Kencan Bersama Danang

35

Fast reader silahkan pergi! Dibaca normal hanya butuh 5 menit dari hidupmu.

Saya yakin para pembaca di sini punya teman yang bernama Danang. Saya sendiri punya teman yang namanya Danang ada lima orang. Belum lagi yang ada di Facebook, lebih dari sepuluh kayaknya. Memang yang namanya Danang pasaran banget. Namun Danang boleh berbangga hati, sebab Danang di Vietnam dijadikan nama sebuah kota. Dan merupakan kota terbesar ketiga di negeri Paman Ho setelah Ho Chi Minh City dan Hanoi.

“Mbak, mbak, I will return your motorbike before afternoon, not more than 24 hours, not even 8 hours. Would you give me a discount please!” Namanya juga usaha, siapa tahu dapat diskonan. Sebab saya keliling Danang nggak lebih dari delapan jam, sorenya saya udah terbang ke Ho Chi Minh City. Rayuan saya gagal total hiks. “No discount for you, full price, kalau kere nggak usah sewa-sewa motor”. Kalimat terakhir hanya untuk kepentingan drama saja. Saya hanya bisa membalas dalam hati “Cuk!”

Tunggangan selama di Danang

Nggak susah sewa motor di Danang, cukup serahkan paspor sebagai jaminan. Banyak orang yang cukup parno ngasih paspor sebagai jaminan sewa kendaraan. Takut paspornya diapa-apain. Saya sih mikirnya gampang, daripada saya bayar deposit ratusan ribu haha. Lagian apa bedanya waktu di Bali menyerahkan KTP buat jaminan sewa motor. Apalagi di Yogyakarta yang harus menyerahkan tiga identitas buat jaminan sewa motor. Paling receh sewa DVD kan juga ngasih KTP sebagai jaminan. Eh emang sekarang masih ada persewaan DVD?

Setelah isi bensin saya memacu gas berkelana di Danang. Tujuan pertama saya ke Marble Mountain. Jalanan di Danang lebar dan mulus serta anti macet. Nggak tahu juga kalau hari lain. Sepanjang perjalanan saya nggak berhenti merapal: “setir kanan, setir kanan, setir kanan.” Saking sepi dan lebarnya jalan saya takut salah jalur, sebab jalur kendaraan di Vietnam ada di sebelah kanan, beda sama di Indonesia yang sebelah kiri. Nggak sulit menemukan Marble Mountain, sebab hanya lurus saja menyusuri jalan sepanjang pantai dan kemudian belok sedikit.

Marble Mountain merupakan perbukitan kapur di tengah pemukiman warga. Ada lima gunung yang dinamai: Kim (besi), Thuy (air), Moc (kayu), Hoa (api) and Tho (tanah). Berasa di negeri avatar pengendali elemen deh. Kalau ada waktu seharian mungkin akan saya kunjungi semua. Tapi saya hanya memilih mengunjungi Thuy saja. Karena Thuy atau air paling populer di antara semuanya. Untuk naik ke atas, turis bisa naik lift atau menapaki tangga. Niatnya sih saya jalan kaki tapi ketika beli tiket, petugasnya ngasih tiket naik lift tanpa bertanya terlebih dahulu. Kesel khan! Di Thuy Son saya nggak lama, setelah foto-foto saya ngacir ke Linh Ung Pagoda. Saya nggak punya banyak waktu di Danang, jadi buru-buru banget tapi kepingin semua tujuan didatangi.

Jalan menuju Pagoda Linh Ung lumayan bikin deg-deg-an. Karena berada di dataran tinggi jadi harus menanjak. Saya paling nggak suka dan ngeri kalau motoran di jalan yang menanjak. Tapi pemandangan sepanjang perjalanan lumayan mengobati rasa deg-deg-an saya. Lautan luas membentang di sisi jalan. Saya beberapa kali berhenti untuk memotret.

