Mengenang Masa Kecil Di Museum Doraemon

63

Fast reader silahkan pergi! Dibaca normal hanya butuh 6 menit dari hidupmu.

Foto dengan Dorami

Manga dan Anime adalah salah satu komoditas utama negara Jepang, bagi penggemar anime dan manga pergi ke Jepang adalah sebuah impian. Karena di Jepang kita bisa melihat secara langsung pernak-pernik anime dan manga hampir di setiap tempat. Kemudian bagaimana manga bisa mempengaruhi dan merasuki kehidupan sehari-hari warga Jepang. Di dalam kereta, saya dengan mudah menemui hampir setiap anak sekolah, anak kuliahan, bahkan orang kantoran pun dengan pedenya membaca buku manga tebal ataupun membaca di ponsel masing-masing. Banyak juga benda-benda yang bergambar tokoh-tokoh animasi seperti bis, pintu lift, kereta gantung, cover handphone, dan lain sebagainya.

Sewaktu di Jepang saya memimpikan melihat cosplay di Harajuku atau tempat lain di Tokyo. Sayang seribu saya, sebelum saya bertolak ke Jepang saya googling tempat serta  even-even cosplay yang ada di Tokyo tapi nihil tidak ada even sama sekali. Tapi di Jepang banyak sekali tempat yang didedikasikan untuk anime atau manga, seperti di Akihabara yang merupakan pusat elektronik dan game serta banyak toko anime. Atau Nakano Broadway, sebuah mall yang jualannya barang-barang anime. Ada juga Pokemon Center yang menjual segala sesuatu tentang Pokemon. Sanrio Puroland, Suginami Animation Museum, Toei Animation Gallery, Gundam Front Tokyo, Ghibli Museum, Fujiko F. Fujio Museum (aka Doraemon Museum).

Dari sekian banyak tersebut saya ingin sekali ke Ghibli Museum dan Doraemon Museum. Berhubung budget terbatas jadi saya harus memilih salah satu di antara dua. Saya suka Doraemon tapi saya juga penggemar berat animasi-animasi produksi Ghibli. Dikarenakan animasi yang pertama kali saya kenal sewaktu kecil adalah Doraemon jadi rasanya saya memiliki kesan sentimentil terhadap Doraemon dan kawan-kawannya. Jadilah Museum Doraemon yang saya pilih untuk saya kunjungi. Dan siapa yang nggak kenal Doraemon mungkin bisa dikatakan orang paling nggak gaul sedunia. Oh pelis deh.

Trip ke Museum Doraemon ini saya masukkan daftar tentative di rencana perjalanan saya, kenapa? Karena saya tidak bisa seenaknya datang ke museum dan beli tiket kemudian masuk. Tiket tidak dijual bebas, hanya bisa dibeli di Minimarket Lawson yang tersebar di Jepang. Satu hari hanya ada 4 kali kunjungan pada jam 10, 12, 14, dan 16. Jadi harus memilih tanggal dan slot jam yang telah disediakan. Jika kuota pengunjung habis maka kita tidak bisa beli tiket. Ribet banget deh.

Hari pertama saya menginap di Bandara Haneda saya sempatkan ke Lawson yang ada di Bandara tersebut. Dibantu petugas Lawson saya berniat beli tiket di mesin penjual tiket yang bahasanya Kanji semua tanpa bahasa Inggris. Dan sialnya tanggal yang saya incar semuanya penuh, harapan untuk bisa mengunjungi Museum Doraemon pupus sudah. Tapi ketika di Yokohama saya mencoba untuk ke Lawson lagi dan dibantu host saya yang di Yokohama saya berhasil mendapatkan tiket pada hari Minggu di jam 4 sore. Padahal sebelumnya di hari tersebut kuota pengunjung di setiap slot waktu sudah terjual semua, mungkin ada yang membatalkan kunjungan. Jadilah hari minggu trip ke Museum Doraemon saya gabung dengan trip ke Kamakura.

Menjadi sebuah malapetaka ketika rencana perjalanan saya ke Kamakura yang sedianya 1 hari penuh saya bagi waktunya dengan mengunjungi Museum Doraemon. Bagaimana tidak, saya diharuskan segera pergi dari Kamakura pada jam 2 siang untuk menuju stasiun Noborito di Kawasaki. Mana saya ke Kamakura kesiangan lagi waktu itu. Sudah terlanjur beli tiket yang harganya nggak murah, 1000 Yen. Jam 2 siang tepat ketika saya masih di Kuil Tsurugaoka Hachimangu saya tersadar harus segera beranjak. Tidak mudah pergi dari kuil tersebut, seperti yang saya bilang di postingan sebelumnya bahwa di Komachi-dori penuh sesak dengan orang. Hampir sejam saya berjuang untuk menuju Stasiun Kamakura, yang berarti waktu itu sudah pukul 3 sore. Tiket saya jam 4 hiks.

