Terjebak di Kathmandu

41

Fast reader silahkan pergi! Dibaca normal hanya butuh 4 menit dari hidupmu.

Hujan deras di Kathmandu memaksa saya berteduh di sebuah rumah makan. Padahal jarak ke hostel tempat saya menginap kurang beberapa puluh meter lagi. Mau nggak mau saya terpaksa memesan makanan sembari menunggu hujan reda. Melihat gambar makanan di menu sepertinya enak. Nyatanya mi goreng dan momo (dumpling khas Nepal) yang saya pesan rasanya amburadul tidak karuan.

Hujan nggak sepenuhnya reda, saya memaksakan diri untuk menerobos. Ah hujan air saja takut, belum juga hujan batu, ngarepnya sih hujan duit. Untungnya hujan benar-benar reda setelah beberapa meter meninggalkan restoran. Sialnya jalan yang harus saya lewati banjir setinggi mata kaki akibat hujan tadi. Otomatis saya harus cari jalan alternatif. Kawasan Thamel tempat saya menginap mirip pasar dengan gang-gang kecil dan toko-toko outdoor maupun souvenir. Selalu ramai dan mirip labirin saking luasnya. Saya sudah beberapa kali tersesat di Thamel. Jika saya memutar jalan sudah dipastikan saya bakalan tersesat.

Nggak ada pilihan lain saya harus memutar jalan. Saya belok kanan mengikuti insting. Dan ternyata banjir juga setelah. Masuk gang lain mengikuti insting demi menghindari banjir. Anjay malah banjirnya lebih tinggi dari yang tadi. Dengan terpaksa akhirnya saya lepas alas kaki mengikuti orang-orang dan memanjat pagar atau apapun yang lebih tinggi demi menghindari susu coklat yang memenuhi jalan. Kalau kena bencana seperti ini rasanya manusia lebih bersimpati dan berempati satu sama lain. Kami saling membantu berpegangan untuk memanjat. Ada bule yang memegangi sepatu saya. Saya juga membantu yang lain untuk memanjat juga. Dari sejak awal saya menginjakkan kaki di negeri seribu kuil ini selalu saja ada drama. Jangan dipikir drama banjir adalah drama terakhir. Masih ada jackpot yang lebih wow lagi.

Setelah bersusah payah melewati banjir dan sedikit tersesat, akhirnya saya sampai juga di hostel. Malam itu adalah malam terakhir saya di Kathmandu. Dalam sejarah saya jalan-jalan, saya sudah kenyang keluar masuk hostel bertipe dormitory. Mulai dari yang murah banget, sampai yang mahalnya kebangetan. Dari yang bagus banget sampai yang busuk banget. Hostel di Kathmandu ini termasuk golongan yang busuk banget. Orang Jawa bilang “ono rego ono rupo” yang berarti bagusnya suatu barang pasti tergantung harganya.

Murah sih memang, hanya 60 ribu rupiah untuk dua malam. Namun kamarnya amburadul berantakan berserakan tas keril segede gaban. Bau busuk sepatu bule-bule menyengat hidung. Belum lagi kamar mandinya ikut-ikutan banjir kayak di jalanan Thamel. Jijik banget. Niatnya mau pindah hostel, tetapi sudah missqueen. Duit sudah tipis, hanya cukup untuk beberapa kali makan dan naik taksi ke bandara saja. Jadi saya bertahan, toh hanya dua malam saja di sini. Mana di kamar nggak disediakan colokan listrik untuk ngecas gadget, harus di lantai paling atas, di kafenya.

Pesawat saya pukul 12 siang dan sejak pagi saya sudah siap-siap untuk persiapan pulang. Ritual pagi dan mandi otomatis jadi prioritas saya pagi itu. Tanpa rasa berdosa saya nongkrong di toilet dan ketika merasa sudah membuang semua dosa-dosa di perut, saya siap-siap cebok. Dan malapetaka terjadi, air nggak keluar. Jancok! Dengan kepetnya saya turun ke resepsionis di bawah dan protes. “Sorry the water man is late”. Usut punya usut ternyata mereka tidak memakai pompa air sendiri, melainkan beli air yang diisikan ke tandon. Ketika saya tanya kapan airnya datang, dijawab lempeng “I dunno, just wait!” Saya ke kamar mengambil persediaan botol air mineral, isinya cukup buat cebok dibantu tisu basah. Dengan sangat terpaksa dosa-dosa saya biarkan terongok di lubang durjana tanpa disiram.

Berkali-kali saya naik turun menanyakan kapan airnya datang, hampir dua jam lebih saya menunggu. Saya harus segera ke bandara. Dengan sangat terpaksa akhirnya sisa tisu basah saya oleskan ke badan dan ke muka. Deodorant saya usapkan beberapa kali ke ketek. Dan minyak wangi saya semprotkan ke badan banyak-banyak sampai saya pusing sendiri. Meski nggak mandi, saya harus tetap ganteng dan wangi menuju bandara.

