Puncak Peringatan 1000 Hari Gusdur di Jombang

15

Senin Malam tanggal 15 Oktober 2012 merupakan puncak peringatan 1000 hari meninggalnya Kyai Haji Abdurrahman Wahid atau lebih dikenal dengan sebutan Gus Dur. Kalau sepekan sebelumnya peringatan dikonsentrasikan di Pondok Pesantren Tebu Ireng yang notabene yang datang adalah umat muslim tapi tetap ada atraksi Barongsai loh di Tebu Ireng. Nah Senin malam kemarin itu peringatan kembali digelar tapi di lokasi yang berbeda serta kemasan acara yang seperti panggung hiburan atau festival seni. Bertempat di Pelataran Gereja Santa Maria Jombang atau Wijana. Kenapa di Gereja? Karena yang mengadakan acara kali ini adalah kelompok-kelompok minoritas di Jombang dan berbagai komunitas lintas agama lainnya. Ada dari Komunitas Tionghoa, Kristen, Katolik, Hindu, Budha, dan Jawa Kejawen, serta banyak lagi.

Tahu sendiri Gus Dur adalah tokoh pluralisme di Indonesia dan merupakan malaikat bagi kaum yang termarjinalkan (terpinggirkan). Makanya beliau menjadi panutan bagi kaum-kaum tersebut. Bagi Gus Dur kita semua sama, tidak memandang agama, suku, dan ras. Ada kutipan menarik dari Mbak Inayah yang merupakan putri dari Gus Dur yang hadir pada acara tersebut “Beliau itu bukan tokoh pluralisme, tapi tokoh kemanusiaan, yang diperjuangkan Gusdur itu bukan Cina, Ahmadiyah, Nasrani, atau orang marjinalnya. Tapi manusianya.”

Lebih khidmat dari setiap pemimpin agama Islam, Kristen, Katolik, Hindu, Budha, Kejawen, dan Konghucu maju memimpin doa dengan cara masing-masing. Saat doa dibacakan lampu dimatikan serta setiap tamu yang hadir menyalakan lilin yang telah disediakan. Merinding rasanya mendengar setiap doa yang dibacakan dengan suasana seperti itu. Tambah semarak ada pertunjukan Barongsai, Puisi, Tari Remo, Paduan Suara dari Komunitas Lintas Iman, bahkan ada Stand Up Komedi juga. Tak lupa dari lagu kesukaan Gus Dur Ode to Joy (Simfoni 9) juga dimainkan orchestra yang terdiri dari anak-anak kecil.

Gus Dur yang pernah menjadi Presiden keempat Indonesia memang memiliki pemikiran-pemikiran yang nyentrik dan kebijakan-kebijakan yang seringkali mengundang kontrovesi. Satu kalimat yang begitu melekat di beliau adalah “Gitu ajah kok repot” menjadi jargon yang begitu fenomenal di masyarakat Indonesia. Di kalangan kancah politik beliau memang banyak musuh tapi beliau dekat dengan rakyat kecil. Jadi bangga karena beliau merupakan putra daerah Jombang. Saya juga lahir dan besar di Jombang gituloh 🙂

Foto dengan Penari Remodi belakang panggung

Saya beruntung datang di acara tersebut, meski bukan tamu undangan tapi saya nyelonong saja masuk. Toh memang acaranya terbuka untuk umum. Lebih beruntung lagi saya dapat kupon makan dari teman-teman Komunitas Stara Muda.

Dengan mengusung tema “Menggerakkan Tradisi Meneguhkan Indonesia”, semua berharap untuk Bangsa Indonesia yang lebih baik, rukun antar sesama, damai dan sejahtera. Jadi Bhineka Tunggal Ika bukan lagi teori dan slogan belaka yang nampang di kaki burung Garuda. Tapi Bhineka Tunggal Ika yang diterapkan di dalam hati. Kalau saja masyarakat Indonesia rukunnya seperti Warga Jombang dijamin deh negara kita damai, aman, dan tentram.

Siapa mau kaosnya hayoo???

15 KOMENTAR

  1. sebenarnya dalam islam perayaan 1000 hari gitu gak ada dalilnya sih
    cuma karena warisan turun-temurun jadinya diadain deh..

    cmiiw sih

    • hel hel bentar deh, yang namanya orang mati itu jangan dirayakan tapi di peringati deh, seneng lo ada orang mati haha…
      ya gue sih gak gitu ngerti tradisinya, tapi kan niatnya baik, ngumpulin orang, doa bersama, silahturahmi, dan berbagi rejeki dengan makan bareng juga. yang penting baik kenapa gak 🙂

      • hahaha iya diperingati maap salah.
        emang kegiatan baik kok. mau dikerjain silahkan mau nggak juga gapapa. emang gak ada hukum islam pastinya sih.

        hehehe

Tinggalkan Balasan