Wayang Potehi Bertahan di Jombang

55

Fast reader silahkan pergi! Dibaca normal hanya butuh 5 menit dari hidupmu.

“Ayo mas silahkan, masuk saja! Ayo langsung makan! Seadanya.” Ibu pengurus Kelenteng Hong San Kiong di Gudo, Jombang, dengan ramah mempersilahkan saya dan teman masuk ke ruang makan. Loh kami tidak mengenal satu sama lain tiba-tiba disuruh makan, tentu saja saya tidak menolak rezeki. Saat itu memang masih suasana Imlek sehingga banyak pengunjung yang datang dari luar kota Jombang. Jadi mungkin hidangan yang dipersiapkan diperuntukkan untuk tamu yang datang. Ini kedua kalinya saya ke Kelenteng yang telah berdiri sejak abad ke-17. Kunjungan pertama dulu tidak berarti apa-apa, hanya sekedar masuk, lihat sebentar dan pulang. Kunjungan kedua saya berniat untuk tahu lebih lanjut tentang seni wayang potehi setelah mendengar beritanya kalau seni wayang potehi di Gudo ini sudah Go Internasional dan disebut-sebut sebagai pusat seni wayang potehi di Indonesia. Siapa yang nggak bangga di tanah kelahiran saya, Jombang, ada budaya peranakan Tionghoa yang bertahan hingga sekarang dan berprestasi hingga ke mancanegara.

Klenteng Hong San Kiong Gudo

Dalam dialek Hokkien Potehi berarti Poo (kain), Tay (kantong), Hie (wayang). Secara harfiah berarti wayang atau boneka yang berbentuk kantong kain. Konon seni Wayang Potehi sudah berumur sekitar 3000 tahun. Legenda mengatakan dahulu kala ada lima sekawan yang dipenjara dan menunggu eksekusi mati. Untuk menghibur diri menunggu ajal mereka menggunakan perkakas yang ada di penjara dan mulai ditabuh membentuk irama musik untuk mengiringi permainan wayang. Musik yang ditabuh terdengar keluar hingga ke telinga kaisar. Akhir cerita lima sekawan tersebut dibebaskan dari hukuman mati dan diangkat sebagai penghibur kerajaan.

Klenteng Hong San Kiong Gudo

“Kebetulan ada Pak Toni Harsono di sini, beliau Ketua Yayasan Fu He An Indonesia, ngobrol-ngobrol saja sama orangnya langsung kalau mau tahu potehi.” Saya segera menghabiskan sepiring nasi sayur asem lauk tahu tempe goreng dan ikan asin begitu diberitahu ibu pengurus kalau ada dedengkotnya potehi di situ. Setelah bersalaman dan mengenalkan diri, pak Toni mengajak mojok ke tempat pembuatan wayang potehi yang kebetulan saat itu ada yang bekerja.

Sambil melihat pembuatan wayang potehi, Pak Toni mulai bercerita bagaimana beliau memulai membangkitkan seni bercerita menggunakan media boneka dari Tiongkok yang telah lama mati suri di Indonesia. Akhir tahun 70an hingga 90an memang merupakan masa suram bagi orang Tionghoa di Indonesia akibat adanya Inpres No. 14 Tahun 1967 yang melarang agama, kepercayaan dan adat istiadat Tiongkok di Indonesia yang berpusat pada negeri leluhurnya, termasuk perayaan Hari Raya Imlek dan pertunjukkan Wayang Potehi.

Tapi begitu larangan tersebut dicabut pada masa kepresidenan Gus Dur membawa angin segar bagi pelaku kesenian potehi di Indonesia untuk mengembangkan kembali kesenian yang sempat terabaikan selama tiga dekade. Pak Toni mengumpulkan dalang atau sehu dari berbagai kota seperti Jombang sendiri, Semarang, Kediri, Tuban, Tulungagung, untuk bekerja sama membangkitkan seni wayang potehi.

“Kakek saya dalang, ayah saya juga dalang, saya sejak kecil akrab dengan potehi dan tidak ingin kesenian ini hilang tanpa jejak.” Salah satu upaya Pak Toni untuk membangkitkan potehi adalah ngamen dari Kelenteng ke Kelenteng di berbagai kota untuk memperkenalkan kesenian tersebut ke generasi muda. Tidak hanya itu, beliau juga meminjamkan properti potehi dari mulai boneka, panggung, alat musik, dan lain sebagainya secara gratis kepada dalang. Bahkan Pak Toni menitipkan properti tersebut di beberapa Kelenteng-kelenteng di kota-kota besar seperti Jakarta sehingga sehu atau dalang yang dapat tanggapan dan ingin meminjam tidak perlu jauh-jauh datang ke Jombang. Irit dari segi logistik dan properti tersebut bermanfaat mendatangkan penghasilan kepada sehu. Perlu diketahui untuk satu set properti potehi harganya bisa mencapai ratusan juta rupiah. Kelenteng Gudo pun menyediakan fasilitas gratis bagi siapapun yang ingin belajar mendalang, main musik, dan membuat boneka potehi.