Bis Museum Doraemon Tiket Museum Doraemon

Singkat cerita saya deg-degan takut terlambat untuk sampai ke Museum Doraemon, tak pelak saya memang akhirnya terlambat haha. Sampai di Stasiun Noborito jam sudah menunjukkan pukul 4 tepat. Jangan dikira saya bisa langsung ke Museumnya, saya harus naik bis khusus yang menuju ke Museum. Di depan Stasiun Noborito telah disediakan bis antar jemput, cukup dengan bayar 200 yen, jadinya pulang pergi 400 yen. Jadi total jendral tiket dan bis pulang pergi 1400 Yen, nyesek habis. Sebenarnya bisa dihemat untuk tidak naik bis tersebut dengan jalan kaki selama 20 menit. Tapi saya sudah sangat telat jadi nggak mungkin saya harus jalan kaki. Bisa-bisa sampai sana sudah tutup museumnya. Niat pas pulangnya untuk jalan kaki juga saya urungkan, sudah capek badan dan otak hehe.

Tempat Baca Komik

Bis lucu bergambar kartun Doraemon tersebut berangkat setiap 15 menit sekali dan saya menjadi satu-satunya penumpang sore itu. Tepat pukul 6 malam saya sampai di Museum dan  disambut petugas yang ramah-ramah serta diantar ke loket masuk. Mbak-mbak petugasnya nyerocos ngomong “Ah late? */)*&%^%#$^@#$&^$%$#@$&^*%&%$%  Daijobu Daijobu” hanya kata “Daijobu” yang saya paham artinya yang berarti “tidak apa-apa”. Petugas mengijinkan saya masuk dan diberi kertas kecil yang isinya peringatan bahwa museum tutup jam 7 malam serta bis terakhir ke stasiun Noborito jam 7:30 malam. Alhasil saya hanya punya waktu satu jam untuk menikmati Museum. Ah sial.

Source: fujiko-museum.com

Nama sebenarnya adalah Museum Fujiko F. Fujio tapi lebih mudahnya saya menyebut Museum Doraemon. Karena yang dipamerkan tidak melulu tentang Doraemon tapi hampir seluruh karya-karya beliau, memang yang paling tersohor ke seluruh dunia cuma Doraemon. Sebelum masuk ke ruang pameran pengunjung diberikan alat pendengar yang merupakan audio guide, tinggal tekan nomor yang diinginkan untuk mendengar penjelasan dari setiap item yang dipamerkan. Sayang dilarang memotret bagi pengunjung di ruang pameran tersebut. Rasanya sebuah pengalaman yang benar-benar istimewa bisa melihat artwork asli dari Fujiko F. Fujio. Saya nggak harus menuliskan siapa itu Fujiko F. Fujio kan? Tapi nama asli dari Mangaka (sebutan untuk Komikus Jepang) tersebut adalah Hiroshi Fujimoto.

Ruang Pameran.
Source : fujiko-museum.com Meja kerja Fujiko F. Fujio, ini saya ambil di website resmi karena tidak diperbolehkan memotret di area ini.
Source : fujiko-museum.com

Diburu waktu saya lanjutkan ke ruangan selanjutnya untuk melihat film, lagi-lagi saya dibuat kesal dan bego. Hampir semua penonton ketawa melihat film yang dipertontonkan tapi saya bengong dan bego nggak ngerti setiap dialog yang diucapkan. Tinggal ngasih subtitle di bawah apa susahnya sih huft. Film selesai kita mendapatkan kejutan. Layar bioskop naik ke atas dan tembok seperti terbelah, cara yang unik untuk keluar dari gedung bioskop.

Coretan gambar ini dijual 12.600 Yen, kalau dikurskan Rupiah berarti 1.289.695 Rupiah. WOW Nobita, Giant, Shizuka, Suneo dan temen-temennya yang dijual kepada pengunjung Pernik-pernik yang dijual, berhubung mahal jadi cukup puas hanya lihat saja hehe…

Yang paling saya tunggu-tunggu adalah ruangan outdoor di lantai dua, di sana ada diorama atau patung benda-benda yang sering muncul dalam komik dan animasi karya Fujiko F. Fujio. Sayang waktu itu sudah gelap jadinya foto yang saya ambil juga seadanya. Ditambah petugas yang sudah teriak-teriak bahwa museum akan tutup.

