Menjejak Bumi Borneo

17

Fast reader silahkan pergi! Dibaca normal hanya butuh 3 menit dari hidupmu.

Setelah berhasil menginjak Pulau Sulawesi kali ini giliran Pulau Kalimantan yang berhasil saya kunjungi. Berbekal tiket gratis dari seseorang dan janji seorang kawan yang katanya kalau saya ke Banjarmasin segala sesuatunya akan dijamin. Siapa yang nggak ngiler coba? Saya hanya modal uang buat bayar airport tax di bandara.

Tugu Selamat Datang Banjarmasin

Kalimantan atau lebih populer bagi kalangan traveler dengan sebutan Borneo merupakan pulu terbesar di Indonesia dan mempunyai banyak sekali daya tarik karena sebagian besar wilayahnya masih perawan tidak terjamah. Kebetulan saya mengunjungi Banjarmasin yang merupakan kota terbesar dan teramai di Kalimantan serta Palangkaraya. Perjalanan saya kali ini bisa dibilang bukan perjalanan mengunjungi tempat-tempat wisata seperti biasanya tapi lebih kepada “Oh ini loh Kalimantan.” Karena saya yakin hanya saya traveler satu-satunya yang ke Banjarmasin tapi tidak menyaksikan atau mengunjungi Pasar Apung. Alasannya hanya karena kesiangan bangun hehe, sempat juga naik motor ke Lok Baintan tapi pasarnya sudah bubar.

Trip ke Banjarmasin kemarin itu adalah perjalanan paling malas dan paling tidak efektif, bayangkan sampai di Banjarmasin dijemput kawan dan langsung tidur di rumah kontrakannya. Biasanya saya langsung hajar ke tempat-tempat wisata, rencana awal sih di hari pertama mau mengunjungi Martapura tapi terlewatkan. Saya baru keliling Banjarmasin saat hari sudah sore dan itupun hanya ke Masjid Sabilal Muhtadin yang merupakan masjid terbesar di Banjarmasin, kemudian nongkrong di pinggiran sungai Martapura sampai kemudian hujan dan berteduh di Duta Mall. Makan malam terus pulang tidur.

Besok paginya saya niat ke Lok Baintan mau lihat Pasar Apung dan seperti yang saya bilang di atas, saya kesiangan jadi sampai sana sudah bubar pasarnya hehehe. Jadi kalau mau mengunjungi Pasar Apung di Banjarmasin harus bangun subuh-subuh karena jam 7 sudah sepi. Kecewa karena tidak terpenuhi melihat Pasar Apung saya dan kawan saya memutuskan untuk langsung berangkat ke Palangkaraya di Kalimantan Tengah naik motor. Jalan raya propinsi di bagian Kalimantan Selatan (Banjarmasin) rusaknya benar-benar parah tapi begitu memasuki Kalimantan Tengah langsung mulus. Katanya sih sudah bertahun-tahun Jalan Trans Kalimantan Bagian Kalimantan Selatan rusak parah tanpa ada perbaikan. Bahkan ketika saya pulang dari dari Palangkaraya saya melihat ada mobil pick-up yang memuat jeruk terguling terperosok dalam lubang. Ngeri sumpah.

Jembatan Barito Membelah Sungai Barito

Tongkang Pengangkut Batubara yang lewat di Sungai Barito, saya jepret di atas jembatan Barito

Di Kuala Kapuas kami berhenti sebentar di pasar untuk makan pagi, saya pesan Lontong Kandangan dengan kuah merah entah apa nama masakannya. Yang jelas saya ketagihan. Ngomongin masalah makanan, saya sedikit kaget makan nasi di Kalimantan. Nasinya berbeda dari nasi yang biasanya dimasak di Jawa yang punel dan empuk. Ini nasinya keras dan garing, mirip-mirip dengan beras Basmati India yang bentuknya panjang-panjang.

Lontong Kandangan

Perjalanan belum selesai, mampir dulu di rumah kawan di Kabupaten Pulang Pisau, kota kecil yang penduduknya tidak seberapa dan rasanya masih lebih ramai desa saya di Ploso Jombang. Istirahat sebentar kemudian perjalanan di lanjut untuk menuju Palangkaraya. Di sinilah saya merasakan betapa ngerinya jalan raya di sini. Bukan karena kendaraannya yang ganas-ganas ngebutnya atau banyak kecelakaan. Tapi sepanjang mata melihat hanya hutan gambut kering saja. Dari Banjarmasin ke Kuala Kapuas masih banyak ditemui rumah, dari Kuala Kapuas ke Pulang Pisau sudah sedikit sekali pemukiman, dan dari Pulang Pisau ke Palangkaraya sangat-sangat jarang sekali pemukiman. Jarak antar rumah satu dengan rumah yang lain bisa 5 kilometer.

Perahu Penyebrangan di Kuala Kapuas, saya naik loh 🙂

Dimana ngerinya? Misal ban bocor atau bensin habis, betapa sial tujuh turunan seandainya saja terjadi. Masih mending kalau siang hari kejadiannya, bagaimana kalau malam hari? Nggak bisa dibayangkan. Karena saya pulang dari Palangkaraya ke Pulang Pisau saat hari sudah gelap gulita. Paling ngeri seandainya saja kecelakaan atau jatuh di jalan saat malam hari mungkin mayat baru bisa ditemukan besok paginya.

Total jendral naik motor dari Banjarmasin-Pulang Pisau-Palangkaraya dan dari Palangkaraya-Pulang Pisau 6 jam. Bokong rasanya seperti habis dihajar orang, kembali ke Jawa saya trauma naik motor karena sakitnya masih kerasa sampai hampir 2 minggu, jalan pun agak gimana gitu.

Wonderful Indonesia, always safe trip wherever you go!!!

17 COMMENTS

  1. wah seru bisa dapat tiket gratis nih…. bornea bukan hanya pulau terbesar di indonesia.. tapi sedunia untuk kategori berpenghuni.. kalau tidak salah loh ya…

    membaca tulisanmu jadi mau ke borneo, lahir disana tapi ga pernah balik 🙂

  2. Sabah and Sarawak of Malaysia is also considered Borneo. Hehe. So I’m a Borneoan! (Sabahan Girl)

    Kenapa asik bangun kesiangan ja? Ishhh.. ishhh… rugi masa lohhh!

  3. Buset dah elu kapan ke kalimantannya heh?
    Perasaan gue taunya lo ke toraja itu
    Kalo gue ko rada serem ye ke kalimantan gara gara tragedi sampit dulu
    Hmmmmm

  4. Bang. Sungai di Kalsel bukan sungai Musi, tapi sungai Barito.

    Duh. 8 tahun di Hutan Kalimantan jadi merasa gak terima gini disebut sungai Musi. Hahaha

    Kalo gak salah sungai Musi itu di Palembang loh.

    Haduh. pengen balik ke banjar. ada kawan, ada sodara di sana 😀

    • Gubrag wakakakaka pantesan kemarin sebelum dipublish dibaca 3x kok rasanya ada yang salah hahahaha… ngidam pem pek sih jadi keinget sungai musi hahaha. Thanks for correction 🙂

  5. hayo pas makan ketupat kandangan makannya pake sendok ato pake cma tangan? biasanya orang sana makan ketupat kandangan pke tngan ga pake sndok soalnya. 😀

Leave a Reply