roti Ikan isinya pasta kacang. Enak

Kuil Sensoji adalah Kuil Budha dan dibangun dan dipersembahkan untuk Dewi Welas Asih yaitu Dewi Kwan Im. Menurut catatan kuil tersebut dibangun pada tahun 628 dan selesai pada tahun 645. Jadi kuil tersebut merupakan kuil tertua di Tokyo. Selain Kuil Sensoji di sekitarnya banyak sekali kuil-kuil Shinto. Untuk menjelajah Asakusa bisa dengan jalan kaki, tapi kalau mau ada jasa becak manusia tempo dulu, mereka menyebutnya jinrikisha, dengan 800 yen bisa keliling dengan becak manusia selama 30 menit.

Pintu Masuk Kuil Sensoji

Bersembahyang

Narsis Bentar di Pagoda Sebelah Sensoji

Selain kuil-kuil, di sekitaran Asakusa ada distrik perbelanjaan yang bagi saya nggak menarik. Ada juga tur menggunakan kapal di sungai paling legenda dalam komik-komik Jepang ataupun Drama Jepang, karena sungai ini sering sekali dipakai setting dan tempat syuting. Tapi saya cukup bersantai di pinggiran sungai menikmati kerumunan orang lalu lalang sambil melihat Skytree Tower yang merupakan menara tertinggi di dunia. Nah kalau mau bisa juga naik ke Skytree, tapi saya tidak rela mengeluarkan uang 2000 yen atau setara dengan 250 ribu rupiah hanya untuk ke ruang observatory di Skytree. Foto dari kejauhan saja sudah cukup buat pamer hehe.

Tampak dari kejauhan Skytree Tower dan Gedung Asahi Beer sebelah kanan

Ini merupakan hari terakhir saya di Jepang, sambil naik kereta menuju bandara saya merasa ada yang kurang. Baru sadar ketika melihat pemandangan bangunan tinggi warna jingga menyala dari dalam kereta, ternyata saya belum ke Tokyo Tower, lihat jam tangan penerbangan masih 4 jam lagi jadi saya bisa mampir ke Tokyo Tower sebentar. Dari stasiun Hamamatsucho saya jalan kaki ke Tokyo Tower, pergi pulang hampir 2 kilometer, rasa capek yang sudah menggunung karena seminggu keliling Jepang tanpa henti, ditambah saya harus bawa ransel berat, apalagi udara musim gugur yang dinginnya menusuk tulang, tapi demi Tokyo Tower saya harus tetap kuat berjalan. Sampai di Tokyo Tower saya nggak buang waktu, seperti orang kesetanan saya pasang tripod dan foto sana sini. Berhubung waktu itu sudah malam jadi saya tidak bisa naik ke ruang observatory, dari luar pun sudah puas, lagipula masuk pun harus bayar. Suasana malam itu begitu dingin tapi begitu hangat karena warna jingga menyala Tokyo Tower yang gagah, jadi teringat adegan Sakura waktu beradu kesaktian sama Yue di Tokyo Tower, dan juga adegan Detektif Conan sama Inspektur Takagi menjinakkan bom di sebuah lift Tokyo Tower. Ah Tokyo, akankah saya kembali ke Jepang? Well see. Travel safe and happy traveling.

Yeay Tokyo Tower

23 COMMENTS

  1. HAHAHAHA… ketok nek wong Indonesia podo akeh sing gengsi yak, mangkane ngomonge sok boso Inggris, bahkan karo wong njombang sekalipun HAHAHAHA…

  2. kalau di luar negeri penggunaan bahasa indonesia, lebih mudah didengar di telinga kita, walaupun rame banget… dan seneng rasanya kalau ketemu orang indonesia di negara lain.. bagus juga nih tempatnya ya… kue ikannya menarik…

  3. Excuse me!, can you take a photo of us? Because of the tripod not allowed. Arigatou!…

    Ada larangan tripod gak di temple itu?

    • wah kebetulan gak pake tripod pas di temple tapi rata2 di museum dan beberapa tempat dilarang, emang selain berbahaya kena orang juga resiko ketendang orang. rameeee beuuudd.

  4. somehow, saya ngerasa kalau asakusa ini biasa aja, lebih seneng kyoto deh, ke nishiki marketnya kyoto gitu. kemaren ke asakusa malah cuma cobain rolling sushi sama taiyaki doang :hammer:

Leave a Reply