Source : fujiko-museum.com

Bandingkan dengan jepretan saya yang malam hari

Secara pribadi sih bukan suatu keharusan untuk mengunjungi Museum Doraemon, dikarenakan harga tiketnya yang mahal dan juga suguhan museumnya tidak begitu wow, hanya gambar-gambar artwork serta sejarah Fujiko F. Fujio saja. Tapi diwajibkan bagi siapapun yang suka dan cinta mati dengan Manga, karena melihat secara langsung goresan tangan sang Mangaka memberikan perasaan bangga tersendiri. Kalau saya di antara tengah-tengah hal tersebut, antara pilihan ingin menghemat uang karena tiket masuknya mahal dan juga ingin menuntaskan rasa penasaran akan Museum Doraemon. Dulu waktu saya masih sekolah selalu bawa komik Jepang dalam tumpukan buku pelajaran saya hehe. Koleksi komik saya di rumah pun lumayan banyak, meski banyak yang hilang karena dipinjam nggak kembali. Jadi mengunjungi Museum Doraemon bagi saya adalah suatu keharusan.

Senangnya bisa mencoba Dokodemo Door atau Pintu Kemana Saja, andaikan benar-benar ada di dunia ini mungkin traveling akan jadi semakin mudah hehehe.

 

Happy traveling…

63 COMMENTS

  1. asem baru tau ada museum nobita doraemon
    mahal juga ya naik bis pengantarnya aja pp 400yen
    biarpun harusnya lo beli pernak perniknya tu lid :p

  2. Sama spt Helga, saya juga baru tau ada museum doraemon. Untungnya kamu masih diperbolehkan masuk museumnya. Klo telat rugi banget ya. Isi museumnya sangat menarik, bisa lihat langsung yg selama ini cuma kita liat di filmnya. Ah seadainya ada pintu kemana saja, mau langsung ke museumnya :D.

  3. Ooooh jadi ada ya museum doraemon? Baru tau, wkwkwk…
    Andai aja kalo masuk museum itu gratis, kan asik.
    Ya minimal pake pintu kemana sajanya doraemon, hahahah…. 😆
    Tapi biaya hidup di Jepang emang mahal2 kan?

    • nggak ada yg gratis klo urusan museum di Jepang, secara disana dikemas secara apik 🙂 beda klo museum di sini ya ditelantarkan haha…

      mahal sih, sekali makan paling murah 38rb rupiah 🙁

  4. masa kecil sering nonton doraemon di minggu pagi. Udah gede skrg si doraemon di museumkan dan do komersilkan, nilai bisnisnya jalan 😀

  5. Sangat KEREN ALID. Pengen nyobain Pintu AJAIB tuk keliling tempat terindah di Planet BUMI…. Serasa pengen kembali ke masa itu

  6. Wahh seandainya punya duit, aku ajak anak2 ke museum Doraemon. kayaknya memang seru ya? Ruaar biasa emang org Japan, dari manga sampe ada museumnya. Kayaknya di Indonesia perlu tuh museum si Unyil hahaha….

  7. aaaak museumnya keren banget. sayangnya waktu gw di sana gak sempat ke museum ini. wahihihi.

    gapapa bro, kadang niat backpacking irit suka buyar kalo badan udah capek dan akhirnya justru menyerah naik transportasi yg lebih nyaman atau kalap makan *eh itu sih gue ya?* :p

  8. Ah keren amat perjalanan ke Jepang-mu kemarin, Mas.
    Sungguh enak ya, dulu liat doraemon cuma di rcti, lha Mas Abdul bisa liat langsung aslinya di negeri sakura.

  9. Wah si brother yang satu ini sering jalan-jalan ke luar negeri ya. Kalo ente ke Jepang lagi, saya pesan baling-baling bambu ya hehehe 😛

  10. Waduuh pinginnya bisa ke sini. Btw gambar yang dijual sejuta lebih itu dari komiknya Esper Mami. Sebagai penggemar Fujiko F. Fujio. wajib banget ya ke sini *mupeng*

  11. enak pas belinya ada yang bantuin,,, aku kemaren terbengong bengong liat mesin di lawson pake hiragana, katakana, kanji, No english! *muntah* untung dibantuin sama mas – mas lawson yang bisa english dikit ckckc

  12. Waaa,,,kenapa aku baru tau ya kalo ada museum Doraemon d dkt2 Tokyo?? Waktu ke sana -dalam waktu yg cukup lama, 6 minggu- ak nanya ke org2 ga ada yg tau..
    Ngiri deh….
    Mari kita ke Jepang lagi #eh
    Btw, salam kenal yaa…

  13. Doraemon salah satu kartun yang melegenda, dari dulu hingga sekarang. sangat pantas kalau ada museum khusus doraemon di Jepang
    trims sharingnya

Leave a Reply