Sepanjang perjalanan suguhan pemandangannya seperti ini

Memasuki kawasan Linh Ung saya ternganga dan terkesima melihat betapa megahnya tempat ibadah umat Buddha ini. Bangunan utama tempat ibadah banyak patung-patung Buddha dan relief yang bercerita tentang Shakyamuni semasa hidup. Halaman depan pagoda begitu luas dengan bonsai-bonsai tertata rapi. Gerbangnya yang artistik menarik banyak pengunjung untuk berfoto. Paling ramai adalah patung Dewi Kwan Im setinggi 67 meter yang menghadap laut. Sungguh spektakuler.

Geografis Danang dibelah oleh Sungai Han dan terdapat enam jembatan yang menghubungkan area yang dipisahkan sungai. Paling populer adalah Han River Bridge dan Dragon Bridge. Saya nyobain lewat kedua jembatan tersebut. Anginnya sungguh kencang, saya takut motor yang saya kendarai tidak kuat menahan terpaan angin dan terhempas ke sungai bersama saya. Nggak lucu kan kalau besok di koran lokal ada headline “Traveler Ganteng Asal Jombang Ditemukan Mengambang di Sungai Han.”

Dragon Bridge yang bentuknya mirip naga lengkap dengan kepala naga

Kalau malam lampu di jembatan menjadi daya tarik wisatawan. Nongkrong santai di tepi sungai sambil menikmati pemandangan sambil wi-fi-an gratis. Vietnam termasuk negara yang banyak bertebaran hotspot gratis yang disediakan pemerintah. Dibandingkan dengan India yang minim hotspot. Kunjungan terakhir saya ke India Selatan selama seminggu, dan selama lima hari saya mati kutu nggak ketemu internet sama sekali. Sehari nggak terkoneksi dengan internet saja galau. Nggak ketemu kamu satu jam saja aku rindu berat.

Han River Bridge kalau malam indah

Danang sebagai kota besar ketiga di Vietnam lebih modern dari dua saudaranya, Ho Chi Minh City dan Hanoi. Kesannya lebih metropolis, banyak bangunan baru dengan arsitektur kekinian. Bangsa Eropa pertama kali datang ke Vietnam tahun 1535 melalui Teluk Danang. Saat Prancis berkuasa, kota ini namanya Tourane. Danang juga pernah menjadi basis militer Amerika ketika perang Vietnam. Zaman dahulu Danang merupakan pusat dari Kerajaan Champa. Kerajaan Hindu yang berkaitan dengan Majapahit.

Saya berharap ada situs sisa-sisa Kerajaan Champa di Danang, nyatanya cuma ada Champ Museum di tengah kota. Koleksinya sungguh mengecewakan, masih lebih megah dan luas Museum Trowulan. Visual informasi juga sangat kurang. Karena Kerajaan Champa menganut agama Hindu jadi banyak patung dewa-dewa Hindu seperti Wisnu, Ganesha, dan lain sebagainya. Saya nggak asing dengan koleksinya karena mirip dengan peninggalan kerajaan-kerajaan Hindu di Indonesia.

Karena tidak sesuai ekspektasi saya tidak berlama-lama di sini, lha wong sekali puteran kelar. Sebenarnya ada peninggalan Kerajaan Champa yang masuk daftar UNESCO di My Son yang jaraknya 40 km dari Danang. Dan saya menyesal nggak ke sana huhuhu. Padahal situs warisan budaya UNESCO selalu jadi prioritas kunjungan saya. Namun karena keterbatasan waktu dan harus ke bandara jam dua siang jadi dengan berat hati saya singkirkan My Son dari daftar kunjungan.

Tujuan terakhir saya di Danang adalah Katedral yang ramai turis. Terang saja ramai pengunjung, lha wong cantik banget bentuk bangunannya. Yang unik seluruh bangunan didominasi warna pink. Justru gedung tinggi di belakang gereja merusak tampilan gereja secara keseluruhan. Gereja ini dibangun tahun 1923 oleh pendeta dari Prancis Louis Vallet. Kalau mau masuk ke dalam gereja datanglah pada Minggu pagi pukul sembilan.

Setelah dari gereja saya kembali ke hostel buat balikin motor dan cabut ke bandara. Sampai bandara pesawat saya ke Ho Chi Minh City delay dua jam. Sialan! Tahu gitu saya ke My Son. Saya akan kembali lagi ke Danang suatu hari.