Saya check out sambil mengumpat, dalam hati tapi. Saya jalan ke jalanan utama untuk nyari taksi ke bandara. Jalanan sangat lengang, perasaan kemarin jam segini ramai banget. Nggak terlihat motor atau mobil di jalan raya. Hanya beberapa manusia berjalan kaki yang terlihat. Kontras sekali dengan pemandangan sehari-hari yang selalu padat. Toko-toko di Thamel juga tutup. Ke mana semua orang? Saya samperin pos polisi dan mendapati jawaban “Today is election day. Car, taxi, and bus is not allowed to operate”. Wadehel. Terkuak sudah kenapa tukang air nggak datang ke hostel, mereka libur. Dan drama kamar mandi ternyata bukan drama terakhir. Jadi gimana saya bisa sampai ke bandara oncoooooooooooooom. Polisi yang saya tanya hanya bisa mengangkat pundaknya, menandakan dia tidak tahu dan tidak mau menolong. Bangkeeeeeeeeee.

Saya keringat dingin dan deg-degan, nggak lucu jika saya ketinggalan pesawat. Nggak ada orang yang bisa dimintain tolong. Saya capek berjalan ke sana ke mari. Pesawat saya kurang 3-4 jam lagi berangkat. Saya benar-benar terjebak di Kathmandu. Di tengah keputusasaan saya melihat mobil polisi parkir di pinggir jalan. Ah siapa tahu bapak polisinya baik dan mau ngasih tumpangan ke bandara. Beuh ngarep.

Saya jelaskan kondisi saya dan mendapatkan jawaban yang sungguh melegakan. “You go to this police station, they provide emergency shuttle bus to the airport”. Heeeeeeeeeeeeeh lah polisi di pos tadi kenapa kok nggak ngasih tahu hal begini? Saya sudah capek mondar-mandir, mana belum mandi. Resepsionis hotel juga kenapa nggak ngasih tahu kalau hari ini ada pemilu. Sungguh asyuuuuuuuh sekali.

Setelah mengucapkan terima kasih saya memacu langkah kaki ke pos polisi yang di maksud. Saya nggak lihat kantor polisinya, tetapi banyak turis asing di samping bus besar dengan koper berbagai ukuran. Ini pasti bus daruratnya. Setelah membayar saya duduk ganteng sambil menenangkan diri di kursi dekat jendela. Bus perlahan meninggalkan pusat kota Kathmandu menuju bandara. Nepal benar-benar gila. Selamat tinggal Nepal, saya pasti akan kembali lagi untuk balas dendam.

Happy traveling!

41 COMMENTS

  1. Alhamdulillah waktu ke Nepal lancar dan nggak ngeness koyok dirimu. Hahahaha

    ngenesku cuma nang sarangkot tok, kabut kabeh, ra ketok salju e Blass. Sarangkot rasa lembang.
    Mbalik maneh, pingin balas dendam

  2. Hahahah syukurnya bisa balik dan gak ada drama ketinggalan pesawat ya πŸ˜†
    Tapi sampai segitunya ya saking mau pemilu sampai gak boleh ada kendaraan pribadi maupun umum yang boleh mondar mandir di jalanan. Weleh weleh…

  3. Kenapa yaaa tiap baca pengalamanmu yg sial2, itu bikin aku rada takut jdnya mau kesana hahahaha.. Duuuh, yg bagian toilet ga ada air itu, beneran ga kebayang hahahahahahahaha… Dramahnya berturut2 pulaa :p

    • Yakali maaaakkkk, aku kan solo nyari susah karena duit mepet haha. Lha kalau sampeyan pasti sama keluarga dan pasti cari yang nyaman. Tiap pejalan ceritanya berbeda-beda πŸ™‚

  4. Oalah Lid. Waktu itu kesana bulan apa sih? Pantesan waktu itu dirimu bilang, pengalamanmu dengan Nepal agak kurang menyenangkan hehehe. Tapi aku suka sih baca tulisanmu ini, jadi bisa lihat Thamel di masa-masa tak menyenangkannya. Dan kayanya agak-agak gimana gitu lihat jalanan Kathmandu yang sepi macam itu.

    Nanti kalau balik lagi pas musim gugur, awal musim dingin, atau awal musim semi yaaa. Supaya dapat cerita dan pengalaman yang lebih baik. Bulan Oktober November, atau April Mei lah perkiraannya πŸ™‚

  5. Balas dendam model apa yang akan dilakukan Lid? hahaha.
    Sungguh asyuuu emang polisi pertama. Dan, kocak aja gegara pemilu sampe taksi gak boleh operasi. Emang pemili di sana berapa lama orang di balik bilik suara? haha.

    Btw, apa nama hostelnya, penasaran euy.

    • Balas dendam mau ke nanjak Himalaya hahahahaha. Bukan hanya taksi, semua kendaraan gak boleh baik umum dan pribadi. Rawan kerusuhan sih yang aku tangkap maksudnya hahaha. Klo gak salah ingat nama hostelnya monkey-monkey apa gitu.

  6. oalah jadi inget pengalaman nginep di salah satu hostel, udah sengaja bangun pagi biar nggak keduluan teman sekamar soalnya tiap pagi kudu buang hajat eh giliran udah lega ternyata airnya zonk mungkin pengelolanya baru bangun dan baru ngisi tandon air. terpaksalah jalan ngangkang nyari botol air mineral buat cebok dan sisanya buat nyiram sekenanya saja, langsung dah itu kloset aku tutup dan tak tinggal tidur lagi wkwkwk

Leave a Reply