Boneka Potehi dengan Tokoh Julius Caesar

Saat ini Kelenteng Hong San Kiong juga menjadi pusat pembuatan Wayang Potehi, banyak pesanan dari luar kota dan luar negeri. Pak Toni sampai bepergian ke Tiongkok untuk belajar bentuk asli boneka potehi tapi harus kecewa karena bentuk boneka potehi di Tiongkok sudah tidak sesuai aslinya. Tokoh dewa, jenderal perang, dan raja sudah banyak perubahan tidak sesuai pakem. Meskipun kaku dalam menerapkan pakem tapi Pak Toni tidak menolak ketika ada pesanan boneka potehi dengan tema tertentu yang bukan budaya Tiongkok misalnya boneka potehi Sinterklas atau Julius Caesar. “Ya kalau ceritanya berdasarkan dongeng atau cerita Tiongkok harus sesuai pakem baik warna baju, mimik, dan posturnya. Jangan diubah!” Tegas Pak Toni.

Untuk pementasan Wayang Potehi tidak cukup hanya satu hari saja, untuk satu judul cerita saja bisa selesai dalam 3-4 bulan, dan sekali penampilan durasinya dua jam. Duh berasa nonton sinetron di televisi yang bersambung nggak selesai-selesai. “Kalau dulu dialognya pakai Hokkien atau Mandarin, sekarang ya campur pakai Bahasa Indonesia juga. Menyesuaikan.” Terang Pak Widodo salah satu dalang yang kebetulan berada di situ.

Kebanyakan cerita wayang potehi diambil dari legenda klasik Tiongkok seperti Sie Djin Koei Tjeng Tang, Loo Thong Sauw Pak, Sie Kong, Hong Kiam Cun Ciu, Poei Sie Giok,  Ong Kiau Li Tan, Cun Hun Cauw Kok, dan lain sebagainya. Sumpah saya nggak paham satupun cerita-cerita tersebut. Atau yang lebih modern dan populer mementaskan cerita Sun Go Kong atau Kera Sakti, cerita tersebut familiar di kalangan generasi muda karena serialnya di televisi begitu terkenal. Durasinya pun sekarang lebih pendek dan disingkat tanpa mengurangi esensi cerita agar penonton tidak bosan. Di bawah naungan Yayasan Fu He An, Pak Purwanto sudah mendalang ke berbagai tempat di Indonesia dan juga luar negeri seperti di Jepang, Taiwan, dan Tiongkok sendiri.

Panggung Potehi yang Harganya Ratusan Juta

“Mementaskan potehi juga merupakan persembahan kepada dewa, potehi mengajarkan kita sifat-sifat akhlak mulia serta budi pekerti yang luhur.” Terang Pak Toni. Sangat disayangkan beberapa Kelenteng tidak menanggap pentas wayang potehi dalam acara ritualnya. Mengundang artis penyanyi atau menggelar karaoke yang tidak ada hubungannya dengan tradisi Tionghoa lebih menarik bagi mereka.

Keinginan besar Pak Toni saat ini adalah membangun museum potehi di Kelenteng Hong San Kiong. Museum itu sedianya akan memamerkan ratusan wayang potehi berusia 100 tahun lebih peninggalan kakeknya. Dan diharapkan menjadi pusat kesenian, sehingga karawitan dan kesenian tradisional lainnya bisa dipentaskan di museum ini nantinya.

Klenteng Hong San Kiong Gudo

Jujur saya sendiri belum pernah menyaksikan Wayang Potehi secara langsung, hanya melihat dari video di Youtube saja. Padahal di Jombang di Kelenteng Hok Liong Kiong mempunyai jadwal tetap untuk pementasan Wayang Potehi. Apa kalian sudah pernah nonton Wayang Potehi?

Dengan Pak Toni Harsono

Tulisan ini diikutkan dalam lomba Festival Imlek Indonesia

55 COMMENTS

  1. Wah wah wah baru tahu ada wayang model begini. Beneran unik! Rasanya pingin punya 1 buat souvenir hahaha. Good luck Alid, feelingku bagus nih.

  2. wih, menarik juga ya Jombang punya wayang yang sudah ada sejak ribuan tahun. Wah, makam Gus Dur pasti g hanya sesak sama umat muslim. tapi jg orang Tionghoa Jombang, kalau ada acara makan gratis kok kamu seneng bukan main e mas?
    Sukses yo lombane. Pesanku, jangan sampai tulisan ini menang. haha

  3. Eh keren banget, ini bagi saya bukan sekadar melestarikan budaya. Mereka melestarikan sebagaimana aslinya dulu. Kagum dengan bagaimana Pak Toni masih mempertahankan pakem bahkan lebih daripada daerah asalnya. Biasanya memang banyaknya pengaruh luar serta keterbatasan mengakibatkan kesenian sedikit demi sedikit berubah. Bagus sih sebagai bentuk adaptasi tapi saya kadang kurang senang juga karena kemurniannya jadi agak lewat. Kalau saya jalan-jalan lama di Jombang, ajak ke sini juga ya Mas! Hehe. Ya siapa tahu bisa makan gratis terus nonton pertunjukan gratis. Saya penasaran dengan lakon cerita yang sampai kemari, apa ada gejala-gejala yang bisa diamati atau tidak.

    Akhir kata, semoga berhasil dengan kompetisinya.

  4. hmm… *sengaja dilama-lamian* biar ga disangka fast reader

    Btw seumur-umur saya cuma taunya wayang golek aja, ternyata ada wayang jenis lain bernama wayang potehi, unik banget itu wayangnya bisa di bawa pulang gak? (dibeli/ diminta)

    gudluck buat lombanya ya kak Alid *kedip-kedip*

  5. Wah ternyata banyak yang saya belum jamah.
    Kapan-kapan mampir Jombang ah kalo ada agenda ke Kertosono dalam waktu lama

    Sukses lombanya!

Leave a Reply