Happy traveling!

35 COMMENTS

  1. Sebenernya nulisnya Da Nang. Kota-kota di Vietnam itu terdiri dari lebih dari dua bagian kata: Hoi An, Da Nang, Na Thrang, dsb.

    Sempet antiklimaks jugak pas tau klo peninggalan kerajaan Champa ‘cuma’ gitu doang. Meski mirip-mirip Majapahit yang hampir semua situsnya udah gak kelihatan lagi, tapi yang Champa ini memang lebih ‘parah’. Gak tau aku, mungkin situs-situsnya tersebar di beberapa wilayah yang jaraknya lumayan jauh macam kuil My Son itu kali.

    • Aku malas aja beb ngasih spasi wkwkwk. Sebenarnya aku tahu kok kalau harusnya ditulis Da Nang. Cuma di beberapa plang di jalan dan di web serta di banner-banner event mereka nulisnya juga Danang. Jadi hamba bingung mau pakai yang mana, setelah bertapa dan puasa mutih aku mutusin pake Danang wkwkw. Sama kayak Sa Pa aku tulis Sapa. Alasannya sama. Dan justru kayak Hoi An, Na Thrang enggak menemukan digabung. Kudu dipisah.

      Jadi dirimu ke My Son? Aaaarggh nyeseeeeeeell akoooh.

  2. Perihal sewa kendaraan, Jogja memang paling mbingungi. Makanya aku biasa malah rental motor teman kos sendiri; modalnya cuma ngasih uang, rokok, dan bensin.

    Mas, mau tanya; gimana rasanya naik motor di jalur kanan pas jalan turun. Ada rasa-rasa agak aneh nggak. Kan biasanya di kiri hahahahahha

  3. 40 Km mah gak jauh ya, macam dari rumahku ke bandara bolak-balik gak sampe 😀 selamat menyesal dan biar jadi alasan buat kembali lagi ke Vietnam hwhwhw.

    Sewa motornya mudah. Samalah kayak di Malaysia, cuma kalo ketemu petugas ya ngeri juga ya. Dan, itu bapak-bapak yang bocor di foto Patung Dewi Kwam In, ngeganggu banget haha

  4. Ndek Banyuwangi jarene yo sewa motor e kudu deposti sekian ratus ribu. Jebol pak.
    Mangkane wingi pas kate lulus aku gak pengen ngumpulno KTM dadine iso sewo DVD harga mahasiswa sih. Eh tibak e lali :((

    Sek ta mas. Iku ndek foto terakhir e sampean, nganggo tripod? Opo dideleh ndek tas ngono? Wkwkw

  5. Laaaaaf liat gerejanya :D. Gayamu itu loh mas kalo foto hihihi… Menghela napas kalo udh baca ttg vietnam. Dari dulu kepengin balik, visit kota2 yg lain, kok ya ga nemu wkt cocok.. Bener yaaa, ini kotanya lbh bgs dari HCMC.. Kalo ksana jelas yg lokasi patung dewi kwan in dan gereja pink ini yg bakal aku datangi 😀

  6. Bangunan gerejone apik yo, ono Portugis-Spanyol e ngunu desain e. Sik sik jadi awakmu gak pergi ama temenmu yang punya nama Danang di Da Nang? Yah kurang greget, kan ngarep e dapet bacaan hot Alid Abdul kencan di Da Nang ngunu. Huft. 😛

  7. Kirain emang beneran kencan sama Danang, taunya Da Nang tohh
    Aku suka takut kalo jaminan passpor, lah kalo tiba2 hilang kan serem di negeri orang. Kalo nitip KTP di Indo kan di negeri sendiri ga takut hahaha *penakut
    Itu kalo ngendarain motor bisa pake sim sini atau gimana?

    • Di negeri sendiri kan tetep hilang juga kan ceritanya? Apalagi ngurus e-ktp susahnya minta ampun ampe antri dari tengah malam. Sementara gak pernah dimintain tunjuk SIM sih selama rental di warnegerik wkwkw. Di Langkawi doang yang punya rentalan minta ditunjukkan SIM C.

Leave a Reply